A Marriage

A Marriage
Part 15



Sabiya merasa lega, ternyata gadis yang bergelayut mesra dengan suaminya itu adalah keponakannya. Sabiya pun menceritakan hal itu kepada teman-temannya agar tidak berprasangka buruk juga dengan suaminya itu.


"Oh, jadi keponakannya" ujar Elsa.


"Kok, manja gitu, ya" ucap Irma tidak suka.


"Keponakannya itu memang dekat dengan dia" jelas Sabiya.


"Hati-hati lho, Biya. Karena Om-nya  punya istri yang lebih muda dari usia dia" sela Suci. Temannya lain setuju dengan ucapan Suci.


"Aku belum bertemu langsung dengannya. Sebelum menikah juga gadis itu tidak pernah terlihat di rumah Mas Bara" ujar Sabiya.


"Kalau melihat orangnya, dia sepertinya agak berani dan perfeksionis" tebak Elsa.


"Benar, apalagi kamu cerita Om Bara ditelpon olehnya untuk membayar semua belanjaannya. Om Bara nurut banget dengan dia, Biya" timpal Suci.


"Udah ... Udah. Jangan membuat Biya risau" sela Irma melihat ekspresi wajah Sabiya yang berubah.


Pulang dari kampus, Sabiya tidak ikut teman-temannya untuk pergi ke toko buku. Dia lebih memilih untuk pulang ke rumah.


Ting. Tong


"Biar aku aja yang buka, Bik" ujar Sabiya melihat Bik Mia hendak membukakan pintu ruang tamu. Kebetulan Sabiya baru saja turun dari lantai atas.


Sabiya melihat seorang gadis berambut panjang dengan pakaian modisnya terlihat sekali dari penampilannya kalau dia anak orang kaya. Gadis itu membalikkan badannya setelah mendengarkan pintu rumah terbuka.


"Bukannya ini keponakan Mas Bara" batin Sabiya sambil mengamati gadis itu yang tidak lain adalah Nadia.


Nadia langsung menerobos masuk ke dalam tanpa dipersilahkan masuk lagi oleh Sabiya. Sabiya mengeryitkan dahinya. "Tidak tahu sopan santun sekali. Mengucapkan salam kek kalau masuk ke rumah orang itu" gerutu Sabiya di dalam hatinya.


"Hei, kamu pembantu baru ya di rumah Om-ku?" tanya Nadia melihat Sabiya yang berjalan mengiringinya dari belakang.


"Bukan" jawab Sabiya.


"Oh, pasti anak Bik Mia. Orang tuanya pembantu, anak juga nggak jauh bedalah" cibir Nadia.


"Ugh, songong banget nih anak" Sabiya benar-benar geram dengan ucapan Nadia.


"Om Bara belum pulang, ya?. Biasanya jam segini dia udah pulang" tanya Nadia sambil menghempaskan bokongnya di atas sofa.


"Mungkin masih di jalan. Nah, itu  suara mobilnya baru datang" jawab Sabiya. Kebetulan sekali ketika Nadia bertanya terdengar suara deru mobil Bara di luar rumah.


"Hallo, Om!" sapa Nadia ramah melihat Bara memasuki rumah.


"Nadia!" Bara kaget dengan kehadiran Nadia di rumahnya. Bara pun melirik Sabiya yang tidak jauh berdiri dari sofa.


Nadi beranjak dari tempat duduknya kemudian mendekati Bara dan merangkul tangannya. Bara pun mendapatkan tatapan tajam dari Sabiya, tatapan tidak suka.


"Nadia, nggak usah manja begini. Coba kamu lepaskan tangan Om" ujar Bara mengerti dengan tatapan tajam istrinya.


"Om Bara kenapa, sih?" protes Nadia sambil melirik ke arah Sabiya yang masih berdiri di dekat mereka.


"Heh, kamu ngapain masih di sana? Buatkan aku dan Om Bara minuman" perintah Nadia kepada Sabiya kemudian gadis itu tersenyum melihat Bara. "Anak pembantu aja kok, kepo banget" sungut Nadia.


"Nadia! Kamu jangan asal perintah" ucap Bara emosi. "Siapa yang kamu maksud anak pembantu?" Bara menghentakkan pegangan tangan Nadia di lengannya.


Nadia sangat terkejut dengan sikap Om-nya itu. "Dia, Om. Bukannya dia anak Bik Mia" tunjuk Nadia ke arah Sabiya.


"Sembarangan kamu!" Bara menunjuk pelipis Nadia dengan jari telunjuknya. "Dia itu Tante kamu. Panggil dia, Tante Biya" ujar Bara mengenalkan Sabiya.


"Hah. Tante?" seru Nadia tidak percaya. "Anak bau kencur begitu mau jadi Tanteku, nggak mungkin!" tolak Nadia dengan suara ketus.


"Bau kencur kepalamu, Nadia! Bicara yang sopan, meskipun usiamu lebih tua darinya. Kamu tetap harus memanggil dia 'Tante' karena dia adalah istri sah Om" jelas Bara.


Lagi-lagi Nadia terkejut. Kapan Om-nya menikah? Kenapa dia tidak tahu akan hal itu? Mamanya di KL juga tidak mengabarinya.


"Kamu pasti bingung kan? Mama kamu juga belum tahu kalau Om sudah menikah. Sekarang Om mau tanya, kamu ngapain datang ke sini?" tanya Bara.


"Mama belum transfer uang untukku, Om. Aku mau pinjam uang Om dulu, boleh, ya" jawab Nadia mengabaikan sejenak tentang Tante barunya itu.


"Berapa?" tanya Bara berjalan mendekati Sabiya yang hanya diam saja memperhatikan mereka.


"Lima juta" jawab Nadia menunjukkan lima jari tangan sebelah kanannya.


"Sebanyak itu untuk apa, Nad?" tanya Bara terkejut. "Om akan tanya mama kamu dulu."


"Ish, Om ini kok nggak percaya sekali denganku" sungut Nadia.


"Pulanglah dulu. Nanti Om transfer kalau mamamu sudah menjelaskan kepada Om uang itu untuk apa saja" ujar Bara.


Nadia menekuk wajahnya sambil menatap Sabiya tidak suka. Gadis itu pun kemudian pergi meninggalkan rumah Bara.