
Abrisam cepat-cepat ke kamar mandi karena tidak tahan lagi ingin memuntahkan semua isi perutnya yang baru saja selesai sarapan pagi.
"Mas!!," Nayara cemas melihat suaminya yang bergegas ke kamar mandi.
"Masih muntah-muntah juga?," tanya Edzard mertuanya.
"Iya, Pa. Padahal Mas Bri nggak ada penyakit maag, kan?," jawab Nayara sambil bertanya.
"Iya, nggak ada. Lambungnya sehat," jelas Edzard.
'Rencananya hari ini Mas Bri, kan mau mengajak ku periksa ke dokter untuk memastikan apakah memang benar aku hamil. Tapi kalau kondisi dia saja begitu bagaimana bisa pergi' batin Nayara sambil menyusul Abrisam ke kamar mandi.
Tiba di depan pintu kamar mandi Abrism sudah keluar. "Mas nggak apa-apa, kan?," tanya Nayara cemas melihat wajah suaminya tampak pucat.
Abrisam mengangguk lalu berjalan ke arah meja makan.
"Mas, lain kali aja kita ke dokternya," ucap Nayara.
"Nggak apa. Ke dokter tetap jadi, Nay," balas Abrisam yakin.
Abrisam masih tetap menginginkan Nayara periksa ke dokter padahal sudah dua tes pack dicoba Nayara, hasilnya positif semua. Abrisam masih belum yakin juga.
"Biar Randy saja yang bawa mobil, Bri," sela Edzard.
"Iya, Mas. Aku khawatir kalau Mas yang bawa mobil," timpal Nayara setuju dengan saran mertuanya.
Akhirnya Randy yang mengantar pasangan itu ke rumah sakit menemui dokter kandungan.
"Selamat ya, Pak. Istri Bapak memang sedang hamil," ucap dokter Aliya setelah selesai memeriksa Nayara.
"Terima kasih, Dok," Abrisam tersenyum lebar melihat hasil USG yang diberikan dokter Aliyah kepadanya.
"Nay, lihat calon bayi kita," tunjuk Abrisam tersenyum kepada Nayara yang duduk di sampingnya.
"Iya, Mas," sahut Nayara.
"Masalah keluhan Pak Abrisam. Dinikmati saja ya, Pak. Karena nggak ada obatnya kalau soal ngidam," ujar dokter Aliyah tersenyum.
Abrisam memang sempat cerita kepada dokter Aliyah kenapa dia sering mual dan muntah padahal tidak ada penyakit maag.
Nayara tertawa kecil mendengar ucapan dokter Aliyah.
"Baiklah, Dok. Terima kasih. Kami permisi dulu," ucap Abrisam mengajak Nayara keluar dari ruangan dokter Aliyah.
***
Ketika masuk jam makan siang, Abrisam makan dengan lahap. Tidak dia rasakan lagi mual dan ingin muntah seperti ketika di pagi hari.
"Mas, makannya pelan-pelan," ujar Nayara tersenyum geli melihat suaminya makan begitu lahap.
Karena pagi tadi Abrisam sudah mengajak Nay ke dokter, dia tidak ke kantor hari ini. Badan Abrisam lemas makanya dibalas ketika makan siang.
"Alhamdulillah, kenyang juga," ucap Abrisam.
Nayara lega melihat suaminya sudah tidak memuntahkan isi perutnya setelah makan.
Namun keesokan harinya hal yang sama terulang kembali. Pagi setelah sarapan Abrisam muntah-muntah lagi.
Hari berikutnya dia tidak mau sarapan pagi. Tapi tetap mual dan mau muntah.
"Ya Allah, jika memang apa yang ku alami ini sama rasanya seperti wanita yang sedang hamil muda. Sungguh luar biasa wanita yang sedang hamil itu bisa menanggung morning sickness begini," gumam Abrisam memejamkan matanya.
Sementara Nayara yang sedang hamil malah biasa saja. Sedikit pun dia tidak mual dan ingin muntah. Nayara pun menjadi kasihan melihat Abrisam yang menanggung morning sickness nya.
Abrisam menarik Nayara ke dalam pelukannya. Wanita yang telah memenuhi ruang hatinya itu. Wanita yang tanpanya, entah apa jadinya Abrisam.
