
Sejak kejadian itu Nayara sedikit menjaga jarak dengan suaminya. Meskipun sikapnya berusaha tetap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
"Bri, kamu wakilkan papa datang ke pesta Anthony, ya" ujar Edzard ketika mereka lagi sarapan.
"Acara tunangan Rafael?," tanya Abrisam. Papanya hanya mengangguk.
"Aku juga diundang kok, Pa," sambung Abrisam.
"Kamu ajak Nay, dong. Kayaknya kamu nggak pernah mengajaknya keluar atau ke acara-acara lain," saran papanya.
'Tentu saja dia tidak mau mengajak ku karena dia malu punya istri dari kampung seperti ku' jawab batin Nayara miris.
"Kamu mau ikut, Nay?," tanya Abrisam.
Abrisam tahu dari Randy kalau istrinya itu tidak suka keramaian apalagi acara pesta yang membuang-buang waktu, makanya lebih baik dia bertanya dulu apakah Nayara mau ikut atau tidak.
"Kalau diajak," jawab Nayara singkat tanpa ekspresi.
Edzard dan Abrisam saling melempar pandangan. Belakangan ini sikap menantunya itu kenapa kok lebih banyak diam.
***
Mereka berdua pun akhirnya pergi juga ke pesta.
Abrisam memakai jas hitamnya yang ngepas di badan menutupi kemeja marun yang dipakainya. Jas itu tampak membentuk tubuhnya yang atletis sehingga membuat Abrisam semakin menawan.
Nayara masih mematut diri sambil memperhatikan suaminya dari kaca towalet.
'Apa aku pantas bersanding dengan dia yang begitu perfect di mata wanita' batin Nayara.
"Mas, sepertinya aku nggak jadi ikut saja," ucap Nayara merasa tidak percaya diri.
'Apa-apaan dia. Orang dari tadi menunggu dia kok tiba-tiba bilang begitu' gumam batin Abrisam.
"Aku tidak mau pergi sendirian. Aku tunggu di mobil," tegas Abrisam keluar dari kamar.
Abrisam tidak ingin menambah keruh suasana. Melihat sikap Nayara belakangan ini saja membuat kepalanya sakit. Abrisam memikirkan kira-kira apa penyebab istrinya itu menjadi lebih banyak diam.
Tiba di kediaman keluarga Anthony, Abrisam memperkenalkan Nayara kepada rekan-rekan bisnisnya. Banyak yang memuji Abrism karena memiliki istri seperti Nayara.
Abrisam menggenggam erat tangan Nayara sejak dari masuk tadi sehingga menjadi sorotan para tamu.
"Mas, lepaskan tangan ku. Aku bukan anak kecil," bisik Nayara merasa tidak enak.
"Kalau kamu hilang nanti aku repot cariin," canda Abrisam berbisik.
"Kayak pengantin baru aja Bri, gandengan terus," ledek Irvan salah satu rekan bisnisnya.
Abrisam lalu melepas genggaman tangannya karena mendapat tatapan tajam dari Nayara.
Nayara mematuhi pesan suaminya. Sedari tadi memang dia sudah haus tapi segan untuk meminta kepada Abrisam. Nayara mengamati sekeliling ruangan rumah Anthony yang sangat luas. Para tamu berbincang-bincang sambil berdiri, ada yang makan dan minum juga.
'Apa seperti ini pesta orang kaya. Kayak nggak mampu sewa kursi aja. Makan kok sambil berdiri semua,' batin Nayara.
"Nayara!!," panggil suara seorang wanita di belakangnya.
Nayara menoleh ke sumber suara. Dia melihat wanita cantik berambut panjang mengenakan gaun merah menyala dengan belahan rok sampai ke paha. Laki-laki mana pun bisa menikmati paha mulusnya dengan gratis.
"Aura," ujar wanita itu mengulurkan tangannya kepada Nayara.
Mau tak mau Nayara menyambut tangan Aura yang telah memperkenalkan dirinya.
'Ini kah wanita yang telah mencampakkan suami ku dulu,' Pikir Nayara melihat Aura dengan senyum tipisnya.
"Nayara, kamu pasti wanita yang baik hati. Kamu mau kan menolong ku?," ucap Aura dengan wajah sendu. Nayara hanya membisu.
'Memangnya apa yang harus ku tolong,' batin Nayara.
"Aku dan Bri sebenarnya masih saling mencintai. Aku ingin kembali kepadanya, tapi dia tidak tega meninggalkan mu karena kamu udah baik kepadanya" lanjut Aura masih dengan wajah sedihnya. Aura berharap Nayara percaya dengan ucapannya.
Bagai dihantam godam. Hati Nayara hancur berkeping-keping setelah mendengar dari mulut Aura langsung bahwa mereka masih saling mencintai. Jadi cinta Nayara selama ini tidak dianggap sama sekali oleh suaminya.
"Maaf. Aku akan memikirkannya. Permisi"
Nayara sudah tidak sanggup lagi ada di ruangan itu. Dia meninggalkan Aura begitu saja menembus keramaian mencari Abrisam.
Aura tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil menyakiti hati Nayara.
"Mas, kita pulang sekarang," ajak Nayara.
"Lho acaranya belum mulai Nay, maaf kalau kelamaan Mas ambil minumnya," ujar Abrisam heran.
Nayara tidak memperdulikan lagi ucapan suaminya. Dia tetap berjalan menebus keramaian tamu undangan yang terus berdatangan. Abrisam mau tak mau mengikuti langkah Nayara dan menyerahkan gelas minumannya kepada waiters.
Nayara menghempaskan badannya di jok mobil. Abrisam tidak tahu bahwa dialah penyebab suasana hati Nayara menjadi kelabu.
"Nay, kita belum berpamitan dengan Rafael. Masa main pergi aja," protes Abrisam.
"Kalau Mas masih betah di pesta itu. Mas masuk lagi sana. Aku naik taksi saja," ujar Nayara hampir berteriak.
Air mata yang ditahannya dari dalam tadi tidak terbendung lagi. Tangisnya pecah. Sikap Nayara membuat Abrism tambah bingung.
"Iya.Iya. Kita pulang. Nggak usah pake nangis segala" ucap Abrisam tanpa rasa bersalah.
Abrisam menghidupkan mobilnya lalu meninggalkan rumah Anthony.