A Marriage

A Marriage
Part 4



Menjelang siang, Sabiya mengajak beberapa temannya untuk menyelesaikan tugas kelompok mereka. Kelompok mereka akan presentasi untuk materi selanjutnya.


"Ayo, masuk" ajak Sabiya. Elsa, Irma dan Suci tampak tercengang melihat rumah besar yang akan mereka masuki.


"Biya, Om Bara udah punya istri belum?" tanya Suci penasaran ketika melihat foto pria tampan terpajang di ruang tengah ketika mereka melintasinya.


"Masih sendiri" jawab Sabiya langsung mengajak teman-temannya ke lantai atas.


"Wah, bisa kenalan dong. Siapa tahu Om kamu suka denganku" ujar Suci centil.


"Yeay, mana mau pria dewasa dengan gadis bau kencur seperti kita" sela Irma.


"Iya, betul. Tipe pria dewasa seperti Om Bara itu pasti suka wanita bertubuh seksi dan berdada besar" timpal Elsa.


Gadis itu walaupun sudah mengenakan jilbab, tapi pergaulannya dengan lawan jenis tidak diragukan lagi. Dia punya teman-teman cowok yang akrab dengannya ketika masih SMA.


Sabiya hanya melongo ketika mendengarkan penuturan Elsa. "Kok, kamu bisa tahu, El?" tanya Suci kepada gadis yang jago karate itu.


"Aku punya banyak teman cowok, rata-rata mereka pernah curhat dan minta carikan pacar yang tipe seperti itu" jawab Elsa. "Tapi aku nggak mau, lho. Meskipun temanku banyak cowok, tapi aku masih bisa jaga diri" sambung Elsa agar teman-temanya tidak berpikiran negatif tentang dirinya. Apalagi dia sudah mengenakan hijab begitu.


Sabiya dan kedua temannya yang lain langsung melirik ke dada mereka masing-masing. "Apa dada yang tidak besar tidak akan dilirik oleh pria tampan?" tanya Irma polos.


"Aku berhijab malah ingin menutupi agar dadaku tidak terlihat. Bukan mau dipamerkan agar mata pria bisa menilai dada kita besar atau kecil" gumam Suci.


"Benar, fungsi hijab kan untuk menutupi perhiasan wanita. Salah satunya dada kita. Kalau berhijab masih memperlihatkan lekuk tubuh bahkan tonjolan di atas, itu sama saja telanjang alias belum menutup auratnya" tambah Sabiya. Dia masih ingat ucapan salah satu kakak kelasnya ketika acara rohis di masjid sekolahnya. Sabiya ditarik teman sebangkunya untuk ikutan acara rohis. Setelah mengikuti acara itulah hatinya tergerak untuk menutup auratnya dengan mengubah penampilannya yang modis kini menjadi sederhana dan serba tertutup.


"Nggak tahu juga. Tapi rata-rata cowok yang aku kenal tipenya seperti itu" ujar Elsa menjawab pertanyaan Irma.


"Udah, yuk. Kok kita membicarakan Om Bara terus. Kapan kerja kelompoknya?" Sabiya mengingatkan teman-temannya.


Tak lama Mia membawa makanan kecil dan minuman ke dalam kamar Sabiya.


"Sambil belajar, jangan lupa dimakan dan diminum, ya" ucap Mia sebelum meninggalkan kamar.


"Terimakasih, Bik" ujar Sabiya.


Mereka kemudian mulai berbagi tugas untuk menyelesaikan makalah yang akan dipresentasikan dua hari lagi.


Di kantor Bara


Pria mapan itu tampak sedang menerima panggilan telpon dari seseorang.


"Bagaimana Biya?. Dia bersikap baik kan selama di rumahmu?" tanya Alfian, papa Sabiya.


"Iya. Dia gadis yang penurut dan mengikuti semua yang aku perintahkan di rumah. Dari jam pulang kuliah, atau teman yang boleh diajak ke rumah. Hari ini dia mengajak temannya belajar kelompok di rumah" jawab Bara.


"Kalau dia dekat dengan teman laki-lakinya, kau harus tegur. Tahu sendiri kan pergaulan zaman sekarang" pesan Alfian.


"Tenang saja, Fian. Aku selalu memantau anak gadismu itu. Bila perlu, aku yang akan mengawalnya kemana pun dia pergi" ucap Bara sambil tertawa kecil.


Di seberang sana, Alfian pun ikut tertawa.


