365 Days For Love

365 Days For Love
Bab 9



Thien Chi berdiri dari kursinya, dia mengambil kalung dari dalam kotak dan memakaikan kalung itu ke leher Qing Xia.


"Kuharap kau tidak akan kehilangan kalung lagi." Ucap Thien Chi lalu kembali ke tempat duduknya.


Pelayan mengantarkan makanan. Thien Chi membantu memotong kecil-kecil steak yang dipesan oleh Qing Xia.


"Silakan di makan." Ucap Thien Chi seraya meletakkan piring steak yang sudah dipotong di depan Qing Xia.


Qing Xia kebingungan melihat sikap Thien Chi yang sangat berbeda.


"Apa yang dilakukannya lagi kali ini? Dia memotong steak untukku? Apa aku sedang bermimpi?" Batin Qing Xia.


"Tanganmu kan sedang sakit. Aku membantu mrmotongnya agar kamu bisa makan dengan nyaman." Ucap Thien Chi saat melihat wajah bingung istrinya yang terdiam.


"Sepertinya Thien Chi juga ingin memperbaiki hubungan pernikahan kami yang salah sejak awal. Bolehkah aku merasa bahagia?" Batin Qing Xia.


Qing Xia memasukkan sepotong steak ke dalam mulutnya.


"Ini enak..." Ucapnya sambil tersenyum.


Thien Chi mulai menikmati makanannya. Qing Xia membeku sesaat ketika melihat Thien Chi memasukkan seekor udang ke dalam mulut.


"Bukankah kau alergi udang?" Tanya Qing Xia buru-buru sebelum Thien Chi mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Aku memang alergi, tapi aku ingin mencobanya karena kau menyukai makanan ini."


Srukkk!


Qing Xia berdiri dari kursinya, dia berjalan ke tempat duduk Thien Chi.


"Muntahkan!" Perintah Qing Xia sambil menyodorkan telapak tangan di depan bibir Thien Chi.


Thien Chi tersenyum tipis, dia mulai mengunyah makanannya sambil menatap wajah Qing Xia yang terlihat khawatir dan panik.


"Tidak ada cara lain!" Pikir Qing Xia.


Qing Xia menarik kerah baju Thien Chi, dia menempelkan bibirnya ke bibir pria itu lalu mencuri semua isi di dalam mulut Thien Chi.


Thien Chi tersenyum, dia menikmati semua yang dilakukan oleh istrinya. Tanpa ragu-ragu, dia mulai menahan kepala Qing Xia agar tetap menempelkan bibir mereka.


Ciuman yang tadinya kasar berubah lembut dan hangat. Qing Xia memejamkan mata, menikmati tautan bibir mereka yang dimulai dalam kondisi terpaksa. Namun sekarang berubah menjadi keinginan yang terpendam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Thien Chi dan Qing Xia tiba di rumah, Qing Xia menaiki anak tangga terlebih dulu untuk masuk ke kamar. Wajahnya masih merah karena teringat dengan apa yang ia lakukan di restoran tadi.


Qing Xia masuk ke dalam kamar, dia memegang dadanya yang masih terdengar degupan kencang dari jantungnya yang berdebar-debar.


"Apa yang kulakukan tadi? Sepertinya aku sudah gila!" Teriaknya dalam hati sambil mengacak-acak rambutnya.


Setelah menenangkan diri, Qing Xia masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengisi bath tub dengan air hangat lalu masuk ke dalam bath tub yang sudah diberi aroma bunga mawar.


Qing Xia memejamkan matanya sambil menikmati aroma dari air hangat di bath tub.


Blush!


Drtttt Drtttt!


Ponsel Thien Chi berbunyi, dia mengeluarkan ponselnya dan melihat nama asisten Lu Han di layar ponsel.


"Ada apa?" Tanya Thien Chi setelah menekan tombol jawab di layar.


"Saya berada di depan rumah Pak CEO, ada yang ingin saya berikan kepada anda. Bisakah saya meminta waktu anda sebentar?"


Thien Chi mematikan ponselnya, dia berjalan ke pintu depan dan membuka pintu untuk Asisten Lu Han.


Lu Han berdiri menunggu di depan pintu sejak melihat bos nya masuk ke dalam. Dia memegang plastik berisi sebotol obat alergi dan air mineral di tangan kirinya.


"Kenapa kau datang kemari malam-malam?" Tanya Thien Chi kepada asistennya.


"Saya membawakan obat alergi untuk anda." Jawab Lu Han sambil menyerahkan obat kepada Thien Chi.


"Terima kasih." Ucap Thien Chi mengambil dan meminum obat yang diberikan oleh Asisten Lu Han.


Asisten Lu Han sudah memprediksi hal ini begitu mendengar bos nya akan makan malam bersama istrinya. Sejak pacaran, Thien Chi selalu memesan makanan kesukaan Qing Xia walaupun ia alergi terhadap udang.


Meskipun tidak banyak, Thien Chi selalu mencoba makanan itu agar mengetahui rasa dari makanan kesukaan Qing Xia. Setelah pulang dari makan bersama, Thien Chi selalu meminta Asisten Lu Han untuk menyiapkan obat alergi.


Sejak saat itu, setiap kali Thien Chi dan Qing Xia makan bersama, Asisten Lu Han selalu menyiapkan obat alergi untuk Thien Chi tanpa harus menunggu perintah dari pria itu.


Asisten Lu Han berbalik hendak pergi, namun ia kembali berbalik dan melihat CEO nya yang sedang berdiri diam di depan pintu.


"Pak, apa benar Nyonya hilang ingatan?"


Thien Chi mengangkat wajahnya, menatap Asisten Lu Han yang masih ingin melanjutkan pembicaraan.


"Saat saya menjemput Nyonya, sepertinya beliau memanggil nama depan saya. Tetapi..."


Thien Chi segera memotong perkataan Lu Han. "Dia bahkan tidak mengingatku. Bagaimana mungkin dia bisa mengingat Asisten Lu Han?"


"Maaf, mungkin saya salah mendengar. Kalau begitu, saya permisi dulu Pak."


Asisten Lu Han berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Thien Chi yang masih berdiri diam di depan pintu.


Setelah kepergian Asisten Lu Han, Thien Chi masuk ke dalam rumah. Dia duduk di sofa panjang sambil memikirkan beberapa hal yang mengganjal di dalam pikirannya.


"Saat kembali ke rumah, Qing Xia terlihat sedikit terkejut saat aku meminta Xiao Xi untuk mengantarnya ke kamarku.


"Tetapi dia tidak bertanya alasan mengapa kami menggunakan kamar yang berbeda.


"Jika kupikirkan lagi...


"Qing Xia tidak pernah bertanya kapan tanggal pernikahan kita... Apakah kita memiliki anak... Di mana aku melamarnya...


"Entah dia tidak peduli atau...


"Seperti yang dikatakan oleh Asisten Lu Han... Qing Xia sudah mendapatkan kembali ingatannya.


^^^BERSAMBUNG...^^^