
Nayara akhirnya kembali pulang ke rumah mertuanya setelah mendengarkan penjelasan dari Randy. Ternyata, dirinya hanya salah paham. Abrisam sama sekali tidak pernah menemui Aura apalagi masih mencintainya. Justru Aura lah yang masih mengejar cinta suaminya. Pertemuan di food court itu hanyalah kebetulan dan dia tidak sendirian di sana, ada temannya Rafael. Ketika bertemu kembali, Aura terpesona dengan ketampanan Abrisam seperti pertama kali mereka bertemu.
'Dasar, wanita tidak tau diri. Ketika orangnya lagi dapat musibah, dia pergi begitu saja. Giliran orangnya udah gagah dan sehat lagi, dia mau enak saja ngajak balikan' gerutu hati Nayara.
Nayara tidak mampir dulu ke rumah mertuanya. Tetapi dia langsung ke rumah sakit untuk membesuk Abrisam. Nayara begitu khawatir dan cemas sambil menyusuri koridor rumah sakit. Tiba di kamar pasien, Nayara menatap sendu wajah suaminya yang tampak tirus dan pucat. Nayara jadi merasa bersalah kepada Abrisam karena penyebab suaminya sakit itu adalah dirinya.
"Kenapa bisa begini? Apa Mas Bri, salah makan?," tanya Nayara pelan karena suaminya sedang tidur setelah memuntahkan makan siangnya tadi.
"Dokter juga tidak tahu. Tuan Bri tidak ada masalah lambung atau pencernaannya. Semuanya normal," jawab Randy.
Nayara mengeryitkan dahinya. Dia merasa heran. Randy lalu meninggalkan mereka berdua di kamar inap Abrisam.
"Mas," Nayara menggenggam tangan suaminya. Hangat.
"Maafkan aku," lanjut Nayara sedih melihat kondisi suaminya seperti itu.
Matanya yang sedari tadi sudah berkaca-kaca melihat kondisi suaminya. Kini mengalir tidak tertahankan lagi.
Abrisam terjaga ketika merasakan tangannya basah karena tetesan air mata Nayara. Dia melihat Nayara duduk di sampingnya berlinang air mata.
"Nay," panggil Abrisam dengan suara lemah.
"Iya, Mas. Ini aku," tatap Nayara iba.
Suaminya yang gagah itu kini terbaring lemah tak berdaya.
"Aku tidak sedang bermimpi, kan?" tanya Abrisam tidak yakin melihat istrinya ada di sampingnya.
"Nggak, Mas tidak bermimpi. Ini kenyataan," jawab Nayara.
"Kamu nggak akan pergi lagi, kan? Kamu janji nggak akan meninggalkan aku, kan?," tanya Abrisam lagi.
Nayara mengangguk, jawaban itu membuat hati Abrisam menjadi tenang.
"Maafin aku, Mas. Aku benar-benar bodoh. Kenapa aku tidak bisa merasakan kalau Mas sangat mencintai aku?," isak Nayara.
"Karena selama ini, aku merasa tidak pantas mendampingi Mas Bri yang begitu sempurna," lanjut Nayara.
"Nay, aku bisa seperti itu karena kamu. Tanpa ada kamu di sisi ku, mungkin aku tetap akan menjadi laki-laki tidak berguna. Laki-laki yang terus meratapi ketidaksempurnaannya," balas Abrisam tersenyum.
Hati Nayara menjadi tenang mendengarkan kejujuran suaminya.
"Mas, lapar tidak?" tanya Nayara. Dia ingat ucapan Randy kalau suaminya sudah memuntahkan makan siangnya.
Abrisam mengangguk. "Tapi kamu suapin, ya," pinta Abrisam.
"Iya. Kok, jadi manja," gumam Nayara tersenyum geli.
"Namanya juga lagi sakit. Yang buat sakit begini karena ulah siapa coba," sindir Abrisam menatap Nayara.
"Kok, menyalahkan aku," Nayara lalu mengerucutkan bibirnya.
"Mas tidak menyalahkan tapi hanya mengingatkan," balas Abrisam.
Nayara lalu menyuapkan nasi ke mulut Abrisam. "Makan yang banyak Mas supaya cepat sembuh," ucap Nayara.
"Makan banyak sih mau. Tapi perutnya ini yang tidak terima," ujar Abrisam.
Abrisam juga heran. Mualnya itu yang tidak tahan. Perut rasanya seperti diaduk-aduk.