A Marriage

A Marriage
Part 6



Sudah empat bulan Sabiya berada di rumah Bara. Lama kelamaan ada rasa risih juga dia berada di rumah laki-laki yang bukan mahramnya. Terbesit dibenak Sabiya ingin mencari kontrakan saja. Sikap Bara yang perhatian dan protect kepadanya membuat Sabiya salah tingkah. Padahal sikap itu hanyalah bentuk tanggung jawab Bara kepada papanya.


Drettt. Drettt. Drettt


Bara melihat ponselnya berbunyi di atas meja kerjanya.


"Alfian!" laki-laki berparas tampan itu menggeser gagang hijau di layar ponselnya.


"Waalaikumsalam. Ada apa, Fian?" tanya Bara. Baru juga dua hari yang lalu sahabatnya itu menelponnya untuk menanyakan kabar putrinya.


"Hari ini aku dan Alina mau menengok Biya, tapi jangan beritahu dia, ya. Aku mau membuat kejutan untuknya"cerita Alfian sambil menyetir mobilnya. Mereka sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Bara.


"Oke. Biya pasti senang sekali" ucap Bara.


"Kamu nggak usah repot-repot, kami tidak akan menginap di rumahmu" ujar Alfian sambil melirik istrinya. Alfina hanya tersenyum.


Bara hanya mengiyakan saja. Tidak mungkin ada teman lamanya berkunjung di rumah tidak ada apa-apa. Setelah Alfian menelponnya, dia pun segera menelpon Bik Mia.


"Sayang, aku mau menjodohkan Bara dengan anak kita. Bagaimana?. Kamu setuju tidak?" toleh Alfian ke arah istrinya.


"Tapi Biya masih kuliah, Pa"


"Bara bisa menjaga Biya jika kita tidak ada. Aku lebih percaya kepadanya daripada laki-laki lain"


"Tapi apa Bara setuju dengan rencana Papa. Biya itu masih polos, Pa. Di otaknya masih memikirkan belajar saja. Mana ada cowok yang dekat dengannya seperti gadis lain" ujar Alina.


Perjalanan dari luar kota menuju ke tempat tujuan masih cukup jauh. cuaca di luar mulai tampak gelap. Pertanda hujan deras tidak lama lagi akan turun.


Di kampus


Sabiya dan teman-temannya tampak sedang menikmati makan siang di kantin.


"Eh, Biya. Om Bara itu masa, sih, nggak ada pacar?" tanya Elsa tidak percaya.


"Ya, mungkin dia nggak mau pacaran kali. Maunya langsung menikahi gadis yang dicintainya" jawab Irma.


"Nggak tahu. Itu urusan pribadi orang" sela Biya.


"Tapi dia perhatian sekali dengan kamu. Udah seperti pasangan kekasih saja kalian" ujar Elsa.


"Kalian ngomong apa, sih. Mana maulah dia dengan gadis serba tertutup seperti ku ini" elak Sabiya. Meskipun jantungnya berdebar juga jika berada di dekat laki-laki yang seusia papanya itu.


"Yeay, emang kamu tahu darimana kalau Om Bara tidak suka dengan gadis berpakaian tertutup seperti kita ini?" selidik Irma.


"Ya, dari semua teman wanitanya, aku perhatikan tidak ada yang menutup aurat" jawab Sabiya.


"Itukan hanya teman" timpal Elsa.


"Ah, sudah ... sudah. Kok, kita membahas Om Bara terus, sih. Nanti orangnya tersedak. Siapa tahu dia sedang makan siang juga" ucap Sabiya sambil melanjutkan makannya. Irma dan Elsa pun tertawa kecil.


Setelah mata kuliah mereka selesai, ketiga gadis itu pergi ke mall untuk mencuci mata. Ponsel Sabiya lowbat jadi dia tidak menghubungi Bara untuk memberitahunya.


Di kantornya, Bara mendapatkan telpon dari rumah sakit. Laki-laki tampan itu bergegas menuju ke rumah sakit yang diberitahu oleh pihak polisi yang sudah mengevakuasi korban kecelakaan. Pihak polisi melihat panggilan terakhir di ponsel korban.


