
Cup!
Ciuman yang tadinya di pipi malah berakhir di bibir. Thien Chi dengan sengaja memutar wajahnya saat Qing Xia akan mencium pipinya.
Qing Xia terkejut, dia melangkah mundur sambil menyentuh bibirnya yang baru saja mendapat ciuman pertama dari Thien Chi.
"Aku berangkat!" Ucap Thien Chi segera berbalik dan berjalan keluar.
Qing Xia menyentuh bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan bibir Thien Chi. Detak jantungnya semakin kencang dan kuat saat bayangan itu muncul kembali di benaknya. Sedangkan Thien Chi berjalan cepat menuju ke mobil dengan wajah yang memerah. Pria itu tersenyum bahagia, dia membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam.
"Liu Qing Xia, kali ini aku akan menggenggammu dengan erat." Batin Thien Chi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Qing Xia memakai dress putih sepanjang lutut dengan bagian atas yang sedikit terbuka. Dia memadukan busananya dengan sepatu high heels berwarna hitam dengan tumit setinggi 5cm.
Qing Xia menggerai rambut panjangnya, menutupi pundaknya yang sedikit terbuka karena pakaiannya yang seksi.
Ceklek!
Qing Xia keluar dari kamar.
"Wah... Nyonya cantik sekali!" Puji Xiao Xi begitu melihat penampilan Qing Xia yang berbeda dari biasanya.
"Terima kasih. Xiao Xi, hari ini kamu boleh pulang lebih awal dan tidak perlu menyiapkan makan malam karena kami akan makan di luar." Ucap Qing Xia sambil berjalan ke arah pintu depan.
"Baik! Selamat berkencan, Nyonya... Semoga hari anda menyenangkan." Ucap Xiao Xi dengan senyuman ceria.
"Kami hanya pergi makan malam, bukan berkencan." Sanggah Qing Xia sembari membuka pintu.
"Selamat Malam, Nyonya!" Sapa seorang pria dari depan pintu.
Qing Xia berbalik menatap wajah pria tersebut.
"Lu..."
Qing Xia hendak menyebut nama asisten dari suaminya, namun ia segera mengalihkan pembicaraan.
"Anda siapa? Apa yang anda lakukan di sini?" Tanya Qing Xia dengan tatapan tajam.
"Fiuhhh... Hampir saja aku ketahuan." Batin Qing Xia.
"Emm... Saya Lu Han, asisten dari CEO Ye Thien Chi. Pak CEO meminta saya untuk mengantar Nyonya ke restoran." Jawab Pria itu dengan sikap gugup.
"Saya tidak mendengar hal ini darinya, dan saya juga tidak mengenal anda." Ketus Qing Xia agar terlihat lebih meyakinkan.
"Ini kartu identitas saya sebagai karyawan di perusahaan." Ucap Lu Han seraya memperlihatkan kartu karyawan kepada Qing Xia.
Xiao Xi berjalan keluar, dia mengenali pria di depan yang sedang berbicara dengan Qing Xia.
"Dia memang Lu Han, Asisten dari Tuan muda. Nyonya jangan khawatir, dia bukan orang jahat." Ucap Xiao Xi menenangkan Qing Xia.
"Oh... Maafkan saya. Ingatan saya sedikit terganggu, jadi tidak mengenali anda."
"Tidak apa-apa, Nyonya. Mari kita pergi!" Ajak Lu Han dengan sopan.
Mobil melaju melewati jalanan yang padat kendaraan. Setelah duduk 45 menit di dalam mobil, akhirnya mereka tiba di restoran.
Lu Han turun dari mobil, ia membukakan pintu untuk Qing Xia lalu kembali ke dalam mobil untuk mencari tempat parkir.
Qing Xia masuk ke dalam restoran, seorang pelayan menghampirinya.
"Selamat malam! Apa Nona sudah membuat reservasi?"
"Tidak, tapi saya memiliki janji dengan suami saya."
