
Qing Xia berbalik ke belakang, menatap pria yang berlari dengan seorang anak di tangannya.
"Ada apa ya?" Tanya Qing Xia dalam hati.
"Dokter! Di mana dokter?" Tolong anakku!" Teriak pria itu lagi dengan wajah cemas dan panik.
Qing Xia menghampiri pria tersebut.
"Aku dokter di sini. Boleh aku memeriksa pasien?" Tanya Qing Xia dengan wajah serius.
"Tolong selamatkan anak saya! Tolong!" Ucapnya sambil menangis dan menyodorkan anaknya yang masih berusia 3 tahun di depan Qing Xia.
Qing Xia memeriksa kondisi pasien di depannya. Matanya membesar dengan perasaan cemas dan gelisah. ia menyadari jika bocah tersebut dalam keadaan sekarat.
"Cepat ikut aku!" Perintah Qing Xia lalu berlari ke ruang UGD.
Qing Xia menyuruh pria itu untuk membaringkan anaknya di atas tempat tidur. Sementara Qing Xia berlari mengambil peralatan yang dibutuhkan untuk kondisi darurat pasiennya.
Pasien yang di bawa oleh pria tersebut dalam keadaan tidak sadar. Wajah dan bibirnya berwarna kebiruan, keringatnya terus mengalir meskipun suhu di dalam ruangan sedikit dingin.
Qing Xia kembali dengan beberapa peralatan. Hari yang masih terlalu pagi mrmbuat suasana di UGD kosong melompong tanpa seorang pun suster yang siaga.
"Permisi, tolong minggir sebentar!" Pinta Qing Xia kepada pria berbadan besar di depannya.
Qing Xia mengambil sebuah pisau bedah untuk membuat sayatan di leher balita di depannya. Dia berniat melakukan prosedur trakeostomi untuk memasang alat ventilator karena balita tersebut kekurangan oksigen.
Tranggg!
Pria berbadan besar di samping memukul tangan Qing Xia hingga pisau bedah yang ia pegang terjatuh ke lantai.
"Apa yang kau lakukan?" Bentak pria itu dengan suara meninggi.
Qing Xia menatap pisau bedah yang terjatuh di bawah kolong, dia menaikkan pandangannya, menatap ayah dari pasiennya yang saat ini sedang berada dalam kondisi sekarat.
Qing Xia mengambil pisau bedah lain di atas meja, dalam hitungan detik, dia melubangi leher balita tersebut dan memasang tabung pernapasan secepat kilat.
Ayah dari pasien kembali menyerang Qing Xia namun kali ini Qing Xia tidak diam saja. Dia menahan dan menendang kaki kanan pria tersebut hingga ia terjatuh dan berlutut di depan Qing Xia.
"Dengar! Jika anda masih ingin menghalangi pekerjaan saya sebagai seorang dokter, tolong keluar dari ruangan ini! Pasien sudah kekurangan oksigen selama beberapa menit. Karena tindakan anda ini, dia bisa mati karena terlambat mendapatkan pertolongan!" Ucap Qing Xia dengan nada kesal.
Pria itu berdiri, melihat wajah anaknya yang mulai normal dan membaik. Ia menyadari jika Qing Xia telah menyelamatkan nyawa anaknya yang hampir melayang karena tindakan kasar yang tidak bisa ia kendalikan. Pria itu menangis sambil mengucapkan kata terima kasih dan maaf berulang kali di depan Qing Xia.
"Tolong kecilkan suara anda! Pasien butuh istirahat." Ucap Qing Xia sambil memungut pisau bedah yang terjatuh di lantai.
Qing Xia membawa peralatan medis dan pergi dari ruangan tersebut. Dia berpapasan dengan Dokter Yu yang berdiri di depan pintu kaca. Pria itu sedang melihatnya dengan tatapan dingin yang tak terbaca apa artinya.
"Selamat Pagi, Dokter Yu!" Sapa Qing Xia sambil menundukkan kepala.
"Kau, ikut denganku!" Perintah pria itu dengan nada datar.
Qing Xia menghela napas panjang, ia mengikuti Dokter Yu yang sudah berbalik dan berjalan di depannya. Qing Xia berjalan dengan cepat untuk mengimbangi langkah kaki Dokter Yu yang panjang.
