
Mama Bara melihat Sabiya masih tidur di kamarnya sendiri. Kenapa Bara belum mengajaknya untuk tidur dalam satu kamar.
"Ehem" wanita itu mendekati Sabiya yang sedang duduk di balkon. Menantunya itu tampak sedang mengerjakan tugas kuliah.
"Mama" sapa Sabiya sedikit terkejut.
"Biya, lusa mungkin mama sudah pulang" ujar Mama Bara.
"Kok, cepat sekali, Ma" ucap Sabiya kecewa.
"Kamu dengan Bara bisa datang mengunjungi Mama di sana. Udaranya sejuk dan segar" Sabiya hanya diam saja. Laki-laki yang statusnya sudah menjadi suaminya itu tampak sedang sibuk.
"Kamu kenapa belum tidur satu kamar dengan Bara?" tanya mama Bara tersenyum.
"Belum diajaknya" jawab Sabiya malu. Tidak mungkin dia masuk ke kamar Bara begitu saja. Sementara laki-laki itu belum mengajaknya untuk tinggal dalam satu kamar.
Mama Bara hanya menyunggingkan senyuman. Dia lupa kalau usia anak dan menantunya itu terpaut 15 tahun.
"Bara sedang sibuk mengurusi aset-aset peninggalan orang tua kamu. Nanti akan mama beritahu Bara, ya" ucap mama Bara.
Sabiya hanya tersenyum malu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti dia akan tidur satu ranjang dengan Bara.
Pulang dari kerja, Bara segera menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri. Ketika hendak menuju ke kamarnya, dia melihat Sabiya tertidur di sofa balkon. Di atas meja terlihat beberapa buku diktat kuliahnya. Bara tersenyum kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Setelah membersihkan diri dan hanya bertelanjang dada, dia keluar kamar untuk melihat Sabiya kembali. Bara kemudian mengangkat tubuh istrinya itu untuk dibawa ke dalam kamarnya. Mamanya sudah memberitahunya via telpon. Sabiya tidak akan tidur di kamarnya jika tidak diminta olehnya. Dia memang belum menyentuh istrinya itu karena ingin memberikan waktu kepada Sabiya yang masih berduka.
Setelah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Bara mengambil baju kaosnya dan turun ke bawah. Tak lama kemudian, Sabiya menggeliatkan tubuhnya. Dia begitu kaget karena sudah berbaring di atas ranjang. Tapi bukan di dalam kamarnya.
Sabiya terduduk dan mengamati ruangan itu. "Ini kan bukan kamarku" gumamnya.
Sabiya turun dari ranjang sambil berputar melihat lagi isi kamar yang sangat rapi itu. "Ini kamar, Om Bara!" serunya. Sabiya berbalik hendak keluar dari kamar Bara. Namun tanpa dia sadari, Bara baru saja masuk kamar dan langsung menabrak tubuh jangkung suaminya.
Bara menangkap tubuh Sabiya dan memeluknya. Jantung keduanya berdetak kencang dengan mata yang saling menatap.
"Sudah bangun rupanya" ucap Bara sambil menetralisir debaran jantungnya.
"Aku mau kembali ke kamarku, Om" ucap Sabiya sambil melihat tangan sendiri sedang memegang dada Bara.
"Kenapa masih memanggilku Om. Apa aku terlihat tua?" protes Bara. Sabiya tersenyum kikuk. Dia jadi salah tingkah sendiri.
"Pindahlah ke kamarku mulai malam ini" sambung Bara. Sabiya hanya menganggukkan kepalanya.
Bara mengurai pelukannya. Sabiya segera pergi meninggalkan kamar Bara. Dia menutup pintu kamarnya dan bersandar di daun pintu. Sabiya meletakkan kedua tangannya di dadanya. Dia bisa merasakan debaran jantungnya yang bergemuruh. Gadis itu tidak tahu apa yang telah terjadi dengannya. Setiap berada di dekat Bara, jantungnya selalu berdebar kencang.
Selesai makan malam, Mama Bara melihat Sabiya sedang mengangkuti pakaian dan barang-barangnya ke dalam kamar Bara. Dia ke dapur dan membuatkan minuman untuk Sabiya.
"Mia, mana obatnya?" bisik mama Bara.
"Nyonya yakin mau memberikan obat itu?" Bik Mia balik bertanya.
"Sudah cepat, sini. Walaupun mereka sudah satu kamar apa kamu yakin Bara akan langsung menggaulinya?" tatap istri Sandiaga itu.
"Iya, Nya" Bik Mia pun menurut saja.
"Cepetan, mana minumannya. Aku akan mengantarkannya ke atas"
Mama Bara segera naik ke atas. Bara sedang berada di kamarnya, sementara Sabiya sudah kembali lagi ke kamarnya untuk mengambil barangnya yang masih tersisa.
