
Tok Tok!
Asisten Lu Han membuka pintu.
"Pak CEO, Bu Presdir!" sapa Asisten Lu Han dengan sedikit menunduk.
"Bu Presdir, saya akan mengantar anda." Ucap pria itu dengan sikap gugup.
Nenek Ye berjalan melewati Asisten Lu Han.
"Tidak perlu!" Ucapnya dengan nada kesal.
Asisten Lu Han kebingungan dan serba salah. Dia melihat jas dan kemeja Thien Chi yang sudah berlumuran teh.
"Aduh... Selalu saja begini setiap kali Bu Presdir datang!" Keluh Asisten Lu Han dalam hati.
"Pak, mari saya antar ke dokter." Ucap Asisten Lu Han dengan wajah khawatir.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja." Jawab Thien Chi sambil melepaskan jas dan kemejanya.
"Bawakan baju untukku dan undur rapat menjadi jam 3 sore." Perintahnya sambil menatap foto di atas meja kerja.
Foto pernikahannya dengan Qing Xia selalu menjadi penyemangat Thien Chi di saat ia lelah dan frustasi. Dia mengambil foto itu dari meja dan menatapnya dengan senyuman getir.
"Aku mempersiapkan diri untuk berpisah dengan Qing Xia dan menandatangani surat perceraian kami secara terpaksa. Aku ingin dia bahagia dan memilih pria lain yang lebih layak untuk dicintai. Aku takut hubungan kami akan menyakitinya dan membuat hidupnya menderita. Tetapi, pada akhirnya..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Qing Xia mengunjungi Dokter Vivian untuk memeriksa tulang tangannya yang patah. Dia menunggu hasil pemeriksaan sambil melihat pasien yang berlalu lalang di depannya.
"Semua pasien datang bersama pasangan mereka, tapi aku..." Batin Qing Xia.
"Haaa..." Dia menghela napas lalu menundukkan wajahnya.
"Apa yang sedang dilakukan Thien Chi sekarang?" Gumam Qing Xia sambil menatap lantai di bawahnya.
"Pasien Qing Xia, silakan masuk!" Panggil seorang perawat dari depan pintu.
Qing Xia berdiri dari kursi dan berjalan masuk ke dalam ruangan Dokter Vivian.
Qing Xia duduk di kursi yang berada di depan Dokter Vivian, sementara dokter wanita itu sedang sibuk memperhatikan hasil laporan Qing Xia dengan kening yang mengerut.
"Qing Xia, kau yakin jika dokter yang merawatmu mengatakan ini hanya patah tulang biasa?" Tanya dokter muda itu dengan wajah serius.
"Ya, begitulah yang aku dengar. Apakah ada yang salah dengan tanganku?" Ucap Qing Xia dengan perasaan gelisah.
"Qing Xia..." Dokter Vivian tampak kesulitan mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.
"Apakah cedera di tangan saya sangat parah?" Tanya Qing Xia dengan hati yang semakin cemas.
Dokter Vivian mengerutkan dahi, dia menatap eajah pasiennya dengan perasaan simpati.
"Ada kemungkinan... kau tidak bisa memegang pisau bedah lagi seumur hidupmu!" Ucap dokter wanita itu dengan perasaan menyesal.
Qing Xia membesarkan bola matanya, tangan dan kakinya gemetar secara tiba-tiba tanpa bisa ia kendalikan.
"Aku... Tidak bisa... Memegang pisau bedah lagi?" Tanya Qing Xia serasa tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Dokter Vivian mengangguk. Wanita muda itu menundukkan wajahnya, menahan air matanya yang hampir terjatuh karena sedih melihat kondisi Qing Xia yang seperti itu.
"Saya mengerti. Terima kasih sudah memberitahuku." Ucap Qing Xia dengan wajah datar.
Qing Xia bangkit dari kursi, dia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan Dokter Vivian.
"Mereka membohongiku! Mereka semua menyembunyikan kondisi tanganku yang sebenarnya." Batin Qing Xia.
Brukkk!
Qing Xia terduduk lemas di lantai, air matanya jatuh begitu saja tanpa ia kehendaki. Dia berusaha menghapus dan menghentikan air matanya yang terus mengalir, namun malah semakin lama semakin deras hingga memburamkan penglihatannya.
