365 Days For Love

365 Days For Love
Bab 19



Wajah Qing Xia kini semerah kepiting rebus. Jantungnya berdebar kencang dengan suara "Deg Deg Deg" yang terdengar hingga ke telinga suaminya. Kepalanya terasa panas, dia tidak bisa berpikir apapun di dalam benaknya. Napasnya memburu karena sejak tadi dia lupa menarik napas.


"A... Aku haus. Aku ke dapur dulu!" Ucap Qing Xia sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan telapak tangan kiri.


Qing Xia berbalik dan melarikan diri. Dia membuka kulkas untuk mengambil air mineral dan langsung meneguk air dingin itu hingga tetesan terakhir.


"Thien Chi menciumku! Di... Dia mencium bibirku..."


Qing Xia merasa bunga di dalam hatinya sedang bermekaran dan kembang api meledak-ledak di atas kepalanya.


"Aku tidak akan mencuci wajahku, aku juga tidak akan menyikat gigiku. Ada bau Thien Chi di sana. Aku sangat bahagia sampai melupakan semua kesedihanku hari ini." Benak Qing Xia.


Sementara itu, Thien Chi memegang bibirnya yang baru saja menempel lekat di bibir istrinya.


"Apa dia marah? Dia tidak akan pergi karena takut padaku, kan?" Pikir Thien Chi.


Qing Xia masuk ke dalam kamar, ia merebahkan diri di atas ranjang sambil memikirkan apa yang harus ia katakan kepada pasien Aaron mengenai jadwal operasinya yang harus ditunda.


"Bisakah aku menggunakan tanganku untuk operasi besok? Tidak, itu bukanlah operasi kecil yang bisa dilakukan dengan asal-asalan dan di anggap remeh."


"Hahhh... Akan kupikirkan besok saja. Aku harus tidur secepatnya agar tidak bertemu Thien Chi saat dia masuk ke kamar. Aku masih berdebar saat mengingat kejadian tadi." Gumam Qing Xia.


Qing Xia memejamkan mata dan langsung terlelap begitu saja dalam hitungan detik.


Ceklek!


Thien Chi masuk ke dalam kamar, berjalan ke samping tempat tidur dan menatap wajah istrinya untuk sesaat.


"Selamat tidur, mimpi indah!" Ucapnya dengan suara pelan.


Thien Chi berbaring di samping Qing Xia dan mulai memejamkan mata.


Plokkk!


Qing Xia berbalik badan, ia meletakkan tangan kirinya di atas dada Thien Chi.


"Lembut dan berisi!" Gumamnya sambil tidur.


Thien Chi terdiam dan terkejut. Dia menutup mulut dan menahan hasratnya yang terusik oleh tangan Qing Xia. Sedangkan tangan wanita itu malah masuk ke dalam piyama Thien Chi dan meraba-raba dadanya yang kekar dan padat.


Qing Xia tiba-tiba membuka mata dan tersadar dengan apa yang sedang ia lakukan.


Blush!


Wajah Qing Xia memerah saat melihat dada Thien Chi di hadapannya. Dia menelan liurnya sambil menatap lekat dada kekar Thien Chi yang berada tepat di depan matanya.


"Apa sih yang kulakukan? Kenapa aku malah memeluk Thien Chi? Aku harus menjauh darinya sebelum dia terbangun." Pikir Qing Xia.


Qing Xia melepaskan tangannya dari dada Thien Chi, dia mendongak menatap wajah suaminya yang ternyata sedang melihatnya dengan senyuman manis.


"Thie... Thien Chi!" Ucap Qing Xia terkejut saat matanya menangkat sorot mata Thien Chi yang sedang menatapnya.


"Kenapa kita tidur berpelukan?" Tanya Qing Xia kebingungan.


"Karena kita berada di satu ranjang."


"Apa itu hal yang pasti terjadi jika kita tidur di ranjang yang sama?"


"Sepertinya begitu."


"Setiap hari."


"Kau bohong, kan?"


Thien Chi melebarkan senyumannya.


"Aku tidak bohong. Kau selalu memelukku setiap malam, dan aku hanya membalas pelukanmu."


"Kau bohong, kan? Aku biasanya tidur tanpa berguling."


"Pfff... Hahaha!"


Thien Chi tertawa lepas mendengar ucapan Qing Xia yang menyatakan dirinya tidak berguling saat tertidur.


"Kenapa kau malah tertawa? Apa yang lucu?" Tanya Qing Xia dengan wajah kesal.


"Liu Qing Xia! Sepertinya kau tidak sadar jika kebiasaan tidurmu itu sangat buruk."


"Sangat buruk?" Ulang Qing Xia dengan kedua mata membesar. "Baru kali ini aku dengar jika kebiasaan tidurku sangat buruk."


"Apa kau pernah tidur bersama orang lain?" Tanya Thien Chi dengan tatapan menyelidik.


"Ti... Tidak pernah, tetapi aku selalu berada di posisi yang sama saat bangun di pagi hari." Jawab Qing Xia dengan suara gugup.


"Kau berguling ke tempatku dan memelukku setiap malam sambil meraba-raba tubuhku. Dan kau kembali ke tempatmu setelah kau puas meraba apa yang kau inginkan." Ucap Thien Chi dengan wajah serius.


"Be... Benarkah?" Tanya Qing Xia dengan tatapan tak percaya.


Thien Chi diam menatap Qing Xia. Namun dari tatapan pria itu, Qing Xia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


"Maaf...! Aku tidak sengaja melakukannya." Ucap Qing Xia buru-buru.


Thien Chi melebarkan senyumannya, memeluk pinggang ramping istrinya dengan erat lalu mengangkat tubuh Qing Xia ke atas tubuhnya.


"Liu Qing Xia, apa yang kau mimpikan setiap malam?"


Blush!


Wajah Qing Xia sekejap menjadi tomat matang. Dia sangat malu saat mengingat apa yang ia lakukan di dalam mimpinya.


Qing Xia memejamkan mata sebab ia tidak berani bertatapan dengan mata suaminya. Jantungnya berdebar kencang dan berdetak keras.


Thien Chi menarik lengan kiri Qing Xia yang menahan berat badannya sehingga tubuh wanita itu langsung menempel di atas tubuh Thien Chi.


Qing Xia terkejut dan membuka matanya yang terpejam. Dia menatap wajah Thien Chi yang hampir menempel di wajahnya.


"A...Aku minta maaf. Tolong hentikan candaanmu sekarang!" Ucap Qing Xia sambil berguling ke samping. Dia bangkit, berdiri dan segera kabur dari kamar tidur.


Qing Xia berjalan cepat menuju ke dapur. Lagi-lagi, ia membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam. Qing Xia membuka tutup botol dan menghabiskan semua air di dalam botol tersebut dalam satu tegukan.


"Apa yang ku mimpikan setiap malam?" Gumam Qing Xia mengulangi pertanyaan dari Thien Chi.


"Aku tidak bisa mengatakannya... Memikirkannya saja sudah membuatku malu. Bagaimana bisa aku mengatakan hal itu di depan Thien Chi." Batin Qing Xia.


"Di dalam mimpiku, kita..."


^^^BERSAMBUNG...^^^