"Thanks, Bara. Aku titip anakku, ya" pesan Alfian sebelum mengakhiri pembicaraan mereka.


"Tidak perlu sungkan. Aku akan menjaganya" ujar Bara.


Setelah Alfian memutus sambungan telponnya. Bara langsung menghubungi Sabiya. Dia ingin memastikan apakah gadis itu sudah belajar di rumah atau belum.


"Biya, ponsel kamu berbunyi tuh" tunjuk Suci.


"Waalaikumsalam" balas Sabiya.


"Kamu di mana?. Sudah pulang?" tanya Bara langsung.


"Iya, Om. Aku sudah di rumah bersama teman-temanku belajar kelompok" jawab Sabiya.


"Halo, Om Bara" Bara mendengar suara dari beberapa orang gadis di belakang Sabiya sedang menyapanya kemudian mereka tertawa kecil.


"Ya, sudah. Nanti malam siap-siap ikut keluar" ujar Bara.


"Mau ke mana, Om?" tanya Sabiya penasaran.


"Nanti saja tunggu aku pulang. Assalamualaikum" Bara menutup sambungan telponnya.


"Duh, Om Bara perhatian sekali dengan kamu Biya" goda Elsa.


"Iyalah perhatian dengan keponakan ketemu besar. Hahaha" timpal Suci terkekeh.


"Apaan, sih kalian" Sabiya tersipu malu. "Om Bara itu memang orangnya baik dan perhatian dengan siapa saja" jelas Sabiya.


"Yakin?. Pria tampan dan mapan seperti Om Bara pasti banyak yang mendambakan. Wajahnya juga terlihat masih muda, kok. Aku mau menjadi istrinya kalau dia mau melamarku" ujar Suci yang sudah kesemsem dengan Bara.


"Suci!!. Masih bau kencur!!" teriak teman-temannya yang lain. Mereka akhirnya tertawa bersama dengan pikiran konyol mereka.


Setelah teman-temannya pamit pulang, Sabiya beristirahat sejenak setelah sholat Ashar.


"Om Bara mau mengajakku ke mana, ya?" Sabiya teringat dengan ucapan Bara di telpon tadi.


Suara pintu pagar dibuka Pak Aman terdengar oleh Sabiya. Tanda Bara sudah pulang dari bekerja.


"Teman Biya sudah pulang, Bik?" tegur Bara melihat Mia yang sudah membukakan pintu untuknya.


"Sudah pulang satu jam yang lalu, Tuan" jawab Mia.


Bara langsung menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sebelum dia berbelok ke kamarnya, dia menghampiri kamar Sabiya.


Tok. Tok. Tok


Sabiya menyambar jilbab langsungnya dan membuka pintu kamar. Baik Mia atau siapapun yang mengetuk pintu kamarnya dia selalu memakai jilbabnya.


"Om ..." Sabiya melihat punggung Bara yang berdiri di depan pintu kamarnya. Bara kemudian membalikkan tubuhnya.


"Nanti malam temani aku untuk bertemu seseorang. Aku sudah meminta izin papamu dan itu sudah disetujuinya" ujar Bara.


Sabiya tidak bisa menolak kalau papanya sudah turun tangan. Gadis itu hanya mengangguk setuju.


"Nggak usah dandan yang menor seperti tante-tante" ledek Bara.


"Ihh, siapa juga yang mau dandan seperti tante-tante" Sabiya memanyunkan bibirnya. "Lagian juga aku nggak dandan udah cantik, kok" sambung Sabiya percaya diri.


"Iya, cantik. Tapi anak papa. Manja!" ledek Bara lagi sambil mengacak jilbab yang menutupi kepala Sabiya. Bara dengan santai meninggalkan gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.


"Aku dicap anak manja. Enak saja!!" gumam Sabiya tidak terima. Buktinya dia mau kuliah di tempat yang terpisah dari kedua orang tuanya. Itu tandanya dia anak yang mandiri. Dasar orang tuanya saja yang tidak percaya dengannya untuk ngekost mandiri bukan menumpang di rumah teman papanya begini.


"Om Bara, rese!!" teriak Sabiya kesal karena di mata Bara dia dianggap anak papa yang manja. Gadis itu menutup pintu kamarnya dengan kencang.


Dari balik pintu kamarnya, Bara menyunggingkan senyuman mendengar suara pintu kamar Sabiya yang ditutup dengan kencang.