
Tiga hari berlalu, Alfian pun sadarkan diri meskipun keadaannya masih sangat lemah. Alfian tidak banyak bicara setelah tahu bahwa istrinya sudah pergi untuk selamanya. Hatinya merasa hampa telah kehilangan belahan jiwanya.
Ketika Sabiya tidak ada di ruangan karena sedang sholat. Alfian pun berbicara kepada Bara.
"Bara, aku ingin kau menikah dengan Sabiya. Aku akan tenang jika Biya ada yang menjaganya" ucap Alfian pelan.
"Kau ini bicara apa, Fian. Kau akan baik-baik saja" tepis Bara. Hatinya cemas mendengarkan ucapan sahabatnya itu. Alfian bicara seperti itu seolah-olah dia mau pergi juga.
"Berjanjilah" ujar Alfian sambil menggenggam tangan Bara.
"Aku ingin melihat kalian menikah sebelum aku pergi" ucap Alfian dengan pandangan kosong menatap langit-langit kamar.
"Fian!" seru Bara membalas genggaman tangan sahabatnya itu.
"Aku mohon" ujar Alfian tanpa menatap wajah Bara.
"Baiklah. Aku tidak bisa melakukanya sendirian. Orang tuaku harus tahu" ucap Bara setuju.
"Halalkan anakku dulu, agar aku bisa tenang" gumam Alfian. Bara hanya mengangguk.
Tak lama kemudian Sabiya sudah kembali ke kamar inap papanya. Bara pun berpamitan untuk kembali ke kantor dan mengurus pernikahannya.
Setelah Bara pergi, Alfian pun menyampaikan niatnya kepada Sabiya.
"Pa, jangan bicara begitu. Papa lah yang akan menjagaku" tepis Sabiya.
"Biya, suatu saat nanti kamu juga akan menikah kan. Tapi papa ingin melihatmu segera menikah dengan pilihan papa" ucap Alfian.
"Tapi Om Bara belum tentu mau, Pa" ujar Sabiya menundukkan kepalanya.
"Dia itu sayang dengan Biya sejak kecil. Bara selalu mencium pipi kamu karena gemas" ujar Alfian mengenang masa lalu.
Sabiya begitu terkejut lalu memegang pipinya. "Ya, Tuhan. Om Bara pernah mencium pipiku" batin Sabiya tersenyum malu. Untungnya waktu itu dia masih kecil.
***
Bara pun menghubungi ke dua orang tuanya. Mereka pun tahu dengan keakraban Bara dan Alfian. Kedua orang tua Bara juga tersentuh mendengarkan bahwa istri Alfian baru saja meninggal dunia. Semua urusan sudah selesai.
Keesokan harinya
Prosesi akad nikah dilangsungkan di kamar inap Alfian. Penghulu dan beberapa orang saksi dan kedua orang tua Bara sudah hadir. Tidak ada pakaian pengantin layaknya pasangan pengantin yang akan melangsungkan acara akad nikah. Sabiya hanya memakai gamis berwarna putih, sementara Bara hanya memakai baju Koko berwarna putih juga.
Alfian menjabat tangan Bara, sahabatnya. Dengan pelan dia mengucapkan kalimat Ijab dan dibalas oleh Bara dengan kalimat Qabul. Kini Sabiya telah menjadi halal bagi Bara. Alfian bisa bernapas lega. Sabiya menitikkan air matanya. Bukannya dia tidak bahagia bisa menjadi istri dari laki-laki tampan itu. Tapi dia sedih mengapa pernikahannya harus seperti ini.
Mama Bara memeluk menantunya itu. Alfian menoleh melihat anak gadisnya bisa mendapatkan pengganti papa dan mamanya. Perlahan Alfian menutup kelopak matanya tanpa ada yang menyadarinya. Laki-laki itu tersenyum setelah menghembuskan napas terakhirnya.
Bara ikut tersenyum melihat Sabiya di dalam pelukan mamanya. Dia pun melirik ke arah Alfian. Senyum Bara meredup melihat sahabatnya itu memejamkan matanya.