Lu Han berjalan terburu-buru, masuk ke dalam restoran untuk menunjukkan tempat di mana CEO nya berada.
"Nyonya, mari ikut dengan saya!"
"Tidak apa-apa." Jawab Qing Xia dengan senyuman ramah.
"Sebelah sini Nyonya." Lu Han menunjuk sebuah pintu coklat tua yang merupakan ruangan VIP untuk pelanggan terhormat.
Qing Xia masuk ke dalam setelah Lu Han membukakan pintu. Dia melangkah dengan anggun menuju ke kursi yang berada di hadapan Thien Chi.
Deg! Deg! Deg!
Debaran jantung dari Thien Chi semakin cepat saat menatap wajah cantik Qing Xia yang mempesona.
"Qing Xia, istriku benar-benar cantik..." Batin Thien Chi.
Sreeet!
Thien Chi menarik kursi untuk Qing Xia, dia duduk kembali ke tempatnya lalu memberikan buku menu kepada Qing Xia.
"Mau makan apa?"
"Bolehkah aku melihatnya dulu?"
"Tentu saja. Kau boleh memilih apa yang kau sukai."
Thien Chi menekan tombol untuk memanggil pelayan. Beberapa saat kemudian, seorang pelayan pria masuk ke dalam ruangan dengan membawa buku dan pulpen untuk mencatat pesanan mereka.
"Saya pesan set A." Ucap Qing Xia sambil melihat buku menu.
Thien Chi menatap wajah istrinya yang masih fokus pada buku menu. "Saya pesan set B." ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Set B?" Batin Qing Xia.
Dia mengingat menu set B menggunakan udang sebagai bahan utama. Qing Xia membalik halaman belakang, dia melihat menu set B di mana tercantum beberapa jenis udang di dalam makanannya.
"Bukankah dia alergi udang? Kenapa dia memesan udang?" Batin Qing Xia.
Qing Xia menaikkan pandangannya, menatap Thien Chi yang sedang mencari sesuatu di dalam jas hitamnya.
Thien Chi mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah, dia menyodorkan kotak itu di depan meja Qing Xia.
"Ini hadiah untukmu. Bukalah!" Ucap Thien Chi dengan ragu-ragu.
Qing Xia terdiam melihat kotak merah di depannya. Kotak yang terlihat mewah dengan pita berwarna emas.
"Kenapa dia memberikan hadiah ini?" Tanya Qing Xia dalam hati.
"Kencan pertama setelah pernikahan dan hadiah pertama yang ia berikan untukku... Bukankah seharusnya aku bersyukur dan merasa bahagia? Tapi kenapa..."
"Kenapa kau tidak mengambilnya? Kau tidak suka?" Tanya Thien Chi sambil menatap wajah Qing Xia yang terlihat sedih.
"Tidak, aku menyukainya. Terima kasih." Jawab Qing Xia sambil meraih kotak di depannya.
Qing Xia melepas pita emas lalu membuka kotak yqng diberikan oleh Thien Chi.
Mata Qing Xia mulai berkaca-kaca ketika melihat isi hadiah yang diberikan oleh Thien Chi.
"Terima kasih... Ini cantik sekali." Ucap Qing Xia sambil menghapus air matanya.
"Dia... Lagi-lagi dia menangis. Kenapa dia selalu menangis di depanku? Apakah bersama denganku, membuatnya menderita?" Batin Thien Chi.
Ketika Thien Chi salah paham dengan kebahagiaan yang diungkapkan dengan air mata istrinya, Qing Xia sedang berpikir bagaimana cara untuk memberitahu kepada Thien Chi jika sebenarnya dia sama sekali tidak lupa ingatan.
"Thien Chi... Jika kau bersikap sebaik ini terhadapku, aku akan menjadi semakin serakah dan tidak rela meninggalkan dunia ini. Apa yang harus kulakukan?" Batin Qing Xia.
^^^BERSAMBUNG...^^^