Dokter Yu masuk ke dalam ruangannya, Qing Xia ikut masuk. Ia menutup pintu ruangan dan berdiri di depan Dokter Yu yang saat ini duduk di kursinya yang empuk.
10 menit berlalu, Dokter Yu hanya diam sambil melihat layar komputer.
Qing Xia berdiri diam tanpa berkata-kata. Dia bahkan tidak ingin memikirkan apapun di dalam kepalanya yang mulai memanas karena suasana yang tegang.
20 menit berlalu.
Dokter Yu masih duduk diam tanpa mengatakan apapun. Pria itu masih sibuk menatap layar komputernya yang memutar rekaman CCTV di ruang UGD.
30 menit berlalu.
"Dokter Yu, kenapa anda meminta saya kemari?"
Dokter Yu mengalihkan tatapannya, melihat Qing Xia yang berdiri di hadapannya dengan mata tajam dan dingin.
"Kau tahu apa salahmu?" Tanya pria itu sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja.
"Entahlah..." Jawab Qing Xia dengan asal-asalan.
Dokter Yu mengerutkan keningnya. Suara ketukan dari jari-jarinya, tidak lagi terdengar.
"Kau tidak tahu?"
Qing Xia menggelengkan kepala.
"Saya tidak tahu. Bisakah anda memberitahu saya?"
Dokter Yu berdiri, berjalan ke depan Qing Xia dan berdiri sambil menatap mata wanita itu.
"Kesalahan yang pertama, kau tidak mengikuti prosedur dengan benar!" Ucap pria itu dengan nada tegas.
"Kau tidak membantahnya?" Tanya pria itu dengan tatapan tajam.
Qing Xia tentu saja tahu jika apa yang ia lakukan tadi tidak sesuai dengan prosedur dan bisa di anggap sebagai kelalaian medis. Tapi saat itu ia tidak memiliki pilihan lain selain menolong pasien secepat mungkin.
"Maaf!" Ucap Qing Xia sambil menundukkan kepalanya.
"Kesalahan yang kedua, kau tidak seharusnya melawan pria itu saat melakukan pembedahan yang berbahaya. Jika meleset sedikit saja, pisau yang kau gunakan untuk menolong pasien malah akan mencelakai dan membunuh pasienmu! Apa kau tidak menyadari hal itu?"
Dokter Yu berjalan ke depan lemari kaca yang berada di dalam ruangan. Pria itu membuka pintu lemari dan mengambil sebuah kertas dan amplop berwarna putih. Dia kembali ke meja dan duduk di kursi lalu menulis di atas selembar kertas dengan pena cair yang berada di atas meja.
"Ini hukuman untukmu!" Ucap Dokter Yu sembari menyerahkan amplop berisi kertas yang ia tulis tadi.
Qing Xia membuka surat tersebut dan membaca isinya.
"Apa aku dipecat?" Tanya Qing Xia setelah membaca isi surat yang diberikan oleh seniornya.
"Pergilah berlibur selama sebulan, itu hukuman untukmu!" Ucap Dokter Yu dengan senyuman tipis di wajahnya.
Qing Xia membeku melihat senyuman di wajah pria tersebut.
"Sepertinya langit akan segera runtuh karena pria dingin ini tiba-tiba bisa tersenyum." Batin Qing Xia.
"Langit tidak akan runtuh hanya karena senyuman ku!" Ucap Dokter Yu seakan bisa membaca pikiran Qing Xia.
"Ha... Ha..." Qing Xia tertawa kaku, ia berbalik dan segera pergi dari ruangan Dokter Yu sebelum mendapatkan hukuman yang lain.
Sambil berjalan ke ruangannya, Qing Xia kembali membaca isi surat yang ditulis oleh Dokter Yu.
"Kenapa dia malah memberiku liburan? Dasar dokter aneh! Tapi bagus juga aku bisa berlibur dan menempel di dekat Thien Chi selama sebulan penuh tanpa harus datang bekerja. Hehe..."
Qing Xia kegirangan dengan hukuman yang di berikan oleh Dokter Yu.
Drap! Drap! Drap!
Seorang pria berlari ke arah Qing Xia. Pria itu menarik tangan Qing Xia dari belakang.
Qing Xia berbalik melihat siapa orang aneh yang menarik tangannya dengan kasar.
"Hei...! Kenapa kau menarikku?" Tegur Qing Xia dengan suara kesal.
^^^BERSAMBUNG...^^^