365 Days For Love

365 Days For Love
Bab 23



Tangan Qing Xia di tarik oleh seseorang, dia terkejut, tubuhnya menubruk tubuh dari pria yang menarik tangannya.


Qing Xia mendorong tubuh pria tersebut. "Hei! Apa... "


Dia langsung menutup mulut saat melihat wajah yang ia rindukan sepanjang hari.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Thien Chi yang kembali memeluk tubuh istrinya.


Qing Xia memasang raut wajah kebingungan. "Memangnya aku kenapa?" Tanyanya dalam hati sebab ia tidak mengerti apa maksud pertanyaan dari Thien Chi.


"Maaf... Aku tidak bermaksud menyembunyikan kenyataan itu. Aku hanya takut kau akan terluka saat mengetahui yang sebenarnya."


Thien Chi melepaskan pelukannya, ia menatap Qing Xia yang masih kebingungan tanpa sepatah kata.


"Qing Xia..."


Thien Chi berbalik, melihat sekeliling ruangan.


Beberapa perawat yang melewati tempat itu sedang berbisik-bisik, melihat Thien Chi dan Qing Xia yang dikira sedang bertengkar.


"Ayo kita bicara di tempat lain!" Ajak Thien Chi sambil menarik pelan lengan Qing Xia dan membawanya ke dalam mobil.


"Thien Chi..."


Qing Xia menatap wajah suaminya yang terlihat murung.


"Tanganmu... Kau pasti sudah tahu, kan kalau tanganmu..."


Qing Xia menutup mulut Thien Chi dengan kedua telapak tangannya.


"Tanganku baik-baik saja, dan aku sudah berhasil melakukan operasi pengangkatan tumor di dalam otak seorang pasien muda. Jadi, kau tidak perlu meminta maaf." Ucap Qing Xia dengan melebarkan senyumannya.


"Cedera tanganmu sudah pulih?" Tanya Thien Chi dengan kedua bola mata membesar.


Qing Xia mengangguk, dia sedikit menyesal karena harus kehilangan 100 hari. Namun ia senang karena bisa menyelamatkan nyawa satu pasien.


Sedangkan Thien Chi saat ini merasa kebingungan, sebab ia tahu jelas jika tangan Qing Xia terluka parah dan tidak mungkin untuk dipulihkan seperti sedia kala.


"Bagaimana tangannya bisa pulih? Bahkan dalam waktu yang sangat singkat. Mungkinkah dokter salah mendiagnosa cedera di tangannya?" Pikir Thien Chi.


Tringgg! Tringgg!


Thien Chi mengeluarkan ponselnya yang berbunyi. "Nenek", nama yang tertera di layar ponselnya.


"Kamu... Tidak menjawab telepon?" Tanya Qing Xia penasaran.


"Siapa yang meneleponnya? Mengapa dia tidak menjawab? Apa karena ada aku di sini?" Batun Qing Xia.


Pada awalnya Thien Chi memang tidak ingin menerima panggilan telepon dari Nenek Ye. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh wanita itu kepadanya. Tetapi karena Qing Xia berada di sampingnya, ia tidak ingin Qing Xia salah paham sehingga Thien Chi dengan terpaksa menjawab panggilan telepon Nenek Ye.


"Ada apa?" Tanya Thien Chi dengan suara datar.


"Kemarilah nanti malam! Ada yang ingin aku sampaikan padamu." Jawab Nenek Ye dengan nada memerintah.


"Aku tidak punya waktu."


"Jika kau tidak datang, aku yang akan mendatangi rumahmu!" Ancam Nenek Ye dengan suara meninggi.


Thien Chi menggigit kuat rahangnya, dia marah namun tidak bisa melakukan apa-apa di depan Qing Xia.


"Aku akan ke sana!"


Dia menutup panggilan telepon dan melempar ponselnya di samping tempat duduk.


"Ada apa?" Tanya Qing Xia penasaran karena raut wajah Thien Chi terlihat marah.


"Nenek memintaku untuk kembali ke mansion utama. Maaf karena tidak bisa menemanimu makan malam."


Deg!


Jantung Qing Xia tersentak.


Ekpresi gelisah di wajah Qing Xia membuat Thien Chi bertanya-tanya, apa yang sednag dipikirkan oleh istrinya.


