
Nayara tidak menyangka bahwa kepergian suaminya ke Jepang ternyata untuk operasi matanya.
"Kenapa nggak ngasih tau sih, Mas?," tanya Nayara kepada suaminya ketika berada di ruang kerja Abrisam.
Abrisam sudah beraktivitas kembali memimpin perusahaan yang sudah lama ditinggalkannya.
"Mas nggak mau nanti kalau kamu terlalu berharap. Setidaknya kalau gagal operasi itu, biarlah mas saja yang menanggung sendiri rasa kecewa itu," jelas Abrisam menghentikan aktivitasnya di laptop. Abrisam memandang wajah istrinya.
"Gimana Mas rasanya bisa melihat lagi?" tanya Nayara antusias sambil menatap suaminya.
Abrisam tertawa kecil melihat Nayara duduk di depan meja kerjanya seperti sedang wawancara saja.
"Nyonya Bri, tentu saja suami mu ini sangat bersyukur sekali bisa melihat dunia lagi. Terutama melihat wajah istrinya yang cantik," ujar Abrisam menopang dagunya melihat Nayara.
Nayara menyunggingkan seulas senyuman lalu ikut menopang dagu juga di atas meja kerja Abrisam. Mereka berdua pun saling pandang.
"Meskipun istrimu ini tidak secantik artis. Apakah Tuan Bri tidak kecewa?," tatap Nayara serius.
Nayara tahu jika suaminya kembali ke dunia luar akan banyak wanita yang menyukainya. Wanita seperti mantan calon istri suaminya berhamburan di luar sana. Sementara dia hanya wanita kampung yang tidak mengenal make-up dan fashion. Jelas dia akan kalah saingan.
"Aku sangat kecewa..." balas Abrisam menatap Nayara. Sekilas ada semburat kecewa di wajah Nayara ketika mendengarkan ucapan Abrissm.
"Kecewa kenapa tidak bertemu denganmu dari dulu," lanjut Abrisam menahan tawa melihat riak muka Nayara yang tampak kecewa.
Nayara terkejut mendengar lanjutan kalimat suaminya. "Ugh...Mas Bri ini. Nggak lucu tau!!," umpat Nayara memanyunkan mulutnya.
"Udah tidur duluan sana. Kayaknya Mas masih lama. Kalau kamu terus di sini malah nanti nggak kelar-kelar kerjaan, Mas" ucap Abrisam geli.
"Ya udah. Aku tidur duluan ya, Mas," Nayara memundurkan badannya dari meja kerja.
"Eh...eh...tapi sebelum pergi kiss dulu dong," ujar Abrisam meletakkan jari telunjuknya di bibir.
Nayara tersenyum sambil menggelengkan kepala lalu memajukan badannya di atas meja kerja Abrisam. Wajahnya mendekat lalu Abrisam segera menyosor bibir Nayara.
"Have a nice dream," bisik Abrisam setelah melepas ciuman selamat tidur untuk istrinya.
"Jangan terlalu malam ya, Mas. Nggak baik untuk kesehatan," pesan Nayara sebelum meninggalkan ruang kerja Abrisam.
"Nggak apa. Kan ada kamu obatnya," kedip Abrisam nakal.
"Jangan coba-coba ganggu ya, kalau orangnya udah tidur," balas Nayara galak lalu menutup pintu.
Dari balik pintu Nayara cekikikan sambil menutup mulutnya. Sementara Abrisam tersenyum geli lalu melanjutkan lagi pekerjaannya yang tertunda.
Setelah selesai membaca beberapa laporan di atas meja kerjanya, mata Abrisam pun mulai terasa berat. Dia beranjak dari sana lalu menyusul Nayara ke kamar.
Ceklek!!
Abrism membuka pintu dan melihat Nayara sudah tertidur nyenyak di atas ranjang king size itu. Laki-laki itu pun naik ke atas ranjang dan tidur di samping Nayara.
Abrisam tampak mengamati wajah istrinya yang sedang tidur dengan posisi menyamping itu. Dia membetulkan helaian rambut yang menutupi pipi Nayara.
"Kamu lebih cantik dari bidadari meskipun aku belum pernah melihatnya. Kebaikan hati mu lah yang membuatku terpesona dan jatuh cinta kepadamu" gumam Abrisam tersenyum sendiri.