"Terima kasih, Ma" kebetulan sekali Sabiya merasa haus. Tanpa curiga Sabiya meneguk habis minuman yang dibawakan oleh mertuanya.
Setelah selesai membereskan kamarnya. Sabiya masuk ke dalam kamar Bara. Lima belas menit kemudian Bara pun masuk ke dalam kamarnya. Dia sudah mematikan laptopnya di ruang kerjanya. Dia melihat Sabiya sudah berada di dalam kamar.
"Sudah selesai?" tanya Bara melihat Sabiya yang tidak mengenakan hijabnya. Untuk pertama kalinya dia melihat Sabiya tanpa hijabnya.
"Sudah, Mas" jawab Sabiya sambil memegangi lehernya karena merasa gerah. Dia tampak gelisah dan tidak tenang.
"Kenapa gerah sekali, ya?" gumam Sabiya heran. Padahal sebelumnya AC di kamar Bara sudah dingin.
"Biya, kamu kenapa?" tanya Bara mendekatinya.
"Geraah, Mass" ucap Sabiya dengan suara mendesah. Dia sudah tidak tahan lagi dan tanpa sadar telah membuka pakaiannya di depan Bara.
Bara menelan salivanya melihat tubuh Sabiya yang terekspos di depan matanya. Sepertinya ada yang salah dengan istrinya itu. Tapi sikap Sabiya yang coba untuk menggodanya telah membangkitkan gairahnya sebagai seorang suami.
Bara menangkap tubuh istrinya yang bergelinjangan karena obat perangsang. Dia pun menyatukan bibirnya dan memagut bibir istrinya yang menuntutnya lebih dari itu. Mereka berdua saling menikmati kebersamaan dan penyatuan untuk pertama kalinya.
Bara sudah terbaring di samping Sabiya. Istrinya itu masih mengelus dan meraba dadanya. Obat itu ternyata masih bereaksi.
"Biya" panggil Bara agar istrinya itu menghentikan gerakannya yang mencoba membangkitkan gairahnya kembali.
Tanpa suara Sabiya menciumi leher suaminya. Kalau dia sadar, pastilah dia akan sangat malu sekali. Sabiya tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Dia pun menyosor bibir suaminya.
"Sayang, kau ..." Bara tidak melanjutkan ucapannya. Dia pun membalas ciuman hangat istrinya. Mereka pun bergumul kembali di balik selimut. Hingga lelah membuat mereka tertidur pulas dengan saling berpelukan.
Sebelum adzan Subuh, Sabiya mengerjapkan matanya. Dia merasa hangat karena telah bersentuhan kulit dengan Bara. Matanya terbelalak ketika melihat wajah Bara begitu dekat dengannya. Sabiya yang menyadari dirinya sedang memeluk suaminya itu langsung melepaskan diri dan mengintip di balik selimut. Mereka berdua masih dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.
"Aaaaa!" jerit Sabiya kaget. Dia duduk sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" batinnya heran. Sabiya memejamkan matanya.
Bara membuka matanya dan melihat punggung polos Sabiya yang sedang duduk di sampingnya. Dia terbangun karena mendengar suara jeritan Sabiya. Laki-laki tampan itu ikut duduk di samping istrinya.
Sabiya masih mengingat-ingat apa yang telah terjadi dengannya. "Kenapa menjerit?" tanya Bara tersenyum jika mengingat kembali kehangatan mereka semalam.
"Aku dan kamu ..." tunjuk Sabiya ke Bara kemudian kembali ke arahnya.
Bara hanya mengangguk tersenyum. Mata Sabiya membulat ketika melihat leher dan sebagian tubuh seksi Bara banyak terdapat tanda merah.
"Kenapa banyak itu ..." tunjuk Sabiya polos ke arah leher dan dada Bara.
"Sayang, semua ini karena ulah kamu" ucap Bara dengan santai.
Sabiya mengeryitkan dahinya. Mana mungkin dia yang melakukannya. "Kau sangat liar semalam" bisik Bara mesra.
"Aaaa!!. Tidak mungkin aku yang melakukannya" elak Sabiya. Wajahnya sudah merah merona.
"Lantas siapa?. Wanita lain?. Bukankah yang tidur di sampingku sekarang adalah Sabiya Awalina, hmm" ujar Bara.
Sabiya menggigit bibirnya ketika bayangan dirinya menggoda dan merayu Bara semalam. Dia benar-benar merasa malu.
"Ayo, mandi. Sebentar lagi adzan Subuh" ajak Bara. Melihat Sabiya bergeming, laki-laki bertubuh atletis itu pun mengangkat tubuh istrinya dari ranjang.