"Mas!!," panggil Nayara. Kepalanya sudah terbenam ke dalam dada Abrisam.
"Biar aku saja yang menanggung rasa ngidam kamu," ucap Abrissm.
"Nggak usah. Oya, nanti temani Mas cari rujak yah. Kok malah pengen makan rujak," pinta Abrisam.
Nayara tertawa geli. 'Benar-benar deh yang ngidam ini suami ku' batin Nayara.
"Kenapa tertawa?," tanya Abrisam mengurai pelukannya.
"Kok aku malah nggak kepingin makan rujak, Mas. Ini yang hamil siapa?," jawab Nayara masih tertawa.
"Ihh. Ini pasti Mas dulu pernah ngejek
Ibu hamil ya, kan?," tuduh Nayara tersenyum simpul.
"Eh, sembarangan saja main tuduh begitu," Abrisam tidak terima dituduh Nayara begitu.
"Becanda kok, Mas. Habisnya heran aja, kok bisa suaminya yang ngidam," ujar Nayara.
***
Seperti keinginan Abrisam yang mau makan rujak. Nayara membelikan beberapa buah-buahan untuk dirujak dan dia sendiri yang membuatkan bumbu rujaknya.
"Ya Allah. Tuan Bri, tumben mau makan rujak?," seloroh Randy melihat Abrisam lahap memakan rujak yang sudah dibuatkan oleh Nayara.
"Udah diam saja, kamu kayak nggak tau saja ada yang sedang hamil di rumah ini," sungut Abrisam melanjutkan makannya.
Randy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 'Jadi beneran ini yang ngidam Tuan Bri' batin Randy tersenyum geli.
"Mm, enak Ran. Kamu mau nggak? Tuh, Nay buat banyak di dapur," lanjut Abrisam menawari Randy dengan mulut yang masih penuh rujak.
Hampir saja air liur Randy menetes melihat Abrisam memasukkan mangga muda ke dalam mulutnya.
"Iya, deh. Kalau banyak nggak nolak, sih," sahut Randy lalu berjalan menuju dapur menemui Nayara.
"Nay, jadi bener Tuan Bri yang ngidam?," Tanya Randy masih kurang yakin ketika di dapur menemui Nayara.
"Begitulah, Ran. Aku malah nggak kepengen makan rujak. Aku membuatkan untuk Mas Bri aja," jawab Nayara menyimpan sisa buah ke dalam kulkas.
"Lucu ya. Baru kali ini aku lihat ada suami yang ngidam ketika istrinya hamil," gumam Randy.
"Hahaha, kata dokter dinikmati saja," ucap Nayara tertawa.
"Makasih ya rujaknya, Nay. Aku nggak tahan buahnya masam semua," ujar Randy menyeringai lalu meninggalkan dapur.
"Hm, iya juga sih. Mangga muda, kedondong dan nanas ini asam. Eh, jambu airnya juga masam," gumam Nayara mencicipi jambu air yang belum dicampur bumbu rujak. Nayara menyipitkan matanya karena keaseman.
"Tapi, kok Mas Bri asik banget makannya," ucap Nayara. Dia penasaran lalu mengintip Abrisam yang duduk di meja makan sambil menikmati rujak buatannya.
Nayara berjalan mendekati suaminya dan melihat ekspresi wajah Abrisam yang sedang makan rujak tampak biasa saja tidak seperti orang yang sedang keaseman.
"Mas!!," Panggil Nayara.
"Hmm"
"Nggak asem apa?," tanya Nayara penasaran melihat Abrisam masih makan rujak dengan lahap.
"Nggak, biasa aja. Kamu nggak mau coba?," Tawar Abrisam menyodorkan mangga muda yang dicocol bumbu rujak.
Nayara menggelengkan kepalanya. "Jangan banyak-banyak Mas, nanti sakit perut pula," pesan Nayara.
"Iya sayang. Tapi masih ada untuk stok besok, kan?," tanya Abrisam.
"Besok masih mau makan ini?," Nayara balik bertanya.
Abrisam mengangguk. 'Ya Allah, Mas. Benar-benar kuasa Allah ini. Siapa sangka aku yang hamil justru Mas Bri yang ngidam' batin Nayara tersenyum.
***