A Marriage

A Marriage
Part 16: Hapus



Nadia masih belum terima Om gantengnya menikahi gadis yang usianya lebih muda darinya. Bayangkan saja, dia sekarang sudah semester enam sementara istri Om-nya itu baru semester awal. 


"Sepertinya wanita itu yang menjebak Om-ku sehingga Om mau menikahinya. Jangan-jangan dia hamil duluan makanya Om menikahinya. Pura-pura pakai jilbab segala" pikir Nadia tentang Sabiya yang belum dia ketahui secara detil informasinya karena kadung tidak suka Om-nya menikah dengan gadis bau kencur seperti Sabiya.


Nadia beranjak dari kamar kostannya. Dia ingin menemui Tante kecilnya itu. Nadia membawa mobilnya menuju ke kampus Sabiya. Gadis cantik itu menjadi pusat perhatian mahasiswa ketika dia keluar dari mobilnya.


"Wow, ada cewek cantik, tuh" bisik seorang mahasiswa yang duduk nongkrong di tepi jalan kampus.


Nadia melenggang sambil tersenyum karena merasa sedang diperhatikan oleh para mahasiswa.


"Hai, kalian tahu dengan mahasiswi yang bernama Sabiya?" sapa Nadia ramah sambil bertanya dengan salah satu mahasiswa.


"Oh, Biya. Itu di sana ... mereka biasanya duduk di taman dekat musholla" tunjuk mahal tersebut.


"Oke. Thanks, ya" ucap Nadia tersenyum kemudian melenggang lagi menuju ke tempat yang dimaksud mahasiswa tersebut.


"Ssst... Siapa tuh?" bisik Irma melihat seorang gadis menghampiri mereka.


"Bukannya dia, gadis yang kita lihat di mall waktu itu" balas Suci sambil berbisik juga.


"Keponakan Om Bara!" seru Elsa dengan nada pelan.


Sabiya melihat Nadia menghampiri mereka. Dia tidak tahu apa maksud Nadia datang ke kampusnya.


"Aku mau bicara" ujar Nadia menatap Sabiya.


Sabiya melirik teman-temannya seolah meminta persetujuan. Elsa mengedipkan matanya tanda setuju. Jika terjadi sesuatu dia siap untuk menolong Sabiya.


"Mau bicara apa sampai kamu harus menemuiku di kampus?" tanya Sabiya.


"Dengar, ya. Aku tidak tahu apa alasan Om-ku mau menikah kamu. Kamu pasti sudah menjebak Om-ku. Iya, kan?" tatap Nadia menuduh Sabiya.


"Astaghfirullah. Tidak ada niat seperti itu, Nad" ucap Sabiya terkejut dengan tuduhan dari keponakan suaminya itu.


"Dengar, ya. Om-ku itu tidak mungkin menyukai wanita bau kencur seperti kamu. Selera Om-ku juga nggak seperti kamu" cibir Nadia dengan tatapan sinis.


"Om Bara pasti sudah gila" gumam Nadia.


"Kenapa tidak kamu tanyakan sendiri dengan Om kamu itu? Kalau aku yang menjelaskan juga kamu pasti tidak akan percaya. Jadi tanyakan langsung dengan dia" ujar Sabiya memberikan saran kepada Nadia.


"Walaupun kamu sudah menjadi istri Om-ku, jangan harap aku mau mengakui kamu sebagai tanteku" tegas Nadia. Gadis itu kemudian membalikkan badannya dan meninggalkan Sabiya.


Nadia mengeram dengan kesal setelah berada di dalam mobilnya. "Pantas saja Om Bara tidak peduli lagi denganku, rupanya sudah ada perempuan itu" oceh Nadia sambil menjalankan mobilnya meninggalkan area kampus Sabiya.


"Jadi dia tidak terima kalau Om Bara menikah dengan kamu" ujar suci setelah mendengarkan cerita Sabiya. Sabiya hanya mengangguk.


"Gadis aneh!" seru Elsa tidak suka dengan Nadia.


"Iya. Emangnya dia apa yang mau mengatur jodoh Om-nya" timpal Irma.


"Biya, kamu harus hati-hati. Sepertinya Nadia itu tidak rela Om-nya menikah dengan kamu" ujar Suci.


"Iya, dari awal bertemu saja sikapnya sudah angkuh" ucap Sabiya mengerti. Dia akan selalu waspada.