
Sabiya masih berdiri di depan kaca towalet sambil memutar tubuhnya. Penampilannya memang seperti gaya anak muda sekarang. Baju tunik dan rok jeans.
Bara sudah menunggunya dari tadi. Dia duduk di sofa berdecak kesal sambil memandang ke arah tangga. Gadis yang ditunggunya itu belum juga turun. Baru saja dia mau memutuskan untuk menyusul Sabiya ke atas. Gadis itu sudah terlihat sedang menuruni anak tangga dengan pelan.
Bara mengamati penampilan Sabiya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Pakaiannya sudah eye catching, tapi sepatunya. Sabiya pun merasa heran mendapatkan tatapan aneh dari Bara.
"Hey, memangnya kita mau ke mall" protes Bara melihat Sabiya yang memakai sepatu kets.
"Om 'kan nggak bilang mau menemui orang itu di mana. Ya, mana aku tahu. Lagi pula aku nyaman memakai sepatu ini" sahut Sabiya tidak mau disalahkan.
Bara akhirnya tidak mau ambil pusing. Dia segera mengajak Sabiya keluar dari rumah. Mereka pun langsung berangkat ke tempat yang dituju oleh Bara. Mobil Bara tiba di sebuah hotel.
"O ... Om ngapain kita ke hotel?" tanya Sabiya gugup. Dia sudah berpikiran yang tidak-tidak.
"Menemui teman ... Kamu pikir apa?" jawab Bara sambil melirik Sabiya.
"Ayo, turun!" ajak Bara setelah memarkirkan mobilnya.
Gadis itu turun kemudian berjalan di samping Bara. Mereka berdua kemudian menuju ke restoran hotel. Di salah satu meja ada seorang gadis cantik sedang menunggu kedatangan Bara.
Gadis itu tersenyum melihat Bara yang sudah datang dan berjalan menghampiri meja yang sudah dia pesan. Senyumannya meredup ketika melihat Bara berjalan dengan seorang gadis berhijab.
"Siapa gadis itu?" batinnya bertanya-tanya.
"Hai, sudah lama?" sapa Bara.
"Nggak juga. Duduklah" sahut Sabrina, gadis cantik itu.
Bara kemudian duduk di hadapan Sabrina, sementara Sabiya duduk di sebelah Bara. Wanita cantik itu sudah lama mengagumi dan menyukai Bara. Tapi laki-laki tampan itu begitu sulit untuk ditaklukkan. Mereka sudah lama berteman sejak kuliah. Bara sendiri tahu tentang perasaan Sabrina kepadanya. Namun dia tidak ada rasa istimewa selain teman.
"Siapa gadis ini?. Keponakan kamu, ya" tanya Sabrina basa-basi.
"Keponakan bertemu besar" jawab Bara santai. "Dia ini calonku" sambung Bara sambil menyepak kaki Sabiya dengan kakinya.
Sabiya mendelik. "Calon apa?. Calon babu, calon asisten. Nggak mungkin kan calon istri" batin Sabiya menebak-nebak.
Sabiya hanya nyengir dan terpaksa tersenyum. Dalam hati dia merutuki ucapan teman papanya itu.
"Iya. Dia yang naksir berat denganku dan mau cepat-cepat mengajak menikah" jawab Bara tanpa rasa berdosa.
Sabiya melongo lalu kakinya menginjak kaki Bara kuat-kuat. Wajah Bara tersenyum, menahan diri dariĀ kesakitan sambil menatap gemas Sabiya.
"Udah menjadikan aku alasan, sekarang dia bicara aku yang tidak sabar mau menikah dengannya. Apa-apaan ini!!" gerutu Sabiya di dalam hatinya.
"Bagus! Dia berani membalasku, ya" ucap Bara dalam hati melirik ke arah Sabiya.
"Oh, ya. Jangan lupa undang aku kalau kalian menikah" ujar Sabrina dengan wajah yang terpaksa tersenyum.
"Kamu lama berada di sini?" tanya Bara.
"Nggak. Kebetulan ada pemotretan dua hari di sini. Makanya aku mau bertemu kamu" jawab Sabrina. Gadis itu memang berprofesi sebagai seorang model. Postur tubuhnya yang langsing dan tinggi sangat cocok sekali.
Setelah cukup lama berbincang-bincang dengan Sabrina. Bara pun berpamitan. Ketika di dalam mobil Sabiya mulai protes.
"Maksud Om tadi apa, sih?. Kalau diaminkan oleh malaikat bagaimana?. Jangan sembarangan bicara, Om!!" cecar Sabiya.
Bara tertawa kecil mendengarkan ucapan Sabiya yang membawa malaikat segala.
"Sabrina itu tidak percaya setiap aku bicara tentang calon istriku. Jadi dia selalu berharap agar aku mau menerima cintanya" ucap Bara.
"Kenapa Om tidak suka dengannya. Tante Sabrina itu cantik, terkenal ..." ujar Sabiya. "Dan seksi" sambungnya di dalam hati.
"Udah nggak usah banyak bicara lagi. Kita mau langsung pulang atau mau jalan-jalan" tawar Bara sebelum mobilnya memutar ke arah rumahnya.
"Aku mau beli buku, Om. Itu kalau Om mau mengantarku ke toko buku. Nanti aku pulang sendiri saja" ujar Sabiya. Dia teringat ada buku diktat kuliah yang harus dibelinya. Mumpung dia berada di luar rumah.
"Oke. Nanti aku tunggu" ucap Bara setuju. Dia pun melanjutkan perjalanan menuju ke toko buku.
Berjalan dengan Bara membuat gadis berhijab itu merasa tidak nyaman karena banyak mata yang memperhatikan. Sebenarnya bukan dia yang diperhatikan oleh kaum hawa itu, tapi makhluk tampan yang berada di dekatnya itu.