"Qing Xia, aku akan kembali secepatnya. Jangan khawatir dan tidurlah lebih dulu jika kau lelah. Tidak perlu menungguku." Ucapnya sambil menyelip rambut Qing Xia di belakang telinga.


Qing Xia mengangguk pelan, menatap wajah Thien Chi yang tersenyum hangat di hadapannya.


"Thien Chi..." panggilnya dengan suara berbisik.


Thien Chi menaikkan kedua alis mata, "Hmm?"


"Bolehkah aku ikut pergi bersamamu ke mansion utama?" Tanya Qing Xia sedikit berharap.


Qing Xia tidak ingin menunggu dengan gelisah dan cemas sendirian. Dia lebih memilih untuk melihat dan mendengarkan secara langsung, apa yang akan terjadi di mansion utama saat Thien Chi menemui Nenek Ye.


"Kau ingin ikut ke sana?" Tanya Thien Chi kening yang mengerut.


Qing Xia mengangguk cepat. "Ya, aku mau ikut. Boleh?"


Thien Chi membelai lembut pipi kiri Qing Xia, "Kamu adalah istriku, aku senang jika kamu mau ikut ke manapun aku pergi. Tetapi jika di mansion utama, kamu mungkin akan terluka karena sikap nenek yang kasar. Apa kamu baik-baik saja dengan itu?"


Qing Xia kembali mengangguk dengan yakin.


"Aku mau ikut denganmu meskipun nenek marah-marah di depanku." Jawab Qing Xia sambil tersenyum lebar.


"Tidak akan kubiarkan wanita lain merebut Thien Chi dariku. Aku tahu ini egois, tetapi aku tidak ingin menghabiskan masa hidupku sendirian tanpa dia di sisiku. Thien Chi, maafkan aku..." Batin Qing Xia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seorang wanita muda dengan penampilan sempurna sedang duduk di ruang tamu mansion keluarga Ye.


Nenek Ye berjalan masuk ke dalan ruang tamu. Wanita tersebut langsung berdiri dari kursi dari memberi salam dengan senyuman manis.


"Nenek Ye, terima kasih sudah mengundangku kemari."


Nenek Ye berjalan ke sofa dan duduk di depan wanita muda tersebut.


"Wei Li, sudah lama tidak bertemu. Kamu masih saja cantik seperti dulu. Sini duduk di samping Nenek." Puji Nenek Ye seraya menepuk pelan kursi di sampingnya.


Wei Li berjalan ke samping Nenek Ye dan duduk di dekatnya.


"Nenek Ye semakin muda saja. Wei Li jadi penasaran apa rahasia awet muda Nenek." Ucapnya berbasa basi dengan mulut manis yang disukai oleh Nenek Ye.


"Kamu sangat pintar berbohong, Nenek sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Mana ada bagian yang terlihat lebih muda. Kamu ini memang bermulut manis." Sahut Nenek Ye sambil tertawa riang.


Seorang pelayan berjalan mendekat, pelayan tersebut menundukkan tubuhnya, berbisik di telinga Nenek Ye.


"Tuan Muda sudah kembali, tapi beliau membawa Nyonya Muda bersamanya."


"Ckk... Pengganggu merepotkan!" Gumam Nenek Ye dengan nada kesal.


"Antar mereka masuk kemari!" Perintah Nenek Ye kepada pelayannya.


"Baik, Nyonya!"


Pelayan berjalan keluar dan tidak lama kemudian ia kembali bersama Thien Chi dan Qing Xia.


"Selamat malam, Nek!" sapa Qing Xia dengan senyuman di wajahnya.


"Hmm... Duduk!" Sahut Nenek Ye dengan suara ketus.


Qing Xia melirik sekilas wajah wanita yang duduk di samping Nenek Ye. Dia menoleh ke samping, melihat apakah Thien Chi tertarik dengan wajah cantik wanita tersebut.


Namun ternyata Thien Chi sama sekali tidak melirik wanita cantik yang berada di depannya itu. Dia duduk diam dengan memasang wajah dingin seperti biasanya.


Qing Xia senang dengan sikap Thien Chi yang mengabaikan wanita cantik di depannya. Untuk pertama kalinya dia bersyukur karena Thien Chi memiliki sifat dingin dan cuek.


"Qing Xia, ambilkan minuman untuk tamuku!" Perintah Nenek Ye dengan suara ketus.


^^^BERSAMBUNG...^^^