
Ponsel Sabiya sudah berbunyi berapa kali. Dia tidak sempat mengangkat ponselnya karena sedang belajar di teras balkon. Mia berjalan tergopoh-gopoh menaiki anak tangga untuk memberikan ponselnya kepada Sabiya.
"Non Biya, Tuan Bara nelpon" ujar Mia sambil menyodorkan ponsel miliknya.
"Hah, Kok nelpon ke nomor Bik Mia?" tanya Sabiya heran.
"Iya, karena Tuan Bara nelpon nomor Non nggak diangkat-angkat" jawab Bik Mia.
"Ya, Allah. Ponselku ada di dalam kamar. Bilang Mas Bara telpon ke nomorku aja" ujar Sabiya kemudian berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya.
Tak lama kemudian ponsel Biya pun berdering kembali. Mia sudah turun dan kembali ke dapur.
"Ada apa, Mas?. Aku sedang belajar" jelas Sabiya.
"Sudah lama kamu di rumah. Kok, nggak ngabari?" Bara memang sedang tidak bisa menjemput istrinya pulang kuliah karena jadwal pulang Sabiya tidak tetap. Kadang Sabiya pulang, Bara sedang meeting di luar. Jadi dia tidak bisa meninggal kegiatannya.
"Belum lama. Aku lupa, Mas"
"Lupa kalau udah punya suami" sindir Bara.
Sabiya mengerucutkan bibirnya. Salah satunya itu juga, sih. Sabiya mengakuinya. Dia masih belum terbiasa harus melaporkan semua kegiatannya kepada Bara.
"Udah, deh. Nggak usah nyindir. Sebenarnya Mas nelpon hanya mau menyindir aku" omel Sabiya.
"Nggak"
"Terus apa?"
"Nggak peka, ya, kalau suaminya kangen"
"Kalau kangen, ya, langsung pulang aja. Ngapain pakai nelpon segala" tantang Sabiya.
Sabiya tidak yakin kalau Bara akan langsung pulang. Jam satu siang laki-laki itu masih berada di kantor.
"Hmm, kamu sudah berani menantangku, ya" batin Bara tersenyum smirk.
"Nggak bisa kan" ledek Sabiya tersenyum geli karena tidak ada suara dari seberang sana.
"Sayang, jangan menantangku" ucap Bara.
Sabiya tidak tahu bahwa sambil menelponnya, Bara pun sambil berjalan menuju ke parkiran. Sabiya pun mengakhiri panggilan telpon dari suaminya itu karena mau menyelesaikan tugas kuliahnya.
Buku diktatnya masih berada di atas meja. Matanya mengantuk. Sabiya ingin tidur siang sejenak. Dia masuk ke dalam kamar, membuka jilbabnya.
"Mumpung Mas Bara belum pulang. Aku mau tidur siang dulu" gumamnya tersenyum.
Sabiya pun membuka bajunya, menyisakan camisol dan hotpants saja. AC kamar sudah dia kecilkan agar tidak kedinginan.
"Ada yang tertinggal" jawab Bara mencari alasan.
Bik Mia tidak perlu tahu apa alasannya pulang cepat. Bara langsung menuju ke lantai atas, ke kamarnya. Dilihatnya buku diktat Sabiya masih terkapar di atas meja, di teras balkon. Bara kemudian membuka pintu kamar. Tidak bisa dibuka. Rupanya Sabiya mengunci pintu kamar dari dalam. Bara mengambil kunci cadangan yang dia selipkan di bawah pot bunga besar yang ada di samping pintu kamar.
Ceklek!
Akhirnya Bara bisa masuk juga ke dalam kamar. Kenapa suhu AC di kamarnya tidak terasa olehnya ketika membukakan pintu tadi. Bara mengarahkan pandangannya ke tempat tidur. Laki-laki tampan itu terkesiap melihat tubuh Sabiya yang memunggungi tampak terekspose karena pakaian minimnya itu. Bara menelan salivanya sambil berjalan mendekati tempat tidur.
Bara kemudian melepaskan jas dan atribut pakaian kerjanya hingga menyisakan celana boxer saja.
"Kamu benar-benar menggoda imanku jika seperti ini, Biya. Untungnya kita sudah halal" gumam Bara tersenyum sambil merangkak ke atas tempat tidur.
Bara tidak menyangka gadis kecil yang pernah dia cium itu memiliki tubuh yang indah di balik pakaian tertutupnya setelah beranjak dewasa. Mata Bara masih mengamati tubuh istrinya dari ujung kaki hingga kepala. Hasratnya membuncah. Tangan Bara mengelus pipi mulus Sabiya kemudian turun ke pundak sambil menurunkan tali camisol Sabiya. Gerakan tangan Bara yang menyusup di balik camisol membuat Sabiya mengubah posisi menjadi terlentang, membuat laki-laki tampan itu semakin leluasa mengeksplore tubuh istrinya. Sentuhan mesra Bara membuat Sabiya melenguh meskipun matanya masih terpejam.
Sabiya merasa dirinya sedang berada di alam mimpi. Bara sedang mencumbunya mesra. ******* bibirnya dengan lembut. Tubuhnya merasa hangat. Sabiya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Hingga keduanya berpeluh dan Sabiya memeluk erat tubuh Bara.
"Kenapa tubuh Mas Bara terasa nyata sekali" batin Sabiya membuka matanya dan melihat dada seksi Bara terpampang di depannya. Dia pun masih memeluk tubuh suaminya itu.
"Mas!!" seru Sabiya sadar.
Sabiya menyingkap selimut yang menutupi tubuh polosnya. "Ya, Tuhan. Aku kira mimpi" batin Sabiya tersenyum geli.
"Apa, hmm" kini dua pasang bola mata itu bertemu.
"Beneran pulang, ya?" ucap Sabiya.
"Sudah kubilang aku kangen" jawab Bara.
"Hanya untuk ini?" tanya Sabiya lagi.
"Sayang, laki-laki normal mana yang tidak terangsang disuguhi pemandangan indah tubuh seorang wanita" jawab Bara dengan jujur.
Sabiya tersenyum malu dan menenggelamkan wajahnya ke dada polos Bara. Dia berpakaian seksi seperti itu justru karena Bara belum pulang. Tapi perkiraannya meleset. Tiba-tiba Bara pulang lebih cepat.
"Kamu seharusnya selalu berpakaian seksi seperti itu di depan suamimu ini" ucap Bara. "Aku menyukainya" sambung Bara berbisik ke telinga Sabiya.
"Ah, Mas ini udah tua tambah genit, ya" ledek Sabiya.
Bara terkekeh dibilang tua oleh istrinya. Memang usia mereka terpaut jauh. "Sayang, jangan bilang aku tua, ya. Aku masih sanggup melayani kamu berkali-kali, lho" balas Bara tidak terima.
"Aaaa!!!" Sabiya mencubit pinggang suaminya gemas karena ucapan suaminya.
"Kamu harus banyak makan agar punya tenaga untuk melayani ekstra suami tuamu ini" goda Bara tertawa kecil.
Kehangatan tubuh istrinya masih Bara rasakan. Sabiya meringkuk di dalam pelukannya. Ingin rasanya dia mengulangi kembali namun dia memikirkan istrinya.