"Maaf, Pak Bara. Istri korban tidak dapat kami selamatkan. Dia meninggal ketika dalam perjalanan ke rumah sakit" jawab Dokter Irfan.


Bara terdekat. "Ya, Tuhan" gumamnya sambil memejamkan matanya.


"Pak Alfian masih dalam keadaan kritis" sambung Dokter Irfan sambil menepuk pundaknya.


Bara segera mengurus proses pemakaman Alina, mama Sabiya. Dia bingung bagaimana cara menyampaikannya kepada gadis itu. Musibah ini pasti akan membuatnya terpukul. Bara memutuskan untuk pulang ke rumah.


Emosi Bara pun memuncak ketika pulang, Sabiya tidak ada di rumah. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Dia duduk di sofa sambil menunggu gadis itu pulang. Di luar rumah, Sabiya berjalan pelan masuk ke dalam rumah.


"Om Bara" bisik Sabiya melihat Bara sedang menatap tajam ke arahnya.


"Darimana?. Kenapa ponsel kamu dimatikan?" tanya Bara sambil bersilang dada.


"Bukan dimatikan, Om. Tapi mati sendiri karena habis baterai dan aku lupa membawa power bank" jelas Sabiya.


"Darimana?" tanya Bara lagi dengan nada pelan.


Sabiya menggigit bibirnya. Dia tahu Bara pasti akan marah dengannya. Gadis itu hanya diam saja.


"Darimana, Sabiya Awalina?!!" tegas Bara dengan suara menggelegar di ruang tengah sambil berdiri mendekati gadis itu. Bik Mia yang baru kali ini mendengar suara majikannya sekeras itu segera berlari mengintip dari balik pintu dapur.


"Tidak perlu berteriak seperti itu, Om!" protes Sabiya kesal. "Tidak semua kegiatanku di luar harus aku laporkan dengan Om."


"Oh, ya" cibir Bara. "Kau sudah bersenang-senang di luar dan tidak bisa dihubungi sementara orang tua mu sedang meregang nyawa."


Mata Sabiya membulat. Ada apa dengan orang tuanya. "Apa maksud, Om?. Kalau bicara itu yang jelas."


"Orang tuamu kecelakaan mobil ketika mau menuju ke sini. Mereka ingin bertemu denganmu" jawab Bara.


"Apa??!!" Sabiya tidak percaya mendengarkan ucapan Bara.


"Biya" panggil Bara dengan suara berat. Rasanya tidak terucap di bibirnya untuk memberitahu kabar mamanya.


"Bagaimana keadaan mereka, Om?. Ada di rumah sakit mana?"


"Biya ... mamamu sudah meninggal. Papamu sekarang sedang kritis" jawab Bara dengan raut wajah sedih.


Sabiya menatap Bara tidak percaya. Mamanya telah pergi untuk selamanya. Tidak!!!. Kaki Sabiya melemas dan duduk terkulai di lantai.  Gadis itu menangis tanpa suara.


"Om pasti bercanda, kan?" ucap Sabiya berlinang air mata.


Rasanya Bara ingin merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Tapi apa daya mereka berdua bukan mahram. Bara membiarkan Sabiya meluapkan rasa sedihnya sejenak. Bik Mia yang mendengarkan dari dapur ikut menitikkan air matanya.


"Biya, mamamu akan dimakamkan sore ini. Kita ke rumah sakit" ajak Bara. Tidak ada keluarga lain yang bisa dihubungi. Kedua kakek dan nenek Sabiya sudah lama meninggal. Om dan Tante Sabiya dari kedua keluarga juga tidak saling menghubungi karena kesibukan mereka dan tidak tinggal di kota yang sama.


Proses pemakaman telah dilaksanakan. Tidak ada orang lain di sana selain penghuni rumah Bara. Bara menunggu Sabiya yang masih terduduk di samping nisan mamanya. Entah bagaimana nasib sahabatnya, Alfian. Jika dia menghembuskan nafas terakhirnya juga maka Sabiya akan menjadi anak yatim-piatu.


Bara mengajak gadis itu untuk meninggalkan pemakaman. Mereka akan kembali ke rumah sakit. Di rumah sakit, Sabiya pun duduk di samping papanya. Hanya laki-laki itu yang dia miliki sekarang. Tanpa sadar air matanya mengalir di sudut matanya.