"Fian ..." panggil Bara sambil menyentuh pundak Alfian. Sontak yang lainnya ikut menoleh ke arah ranjang pasien.
"Fian!" panggil Bara lagi dengan suara yang agak keras. Alfian bergeming. Bara meletakkan jarinya di lubang hidung Alfian. Laki-laki itu tercekat. Tidak ada hembusan napas lagi dari sana.
"Pa ... Papa!" Sabiya pun ikut memanggil papanya.
"Biya" Bara melihat Sabiya dengan wajah sedih. "Papamu ... telah pergi."
"Tidak ..." Sabiya menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Tidak!!."
Sabiya mengguncang tubuh kaku papanya. "Papa bangun!! Jangan tinggalkan aku!!" teriak Sabiya memeluk papanya sambil menangis tersedu-sedu.
"Papa!!!" teriakan Sabiya begitu pilu terdengar.
Tanah kuburan mamanya saja masih merah. Kini dia pun harus mengantar papanya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
***
Sabiya hanya mengurung diri di dalam kamarnya. Sejak pulang dari pemakaman papanya, dia langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Kasihan sekali Biya harus kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu yang dekat sekali" gumam mama Bara yang rencananya akan menginap di rumah Bara.
"Bara, kamu selain menjadi suami juga sebagai pengganti kedua orang tuanya yang menjaga dan melindunginya" pesan Sandiaga.
"Iya, Pa"
"Mama mau melihat Biya dulu. Dia belum makan sama sekali" ucap mama Bara beranjak dari tempat duduknya.
Wanita paruh baya itu menuju ke kamar Sabiya. Pintu kamar tidak dikunci. Dia melihat Sabiya masih memakai gamis putih akad nikah tadi. Sabiya duduk di atas ranjang sambil memeluk kedua lututnya.
"Biya" panggil Mama Bara sambil duduk di tepi ranjang.
"Mama bawakan makanan. Kamu belum makan kan" ucap mama mertua Sabiya sambil mengusap punggung menantunya itu.
Sabiya mengangkat kepalanya melihat mertuanya. "Kamu tidak perlu takut. Mama dan papa yang akan menggantikan kedua orang tuamu. Ada Bara juga yang akan menjaga dan melindungi kamu" ucap mama Bara sambil tersenyum untuk menghibur duka di hati menantunya itu.
"Terima kasih, Ma" Sabiya memeluk mertuanya itu sambil menangis. Mama Bara pun tidak dapat menahan air mata. Dia pun ikut menangis.
Tak lama kemudian, Bara melihat mamanya turun dari tangga. "Bagaimana, Ma. Dia mau makan?" tanya Bara.
"Iya. Biarkan saja dia sendirian dulu" ucap mama Bara. Bara bisa mengerti dengan musibah yang dialami Sabiya yang begitu beruntun.
Beberapa hari kemudian
Sabiya sudah beraktivitas seperti biasanya. Dia juga sudah pergi ke kampus lagi. Tidak ada temannya yang tahu bahwa dia telah menikah dengan Bara.
"Hei, kamu ke mana saja Biya?. Tiba-tiba menghilang beberapa hari ini" tanya Elsa.
"Papa dan mamaku kecelakaan. Mereka sudah meninggal" jawab Sabiya menundukkan kepalanya.
"Innalilahi wainnailaihi rojiun. Kenapa kamu tidak memberitahu kami?" ujar Irma.
"Aku tidak kepikiran lagi karena melakukan proses pemakaman mamaku dan menjaga papaku di rumah sakit. Tidak lama mama pergi, papa pun menyusulnya" jelas Sabiya.
"Ya, Allah, Biya. Kami ikut berduka. Sedih sekali rasanya kehilangan kedua orang tua sekaligus begitu" Elsa dan Irma pun memeluk Sabiya.
"Terima kasih, teman-teman" ucap Sabiya lirih.
Di tempat lain
Bara sedang mengurus usaha percetakan Alfian yang telah ditinggalkan sahabatnya. Dia akan menyuruh orang kepercayaannya untuk mengolahnya. Karena bagaimanapun usaha percetakan itu adalah warisan untuk istrinya.