"Apa yang harus ku lakukan dengan pasienku? Aku sudah berjanji akan menyembuhkannya." Gumam Qing Xia dengan air mata yang semakin banjir di wajahnya.
Ponsel Qing Xia berbunyi, dia mengeluarkan benda persegi panjang itu dari dalam tas lalu menjawab panggilan di ponselnya setelah melihat nama Nenek Ye di layar ponsel.
"Datang ke rumah sekarang juga, ada yang harus ku sampaikan kepadamu!" Perintah wanita itu lalu mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Qing Xia.
Qing Xia menghapus air matanya, perlahan ia bangkit dan berdiri dengan kedua kaki yang masih terasa lemas.
Setelah membenahi wajah dan pakaiannya di kamar mandi, Qing Xia berjalan ke area parkir dan masuk ke mobil. Dia melajukan mobilnya menuju mansion mewah milik keluarga Ye.
"Silakan masuk, Nyonya!" sapa seorang wanita paruh baya yang bekerja di dalam mansion.
"Terima kasih."
Qing Xia berjalan masuk ke dalam ruang tamu, ia duduk di sofa panjang berwarma cream muda sambil menunggu Nenek Ye.
Klik klok klik klok
Suara langkah Nenek Ye terdengar terlebih dulu sebelum kelihatan bayangannya. Qing Xia segera berdiri dan memberi hormat di depan Nenek Ye.
"Duduk!" Ucap wanita tua itu dengan nada ketus.
Qing Xia kembali duduk di sofa panjang dan Nenek Ye duduk di depannya.
"Kau masih belum sembuh?" Tanya-nya dengan suara dingin.
"I... Iya!" Jawab Qing Xia terbata-bata.
"Kapan kau akan sembuh? Apa kau tidak menemui dokter secara rutin?"
"Kata dokter... Akan memakan waktu yang lama." Jawab Qing Xia gugup.
"Kau yakin dokternya tidak berbohong? Atau justru kau yang sedang berbohong?" Hardik Nenek Ye dengan suara meninggi.
Seorang pelayan masuk ke dalam ruang tamu dengan membawa dua gelas minuman dingin. Dia meletakkan minuman di atas meja dengan hati-hati lalu berjalan pergi dari ruangan tersebut.
"Apa yang terjadi dengan kepalamu itu? Kenapa kau hanya melupakan suamimu? Apa kau yakin kau kehilangan ingatanmu?" Ucap Nenrk Ye lagi dengan suara ketus.
Tangan Qing Xia gemetaran, dia ketakutan dengan kecurigaan dari Nenek Ye mengenai kebohongannya tentang hilang ingatan.
Melihat sikap Qing Xia yang menutup mulut dengan tubuh gemetaran, Nenek Ye langsung menangkap basah tipuan dari cucu menantunya itu.
"Berani-beraninya kau menipuku!"
Byurrr!
Wanita tua itu mengambil gelas minuman dari meja dan menyiram wajah Qing Xia.
Secara refleks, Qing Xia menahannya dengan kedua tangan. Es batu di dalam minuman terlmepar ke tangan Qing Xia yang masih terbalut perban.
Shhh...
Qing Xia merasa sakit di bagian tulangnya yang patah. Dia sedikit merintih namun segera menutup bibirnya.
"Aku tahu kau berpura-pura kehilangan ingatan karena kau tidak mau melahirkan penerus untuk keluarga Ye."
"Ma... Maafkan aku!" Ucap Qing Xia sembari memegang tangan kanannya dengan tangan kiri.
"Aku tidak peduli apa yang terjadi padamu. Tetapi jika dalam waktu sebulan kau tidak bisa mengandung penerus dari keluarga Ye, maka aku akan mencari wanita lain untuk menggantikan posisimu! Cam-kan itu!"
Melihat Qing Xia yang hanya terdiam membuat emosi Nenek Ye semakin membesar.
Pranggg!
Qing Xia terkejut mendengar suara pecahan dari gelas yang dibanting oleh Nenek Ye ke lantai.
"Jawab!" Bentak wanita tua itu dengan nada melengking.
^^^BERSAMBUNG...^^^