365 Days For Love

365 Days For Love
Bab 28



Nenek Ye berteriak semakin keras, memanggil Thien Chi yang melangkah sambil menarik lengan Qing Xia.


Pranggg!


Nenek Ye melempar vas bunga ke arah Qing Xia. Vas yang terbuat dari porselen itu terbang dan mendarat di punggungnya lalu terjatuh ke lantai dan menjadi serpihan kecil yang tajam.


Thien Chi berhenti berjalan, ia berbalik, melihat pecahan porselen yang berserakan di bawah kaki Qing Xia. Mata pria itu membesar tatkala ia menyadari bahwa vas bunga dilemparkan ke arah Qing Xia.


Thien Chi membalik badan istrinya. Melihat bajunya yang bernoda darah karena luka dari punggungnya, Thien Chi melotot ke arah Nenek Ye dengan kedua tangan yang mengepal erat.


"Mulai sekarang, berhentilah memanggil Qing Xia kemari. Jika kau ingin berbicara, bicaralah kepadaku." Ucapnya menggeram dengan wajah yang merah padam.


Thien Chi hendak membawa Qing Xia keluar, namun Nenek Ye segera berjalan cepat ke depan dan menghalangi jalannya.


"Aku belum selesai berbicara dengannya! Dasar anak haram yang tidak punya sopan santun!" Bentak Nenek Ye dengan nada emosi.


Nenek Ye segera menutup mulutnya. Hal yang selama ini ia sembunyikan, tanpa sadar keluar begitu saja melalui mulutnya karena tersulut emosi tinggi. Thien Chi pun semakin marah saat mendengar wanita di hadapannya menyebutnya dengan kata anak haram.


Qing Xia terkejut dengan fakta mencengangkan itu. Ia tidak mengetahui jika Thien Chi bukan anak kandung dari Nyonya Ye yang telah meninggal.


Thien Chi menarik Qing Xia pergi dari tempat itu. Sementara Nenek Ye masih berdiri mematung di tempat. Dia sudah menjaga rahasia kelahiran Thien Chi selama puluhan tahun, namun karena emosi, ia malah menguak sendiri rahasia tersebut.


Thien Chi adalah anak dari Tuan Ye dengan seorang wanita penghibur. ibu kandung Thien Chi bekerja sebagai wanita panggilan. Dalam hubungan satu malam, Ibu kandung Thien Chi hamil dan melahirkan Thien Chi tanpa sepengetahuan Tuan Ye.


Tuan Ye saat itu belum menikah. Setelah 10 tabun menikah dengan Nyonya Ye, mereka masih belum diberkahi keturunan. Disaat itu, ibu kandung Thien Chi membawanya ke keluarga Ye.


Dengan berat hati ia harus menyerahkan Thien Chi kepada keluarga Ye, sebab ibu kandungnya tidak sanggup merawat Thien Chi yang memerlukan banyak biaya, sedangkan dirinya hanya seorang wanita malam. Dia memikirkan masa depan anaknya, dia ingin anaknya menjadi orang yang sukses dan bahagia. Bukan sebagai anak dari wanita penghibur.


Thien Chi dan Qing Xia masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin mobil dan membawa Qing Xia ke rumah sakit terdekat.


"Ini hanya luka kecil, aku bisa mengobatinya sendiri di rumah." Ucap Qing Xia ketika mobil berhenti di depan pintu masuk rumah sakit.


Thien Chi menatap istrinya dalam diam, ia merasa bersalah karena selalu membuat Qing Xia menderita dan terluka.


"Maaf, seharusnya aku tidak menyeretmu ke dalam keluarga Ye. Sekarang kau tahu jika aku hanya seorang anak haram. Apa kau akan mulai membenci dan menghindariku?" Tanya Thien Chi dengan tatapan sedih.


Qing Xia melepaskan tali sabuk pengaman, ia memegang wajah Thien Chi dengan kedua tangan, memeluk dan mengecup lembut bibirnya.


"Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku hanya tahu jika aku mencintai Thien Chi dan hanya Thien Chi seorang. Baik dulu, sekarang ataupun di masa depan. Bahkan di kehidupan yang akan datang. Aku akan selalu mencintaimu, Ye Thien Chi."


Mata Qing Xia berkaca-kaca, dia sangat mencintai suaminya namun sisa waktunya hanya tinggal sedikit saja. Qing Xia bertanya-tanya dalam hati, apa yang harus ia lakukan untuk membuat Thien Chi bahagia meskipun nantnya ia sudah pergi dari dunia ini.


"Selama ini aku sama sekali tidak menyadari jika Qing Xia begitu tulus mencintaiku. Dia selalu diam dan tidak pernah berkata apapun saat awal pernikahan kami yang terasa hambar." Pikir Thien Chi. "Aku selalu mengira dia tidak memiliki rasa cinta untukku, itu sebabnya aku menyiapkan surat perceraian kami ketika nenek meminta Qing Xia untuk melahirkan penerus dari keluarga Ye."


Thien Chi memejamkan mata dan menghela napas panjang.


"Jika sejak awal aku tahu bahwa cintaku tidak hanya bertepuk sebelah tangan, akankah kami bahagia sejak hari pertama pernikahan kami?" Tanya Thien Chi dalam pikirannya.


Qing Xia memundurkan wajahnya, "Ayo pulang!" Ajaknya karena dia tidak ingin mendapatkan perawatan di rumah sakit.


"Lukamu belum diobati. Aku akan meminta dokter untuk mengobati lukamu terlebih dulu sebelum kita pulang ke rumah." ucap Thien Chi karena khawatir dengan luka di punggung Qing Xia.


Qing Xia turun dari mobil, dia menunggu Thien Chi di depan pintu masuk sementara Thien Chi sedang memarkirkan mobilnya di tempat parkir bawah tanah.


Baru beberapa detik menunggu, belasan mobil ambulans secara beruntun tiba di rumah sakit. Puluhan pasien diturunkan dari mobil ambulans dan buru-buru di bawa masuk ke rumah sakit.


Seorang anak kecil ikut turun dari sebuah mobil ambulans. Qing Xia menatap wajah anak tersebut, matanya membesar tatkala merasakan sesuatu yang janggal dengan warna kulit wajah bocah tersebut. Qing Xia mendekati anak itu dan bertanya beberapa pertanyaan.


"Adik manis, apa kau terluka?"


"Tidak, aku tidak memiliki luka."


"Apa yang terjadi? Bisakah kau memberitahu kepada kakak cantik ini kenapa banyak orang yang terluka?"


"Mobil yang kami tumpangi terbalik karena menabrak pembatas jalan." Jawab bocah tersebut dengan tatapan sedih.


"Kamu yakin kamu tidak terluka?" Tanya Qing Xia memastikan sekali lagi sambil meletakkan sebelah tangan di kening anak kecil itu.


Qing Xia memperhatikan wajah pucat dan kulit yang membiru di wajah bocah tersebut. Suhu tubuhnya normal tetapi ia terus berkeringat, membuat Qing Xia semakin curiga jika ada yang salah dengan bocah di depannya.


Qing Xia berpikir sesaat, sebuah kemungkinan muncul di dalam benaknya dan seketika itu juga bocah di hadapannya ambruk. Beruntung Qing Xia bisa menangkap tubuh anak itu dengan kedua tangan. Qing Xia merasa nyeri di punggungnya akibat luka yang semakin menganga namun ia tetap berusaha menggendong anak seusia 5 tahun itu ke dalam dekapannya.


Qing Xia berlari masuk ke ruang UGD.


"Di sini ada pasien gawat darurat! Cepat panggilkan dokter!" Pinta Qing Xia kepada salah satu perawat yang ia temui di dalam ruangan UGD.


Perawat tersebut menatap Qing Xia namun tidak menanggapi perkataannya.


"Kau tuli ya? Cepat panggilkan dokter!" Teriak Qing Xia dengan suara panik.


^^^BERSAMBUNG...^^^