
Setelah pulang dari rumah sakit kondisi Abrisam sudah fit kembali. Tapi herannya mual dan muntah-muntahnya masih saja dia rasakan. Seperti wanita hamil saja. Setiap mencium bau yang aneh-aneh Abrisam mulai mual-mual.
"Mas, sebaiknya nggak usah ke kantor dulu" ujar Nayara melihat suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Memang belum" Abrisam berjalan mendekati istrinya dengan tatapan yang membuat jantung Nayara dag dig dug.
"Nay" panggil Abrisam yang kini tepat berada di hadapan Nayara. Nayara hanya mendongakkan kepala melihat wajah Abrisam.
"Apa yang membuat mu ragu, kalau Mas mencintai mu?" tanya Abrisam menatap lekat manik Nayara.
Abrisam sadar kalau dia memang belum pernah menyatakan perasaannya secara langsung dengan Nayara. Baginya ucapan itu tidak penting. Nayara hanya membisu tidak menanggapi pertanyaan suaminya.
"Apa karena Mas tidak pernah mengucapkan kata 'I love you' kepada mu, lantas kamu berpikir kalau Mas tidak mencintai mu?" tanya Abrisam lagi.
Nayara menunduk malu. Dia terlalu naif. Hanya karena tidak ada ucapan cinta itu rumah tangganya hampir saja berantakan.
"Bagaimana aku bisa percaya, Mas. Wanita itu dengan yakinnya kalau Mas dan dia masih saling mencintai" ujar Nayara cemberut. "Sementara Mas tidak pernah mengucapakan kata cinta itu. Wajar kalau aku percaya, kan" lanjut Nayara.
Abrisam tersenyum lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Nayara.
"Apa itu penting?" tanya Abrisam.
Nayara pun melingkarkan kedua tangan di tengkuk Abrisam. "Tentu saja" ujarnya tersenyum menatap manik suaminya.
"Aku mencintai mu. Sangat mencintai mu. Di hati ku tidak ada wanita lain selain kamu" ucap Abrisam mencium mesra bibir Nayara lalu menatap Nayara.
"Beneran, Mas nggak bohong, kan?" canda Nayara tersenyum geli.
"Kamu itu, ya" tatap Abrisam geram lalu mengangkat badan Nayara.
"Aku menginginkan kamu" bisik Abrisam tersenyum nakal lalu mengedipkan matanya.
Nayara tersenyum geli karena kode cinta yang diberikan oleh suaminya itu dan dia dengan senang hati menyambutnya.
***
Di kamar
Nayara cukup lama memperhatikan kalender lalu menghitung dengan jari jemarinya. Nayara tersenyum lalu membalikkan badannya menghadap ke arah suaminya.
"Mas, kayaknya datang bulan ku bulan ini telat, deh" ucap Nayara sambil melihat kalender lagi.
"Iya, terus?" tanya Abrisam pura-pura tidak mengerti. Abrisam bersandar di kepala ranjang sambil membaca buku.
"Mas!!! Itu tandanya aku hamil" teriak Nayara kesal.
"Serius, Sayang. Kamu hamil?" tanya Abrisam tidak percaya lalu meletakkan buku bacaannya di atas ranjang.
"Kok, nggak ada ngidam-ngidam atau muntah-muntah kayak ibu hamil ?" tanya Abrisam lagi lalu berdiri mendekati Nayara yang masih melihat kalender.
Nayara menatap manik suaminya. Jangan-jangan mual-mual dan muntah suaminya yang tidak jelas penyebabnya itu lantaran dia hamil. Nayara lalu tertawa kecil.
"Kayaknya, suami ku tercinta ini yang mengalami ngidam karena istrinya sedang hamil" ujar Nayara menangkupkan kedua tangannya ke wajah tampan Abrisam.
Abrisam hanya nyengir kuda. Jika memang itu benar. Ya Tuhan, sampai berapa lama dia akan menanggung masa ngidam yang menyiksanya itu. Di sisi lain, hati Abrisam sangat bahagia karena Nayara telah mengandung buah cinta yang sudah mereka nantikan.
'Betapa bahagianya diri mu jika engkau menjadi begitu berarti bagi hidup orang lain terlebih lagi jika ia adalah pasangan mu sendiri'