
Sehari sebelum kepulangan suaminya, Nayara sudah berada di rumah mertuanya lagi. Hari ini, Abrisam rencana akan pulang dari Jepang. Nayara sangat merindukan suaminya itu. Selama di kampung, mereka tidak pernah saling berkomunikasi karena jaringan telpon di sana belum ada.
Nayara hanya menunggu di rumah. Dia bergegas keluar kamar ketika mendengar suara bunyi klakson mobil yang biasa dibawa Erik. Nayara tersenyum menyambut kedatangan suaminya. Abrisam pun melangkahkan kakinya keluar dari pintu mobil. Nayara segera mendekat dan dengan sigap menuntun tangan suaminya. Abrisam begitu kaget dibuatnya, tiba-tiba seorang wanita berjilbab meraih tangannya.
'Inikah istriku' batin Abrisam sambil memperhatikan Nayara yang baru dia lihat untuk pertama kalinya.
Edzard dan Erik hanya tersenyum melihat Nayara begitu cekatan menuntun Abrisam berjalan. Memang Nayara belum mengetahui kabar bahagia dari suaminya itu. Nayara lalu membawa suaminya sampai ke dalam kamar. Dia tahu pasti suaminya kecapekan karena telah melakukan perjalanan jauh.
"Sudah lepaskan tanganku," ujar Abrisam risih. "Kamu siapa?," sambung Abrisam pura-pura tidak kenal.
Nayara begitu terkejut. Dia refleks langsung melepaskan genggaman tangannya di pergelangan Abrisam.
'Apa!! Mas Bri tidak kenal dengan ku?' tanya batin Nay heran.
"Aku, Nayara istri Mas. Masa baru satu minggu di Jepang udah lupa sama istri sendiri," ujar Nayara cemberut bercampur heran. Ada apa dengan suaminya?
Abrisam tersenyum geli melihat wajah cemberut istrinya. Inikah wajah wanita yang sudah bersamanya dalam duka selama satu tahun.
"Nggak usah cemberut begitu, ntar tambah cantik lagi," celetuk Abrisam. Sontak Nayara kaget. Bagaimana suaminya tahu kalau mukanya lagi cemberut.
"Kok, Mas tahu aku lagi cemberut?," selidik Nayara.
Abrisam lalu menangkupkan kedua tangannya di wajah Nayara.
"Bola mata kecoklatan, alis yang hitam, bulu mata yang lentik, bibir yang merah merekah. Inikah wajah cantik istriku," ucap Abrisam tersenyum. Baginya Nayara adalah wanita yang paling cantik dalam hidupnya.
"Mm...ma...mas," Nayara menjadi gugup.
'Apa mungkin dia bisa melihat wajahku. Ah tidak mungkin, bisa saja dia bertanya dengan Randy ciri-ciri wajahku' batin Nayara tidak percaya.
"A...apa Mas beneran sekarang bisa melihat?," tanya Nayara bingung. Abrisam hanya mengangguk tersenyum.
"Bagaimana bisa, Mas?," tanya Nayara tambah bingung.
"Semua karena doa kamu setiap malam, aku mendengarnya," jawab Abrisam tersenyum lagi.
Ah, Nayara jadi malu memang setiap selesai sholat malam dia tak lupa mendoakan kesembuhan suaminya.
"Nanti aku ceritakan, sekarang aku ingin melepas rindu dulu dengan istriku ini," tatap Abrisam mesra.
Bagi Nayara tatapan itu kini menjadi berbeda, tatapan yang bisa merespon balik tatapan matanya. Hatinya menjadi dag dig dug mendapat tatapan intens suaminya. Abrisam mendekatkan wajahnya lalu memagut bibir Nayara.
Gelora rindunya begitu menggebu kepada wanita yang dengan tulus telah menemaninya menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya.
"Mm...Mas, apa tidak capek mau langsung...?" tanya Nayara malu.
"Aku akan capek...kalau kamu ingin menghindar," jawab Abrisam mencubit gemas pipi Nayara.
Nayara tertawa geli sambil mendorong pelan badan Abrisam. "Nay, mau ke mana kamu?"
"Mas, apa nggak capek berdiri terus kan enakan di tempat tidur," jawab Nayara tersenyum malu.
Nayara sudah duduk di tepi ranjang menunggu suaminya untuk memadu kasih.
"Kamu ini, ya," Abrisam jadi salah tingkah sendiri. Dikiranya Nayara akan menolak keinginannya itu.