A Marriage

A Marriage
Part 3



Hari pertama Sabiya di kampus berjalan dengan lancar. Dia mendapatkan seorang teman, namanya Elsa. Mereka ternyata berasal dari kota yang sama, hal itulah yang membuat keduanya menjadi akrab.


"Kamu ngekost di mana, El?" tanya Sabiya.


"Aku tinggal di rumah kakakku bersama istrinya. Mereka semua sibuk bekerja, aku juga kuliah kan. Jadi kami bertemu jika sudah malam" jawab Elsa sambil memilih ujung jilbabnya yang tidak begitu panjang.


"Oh, aku kira kamu ngekost" gumam Sabiya.


"Kamu sendiri tinggal di mana?" Elsa pun balik bertanya.


"Aku tinggal di rumah sahabat papaku. Rumahnya besar sekali, tidak jauh dari kampus, kok" jawab Sabiya.


"Lain kali kita saling mengunjungi rumah masing-masing, ya" usul Elsa. Sabiya mengangguk setuju. Paling juga ketika mereka mengerjakan tugas dari dosen, baru dia akan mengajak teman-temannya untuk datang ke rumah.


Sabiya dan Elsa pun berpisah. Perkuliahan belum dimulai. Sabiya tiba di rumah sudah agak siang.


"Sudah pulang, Non" sapa Pak Aman melihat Sabiya turun dari ojek.


"Iya, Pak. Perkuliahan belum mulai, masih orientasi mahasiswa baru" jelas Sabiya melewati pintu pagar yang sudah dibukakan oleh Pak Aman. "Aku masuk dulu, Pak."


"Iya, Non" Pak Aman menutup kembali pintu pagar besi itu. Diapun berjaga kembali di dalam pos.


Sabiya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya yang saling berhadapan dengan kamar Bara. Di antara kedua kamar terdapat balkon yang dilengkapi dengan sofa dan ayunan. Sabiya mengganti pakaiannya.


Beberapa bulan kemudian


Awalnya Sabiya merasa tidak betah tinggal di rumah Bara. Namun lama kelamaan dia pun menjadi terbiasa. Apalagi Bara bukan tipe orang yang cerewet. Hanya sesekali dia menelpon Sabiya ketika pulang kuliah sudah terlalu sore. Bara akan mengomelinya jika Sabiya tidak memberitahu alasan sebelumnya.


"Bik, Om Bara ada di mana?" tanya Sabiya kepada Mia karena sudah malam begini di belum melihat batang hidung pria tampan itu.


"Kalau nggak di kamar, Tuan Bara pasti ada di ruang kerjanya, Non" jawab Mia.


Sabiya sudah mengetuk pintu kamar Bara, namun tidak ada sahutan dari dalam. Itu artinya pria itu sedang berada di ruang kerjanya.


"Om Bara, apa tidak kesepian tinggal di rumah sebesar ini" gumam Sabiya sambil melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Bara yang berada di samping kamarnya.


Pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Sabiya masih bisa mengintip situasi di dalam ruangan dari balik pintu. Bara tampak sedang memeriksa berkas yang ada di tangannya. Bara sudah tahu bahwa ada Sabiya di luar sana.


"Ada apa?. Masuklah. Jangan mengintip di sana" tegur Bara menatap sekilas ke arah pintu.


Sabiya tersenyum malu karena keberadaannya diketahui oleh Bara. Gadis itu melangkahkan kakinya pelan masuk ke dalam ruang kerja Bara.


"Om, temanku besok mau ke sini. Boleh tidak?" tanya Sabiya meminta izin.


Bara menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menatap gadis berjilbab yang sedang berdiri di hadapannya.


"Cowok atau cewek?" selidik Bara.


"Cewek semua, Om. Mana berani aku mengajak teman cowok main ke rumah" jelas Sabiya. "Curigaan sekali" sambungnya dalam hati.


"Boleh" ujar Bara memberi izin.


"Eh ... Mau ke mana?" panggil Bara menahan langkah Sabiya. Gadis itu menghentikan langkahnya.


"Buatkan aku kopi dulu" pinta Bara.


"Iya, nanti aku katakan dengan Bik Mia untuk mengantarkannya ke sini" sahut Sabiya.


"Ngapain nyuruh Bik Mia yang membuatnya. Aku mau kamu yang membuatkannya" ujar Bara serius sambil menatap gadis yang sedang bengong itu.


"Aduh, aku belum pernah membuat kopi. Bagaimana ini?" batin Sabiya bingung.


"Udah cepat sana buatkan" ulang Bara.


"Iya, Om"


Sabiya bergegas keluar dari ruangan Bara dan berjalan menuruni anak tangga. Dia langsung menuju ke dapur.


"Bik Mia!" panggil Sabiya sambik mengetuk pintu kamar Mia.


"Ada apa, Non?" tanya Mia setelah membuka pintu kamarnya.


"Bik, bagaimana caranya membuat kopi. Ajarkan dong, aku nggak bisa" ucap Sabiya.


"Tuan Bara mau kopi. Ya, udah nanti Bibik buatkan dulu" ujar Mia berjalan menuju ke dapur. Sabiya mengikutinya dari belakang.


"Tapi bukan buatan Bik Mia. Om Bara minta kopi buatanku. Aku belum pernah membuat kopi nanti nggak enak lagi" Sabiya memanyunkan bibirnya.


Mia tersenyum kecil. Sejak kapan majikannya itu mau kopi buatan orang lain di rumah ini. Biasanya juga dia yang selalu membuatkan.


"Ya, sudah. Non Biya siapkan cangkirnya. Bibik masak air hangatnya dulu. Tuan Bara tidak suka air hangat dari dispenser" jelas Mia sambil menjerang air.


"Terus kopinya berapa sendok, Bik?" tanya Sabiya kagok.


"Dua sendok saja, Non. Gulanya juga" jawab Mia yang sudah biasa membuatkan kopi untuk Bara. Biasanya mau bergadang kalau sudah minta dibuatkan kopi.


Selesai tutorial membuat kopi di dapur, Sabiya segera membawa secangkir kopi ke ruang kerja Bara.


"Ini, Om, kopinya" ujar Sabiya meletakkannya di atas meja kerja Bara.


Bara mengambilnya dan menyeruput kopi hitam yang masih hangat itu. Dia menempelkan bibirnya di bibir cangkir dan menghirupnya perlahan. Sabiya mengerjakan matanya sambil melihat ekspresi Bara. Apakah kopi buatannya tidak enak?. Padahal dia sudah mengikuti instruksi dari Bik Mia.


"Enak. Sepertinya kamu sudah bisa menikah" puji Bara.


"Aku masih mau kuliah dulu Om. Belum kepikiran mau nikah" elak Sabiya. "Apa hubungannya bisa membuat kopi dengan menikah" batin Sabiya heran.


Bara hanya tertawa kecil. "Menikah itu tidak perlu dipikirkan. Itu hanya masalah takdir. Kalau dipikirkan terus dan belum takdirnya untuk menikah, percuma juga kan" ucap Bara.


Sabiya tampak berpikir. Apa yang diucapkan pria di hadapannya itu ada benarnya juga. Banyak muda-mudi sekarang yang terjerumus dalam aktivitas pacaran yang nggak sehat. Mereka juga pacaran tujuannya bukan untuk menikah ke depannya. Hanya sekedar ikut-ikutan, gengsi nanti dibilang nggak laku kalau nggak punya pacar.