
Qing Xia mengajak Aaron ke kantin rumah sakit. Dia memesan dua cangkir kopi panas lalu duduk di di depan Aaron.
"Maaf karena menganggu waktu anda. Tapi... Saya harap anda mendengarkan cerita ini terlebih dulu sebelum pergi."
"Silakan dimulai. Saya akan memberi anda waktu 15 menit."
"Ada seorang wanita yang sangat mencintai suaminya. Selama 2 tahun mereka menikah tanpa pernah melakukan hubungan layaknya suami istri. Dihari peringatan kedua pernikahan mereka, suaminya memberikan hadiah kepada sang istri. Hadiahnya adalah surat perceraian."
Aaron terdiam mendengarkan cerita dari Qing Xia.
"Karena istrinya tidak mau menandatangani surat tersebut, dia melarikan diri. Di saat itu juga, malaikat kematian datang menjemputnya. Ketika istrinya meninggal, sang suami menangis dengan terisak. Dia berlutut sambil mengeluarkan semua kesedihannya di depan pintu kamar operasi."
"Bukankah dia meminta perceraian? Kenapa dia menangis? Bukankah bagus jika istrinya meninggal? Dia tidak perlu lagi menceraikan istrinya." Timpal Aaron dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Ceritaku belum selesai..." Ucap Qing Xia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Apa yang ingin anda sampaikan?" Tanya Aaron mulai penasaran.
"Disaat kita meninggal, akan ada orang-orang yang menangis untuk kita. Termasuk suami yang sudah melayangkan perceraian terhadap istrinya. Coba anda bayangkan, bagaimana perasaan orang yang benar-benar mencintai kita dengan setulus hatinya saat melihat kematian kita?
"Apa yang mereka rasakan ketika menatap kita yang sedang kesakitan dan menahan semuanya sendiri tanpa bisa melakukan apapun untuk kita yang sedang sekarat?"
Aaron terdiam sejenak, ia memikirkan ucapan dari Qing Xia.
"Jika aku meninggal, mereka hanya akan menangis karena kehilangan seorang anak. Tetapi jika mereka melihatku kesakitan terus menerus tanpa menerima pengobatan, maka hati mereka akan terasa sakit sama seperti aku yang menahan rasa sakit ini setiap harinya. Dan pada akhirnya... Aku juga tetap akan meninggal karena penyakit ini." Benak Aaron.
Qing Xia menatap raut wajah Aaron yang sedikit cemas dan gelisah.
"Sepertinya dia sudah paham apa yang ingin kusampaikan kepadanya. Meskipun tidak 100%, setidaknya ada 50% untuk sembuh, dan aku akan berusaha untuk menyembuhkan penyakitnya." Batin Qing Xia.
"15 menit sudah berlalu, saya akan meninggalkan anda di sini. Terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita saya." Ucap Qing Xia seraya bangkit dari kursinya.
Aaron terdiam, dia menatap punggung Qing Xia yang mulai menjauh.
Tap Tap Tap!
Pria itu berdiri dan berlari mengejar Qing Xia. Dia menarik tangan Qing Xia dan menahan langkahnya.
Qing Xia sedikit terkejut, dia berbalik menatap pasiennya yang saat ini menatapnya dengan tatapan tajam.
"Aku akan menerima pengobatan!" Ucap Aaron dengan yakin.
Qing Xia melebarkan bibirnya, dia tersenyum senang karena berhasil membujuk pasiennya agar mau berperang melawan penyakit yang di deritanya.
"Saya akan segera membuat jadwal operasi untuk anda." Jawab Qing Xia dengan senyuman lebar.
Qing Xia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Aaron yang masih berdiri diam di tempatnya.
"Dokter!" Panggilnya dengan suara sedikit meninggi.
Qing Xia berbalik ke belakang, "Ya?"
"Bagaimana kisah selanjutnya? Anda belum menyelesaikan ceritanya." Ucap Aaron penasaran.
Qing Xia tersenyum tipis, "Aku akan melanjutkan ceritanya saat kau membuka matamu setelah selesai operasi.
Qing Xia kembali berbalik dan berjalan menuju ke ruang prakteknya.
"Aku akan mendengarkan kisahnya hingga selesai. Pasti!" Gumam Aaron sambil menatap punggung Qing Xia yang semakin menghilang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Di mana istriku?" Tanya Thien Chi ketika pulang sore hari tetapi tidak menemukan keberadaan Qing Xia.
