A Marriage

A Marriage
Part 20: Bertemu Aura



"Bik, isi kulkas kayaknya udah sedikit. Makan malam nanti Mas Bri minta dibuatin pindang tulang. Kayaknya kita ke mall aja,deh," ujar Nayara sambil memeriksa isi kulkas yang hampir kosong itu.


"Iya. Kita pergi sekarang, Non ?," tanya Bik Tuti juru masak di keluarga Edzard.


"Iya mumpung masih siang, Bik," jawab Nayara.


Tiba di mall Nayara menyempatkan diri membeli perlengkapan pribadinya. Setelah itu baru mencari bahan-bahan untuk makan mereka sekeluarga.


"Wah, banyak juga yah belanjaan kita," ucap Nayara.


Barang belanjaan mereka sudah dibawa Randy ke mobil. Sebelum Nayara dan Bik Tuti lanjut mengelilingi mall.


"Lapar juga nih keliling-keliling mall. Eh Bik kita makan di sana dulu, yuk" ajak Nayara menunjuk salah satu food court. Bik Tuti hanya mengangguk setuju ke mana pun majikannya mengajak makan.


Setelah masuk, mata Nayara dan Bik Tuti mencari-cari tempat duduk yang kosong.


Mata Nayara tiba-tiba berhenti ketika melihat sosok laki-laki yang seperti suaminya sedang duduk berdua saja dengan seorang wanita yang sangat cantik sekali di mata Nayara.


Benar itu memang suaminya. Abrisam. 'Dengan siapa dia?' batin Nayara sambil  terus memperhatikan.


"Bik, itu bukannya Mas Bri?," tunjuk Nayara bertanya kepada Bik Tuti untuk memastikan lagi kalau memang dia tidak salah lihat.


"Iya Non, benar. Tapi kok, bisa sama Non Aura, ya?," ucap Bik Tuti heran.


"Aura?," Gumam Nayara tampak berpikir. Aura itu siapa?


"Itu lho, Non. Calon istri tuan Bri sebelum nikah sama Non Naya," jawab Bik Tuti santai.


Mulut Nayara menganga mengetahui fakta di depan matanya. Dada Nayara pun  bergemuruh melihat suaminya ternyata janjian bertemu dengan mantan calon istrinya itu.


'Jadi mereka masih berhubungan di belakang ku' batin Nayara. Hatinya terasa teriris sembilu. Sakit sekali.


"Kita cari tempat makan lain saja, Bik," ajak Nayara meninggalkan food court itu sambil menahan sesak di dadanya agar tidak tumpah tangisnya di tempat umum.


***


'Pantas saja Mas Bri tidak pernah mengucapkan kata cintanya kepada ku. Rupanya dia masih mencintai wanita itu. Selama ini cinta ku tidak ada artinya di mata mas Bri,' gumam Nayara terisak.


"Tega sekali kamu, Mas," isak Nayara.


"Aku memang tidak sebanding  dengan wanita itu. Aku hanya wanita kampung yang tidak pantas bersanding dengan laki-laki seperti kamu,"


Nayara menghapus air matanya. Setelah Abrisam kembali normal, mungkin dirinya tidak dibutuhkan lagi oleh laki-laki seperti suaminya itu.


***


Ketika malam hari.


Suasana makan malam tampak hening. Abrisam melirik Nayara yang duduk di sampingnya. Edzard juga merasakan ada aura yang kurang enak makan malam hari ini.


Biasanya menantunya itu selalu mengajak bicara disela mereka makan malam, kini sunyi. Hanya ada suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring masing-masing.


Abrisam yang tidak merasakan sikap diam Nayara karena ulahnya itu  tampak biasa saja.


"Nay, duluan Pa,"


Nayara berdiri dari kursi lalu kembali ke dapur. Pikir Nayara, Abrisam tidak akan menyusulnya karena banyak pelayan di sana.


Edzard dan Abrisam saling pandang. Papanya menatap seolah bertanya 'Ada apa?'.


Abrisam hanya menggendikkan kedua bahunya tanda dia tidak tahu.


Tidak biasanya Nayara bersikap cuek dan acuh seperti tadi. Edzard yakin pasti telah terjadi sesuatu yang dia tidak ketahui.