A Marriage

A Marriage
Part 1



Alfian duduk di balik meja kerjanya sambil menelusuri nomor kontak sahabatnya, Bara Sandiaga. Sahabatnya yang hingga kini masih betah membujang. Entah apa alasannya hingga pria tampan itu belum juga menikah diusianya yang sudah kepala tiga. Anaknya saja tamat SMA dan sekarang Sabiya Awalina, lulus di perguruan tinggi negeri di kota yang sama dengan Bara.


"Apa aman, Pa menitipkan Biya dengan teman papa yang masih bujangan begitu?" tanya Alina, istrinya.


"Dia laki-laki baik, Ma. Jangan su'udzon begitu" jawab Alfian.


"Kalau dia memang pria yang baik kenapa sampai sekarang masih membujang?" tanya Alina lagi. Dia tahu dengan pria yang bernama Bara itu. Pria yang tampan dan mapan. Kurang apalagi coba. Kalau Alina kenal lebih dulu dengan Bara, mungkin dia sudah menikah dengan pria itu dibandingkan dengan suaminya sekarang. Mereka juga menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tua mereka setelah tamat SMA. Pernikahan yang dini sekali, kan.


"Maksud Papa, Biya lebih aman ngekost di rumah Bara daripada di kost-kostan yang tidak jelas begitu. Paling tidak ada orang lain yang akan mengawasi pergaulannya selama kuliah nanti" jelas Alfian. Dia sudah menemukan nomor kontak Bara yang disimpannya dengan nama si Perfect Bara. Pantas saja tidak ketemu-ketemu ketika dia telusuri.


Dia dan Bara berteman akrab sejak SMP. Mereka berpisah ketika masuk perguruan tinggi. Alfian merantau di kota tempat dia tinggal sekarang. Sementara Bara ikut pindah bersama orang tuanya di kota tempat anak gadisnya akan kuliah nanti. Pria itu memang perfectionist, mungkin itu yang menyebabkan dia belum mendapatkan jodoh juga.


Disela makan malam, Alfian memberitahu Sabiya, anak gadisnya bahwa besok dia akan diajak langsung ke tempat dia akan tinggal selama kuliah nanti.


"Jadi aku akan tinggal di rumah sahabat papa?" tanya Sabiya, gadis berjilbab itu sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Meskipun kedua orang tuanya tidak begitu paham agama, Sabiya berkeinginan menutup auratnya sejak diajak teman sebangkunya, Hanna ikut kegiatan rohis. Dari sanalah dia tahu bahwa menutup aurat itu kewajiban bagi setiap muslimah. Memang jilbabnya belum sepanjang Hanna, tapi dia tahu batasan-batasan dalam bergaul.


"Iya, rumahnya tidak jauh dari tempat Biya kuliah. Nanti papa fasilitasi motor di sana nanti" ujar Alfian memberitahu alasannya kenapa anaknya itu harus tinggal di sana.


"Nggak usah, Pa. Aku naik bis saja" tolak Sabiya.


Anak semata wayangnya itu memang selalu bersikap sederhana meskipun mereka termasuk keluarga menengah ke atas. Memang dia tidak memiliki perusahaan seperti sahabatnya itu. Tapi Alfian punya usaha percetakan yang sangat maju, selain itu profesi Alfian juga sebagai arsitek yang cukup ternama. Beberapa hotel baru di kotanya merupakan design darinya.


"Hari Senin nanti, Biya sudah mulai ke kampus, kan?" tanya Alfian.


"Iya, Pa. Hari Senin itu masa orientasi bagi mahasiswa baru" jawab Sabiya.


"Makanya besok Biya harus sudah berada di rumah Om Bara. Jadi nanti tidak terburu-buru ke kampus kalau besok Biya sudah di sana" jelas Alfian menghabiskan makan malamnya.


"Iya, Pa. Aku mau menyiapkan apa saja yang mau dibawa nanti" ujar Sabiya meletakkan sendok dan garpunya di piring. Gadis itu sudah selesai makan malam. Dia berdiri kemudian meninggalkan meja makan.


Di rumah Bara


Pria berparas tampan dengan postur tubuh bak seorang model itu menginstruksikan kepada maid di rumahnya untuk menyiapkan menu yang akan dihidangkan ketika menyambut sahabat lamanya itu.


Sudah lama dia tidak bertemu dengan Alfian. Terakhir kali bertemu, pria itu sudah memiliki anak perempuan yang berusia lima tahun. Pada saat itu usia Bara baru 21 tahun. Bayangkan sudah lama sekali, sekarang anaknya sudah berusia 18 tahun. Artinya sudah 13 tahun mereka sudah tidak bertemu secara langsung. Hanya lewat telpon saja sekedar bertanya kabar.


"Makanan besok harus enak. Siap kan juga cemil-cemilan yang enak" perintah Bara.


"Baik, Tuan" ucap Mia, maid yang sudah lama ikut Bara.


Wanita paruh baya itu sudah hapal betul dengan sifat anak majikannya. Mia sejak masih gadis sudah bekerja sebagai maid di rumah orang tua Bara, Pak Sandiaga Willy. Karena kedua orang tua Bara sekarang tinggal di luar kota mengurus perkebunan teh miliknya, kini dialah yang meneruskan perusahaan yang pernah dipimpin oleh papanya itu.


Bara kemudian mengambil kunci kontak mobilnya. Dia pergi menuju ke cafe tempat dia biasa berkumpul dengan teman-temannya sesama pengusaha.