"Nyonya sudah ke rumah sakit pagi-pagi. Tuan tidak diberitahu?" Tanya Xiao Xi dengan wajah canggung.
Thien Chi merogoh kantung celana dan mengeluarkan ponselnya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif."
Thien Chi kembali menghubungi ponsel Qing Xia yang tidak aktif.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif."
"Baik, Tuan!" Jawab Xiao Xi yang segera mengambil tasnya dan berjalan keluar rumah.
Thien Chi mengemudikan mobil hitamnya menuju ke rumah sakit. Dia merasa cemas dan gelisah mengingat tangan Qing Xia yang sebenarnya dinyatakan tidak akan pernah bisa memegang pisau bedah lagi seumur hidupnya.
"Jika dia mengetahui hal ini, dia pasti akan sangat hancur. Usaha dan karirnya selama bertahun-tahun hilang begitu saja karena kecelakaan itu!" Pikir Thien Chi.
Qing Xia berada di ruang pertemuan bersama para koleganya. Mereka membahas rencana untuk mengangkat tumor dari dalam otak Aaron yang sudah sebesar bola pingpong.
"Qing Xia, kau yakin bisa melakukan operasi dengan tanganmu? Sepertinya lukamu belum sembuh." Ucap Bao Bei teman baik Qing Xia sekaligus rekan kerjanya.
Qing Xia menatap tangan kanannya yang masih diperban.
"Ini memang aneh, aku merasa jari-jariku sulit digerakkan dan terasa kaku. Sepertinya aku harus menemui Kak Vivian yang ahli di bagian tulang." Batin Qing Xia.
"Jika aku tidak bisa melakukannya, kau yang harus menggantikanku!" Pinta Qing Xia kepada Bao Bei.
"Tidak! Tidak!!! Kau tahu kan aku tidak memiliki pengalaman dalam bedah otak? Aku tidak berani!" Sahut Bao Bei sambil menyilangkan kedua tangannya dan menggelengkan kepala.
"Selalu ada yang namanya pertama kali dalam hidup. Kau juga harus mencobanya! Kau ini kan ahli bedah..." Ucap Qing Xia menyemangati wanita dengan kuncir dua di depannya.
"Ckk... Kau kan tahu aku selalu gemetaran saat melihat otak." Keluh Bao Bei setelah berdecak kesal.
"Hahaha... Kenapa penakut sepertimu memilih menjadi dokter bedah?"
"Karena keren!"
"Keren dari mananya kamu yang penakut begini?" Ejek Qing Xia sambil menurunkan kedua sudut bibirnya.
"Hishhh... Kamu!"
"Tolong tenang sedikit!" Ucap senior Qing Xia yang memimpin rapat.
"Qing Xia yang akan melakukan operasi, dan Bao Bei akan membantunya. Operasi akan dilakukan seminggu lagi. Sementara menunggu waktunya, kita akan berlatih di ruang pelatihan setiap pagi jam 5."
"Baik!" Jawab semua peserta rapat.
"Qing Xia, kau ikut denganku sebentar!" Perintah Kakak senior yang memimpin pertemuan.
"Baik, Dokter Yu." Jawab Qing Xia dengan sikap menegang.
"Haduh... Tidak ada yang baik saat kau dipanggil oleh monster itu. Berhati-hatilah!" Bisik Bao Bei ke telinga Qing Xia.
Qing Xia berjalan ke ruangan Dokter Yu. Pria dengan wajah sanggar yang selalu marah setiap kali ada kesalahan kecil yang dilakukan oleh juniornya.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Tanya Dokter Yu dengan wajah kesal.
Qing Xia menundukkan kepalanya, diam tanpa menjawab pertanyaan dari pria di hadapannya.
Brakkk!
Dokter Yu memukul meja di depannya. Dia menatap Qing Xia dengan wajah kesal dan marah.
"Apa kau bisu? Tidak bisakah kau menjawab pertanyaanku?"
"Maaf, saya tidak tahu kesalahan apa yang saya perbuat sehingga membuat anda marah besar seperti ini." Ucap Qing Xia sambil menatap mata Dokter Yu.
"Kau tidak tahu? Kau sungguh tidak tahu apa salahmu?" Bentak pria itu dengan suara tinggi.
Ceklek!
Thien Chi membuka pintu ruangan Dokter Yu tanpa mengetuk, dia berjalan mendekati Qing Xia.
"Thien... Thien Chi!" Ucap Qing Xia dengan wajah panik.
^^^BERSAMBUNG...^^^