365 Days For Love

365 Days For Love
Bab 12



"A... Apa??" Ucap Qing Xia terkejut dengan tawaran bantuan dari suaminya.


"Kamu pasti kesulitan membuka kancing karena tanganmu terluka. Aku akan membantumu."


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri."


"Apa kau berniat menggunting bajumu?"


"Tidak, aku..."


"Sini! Dokter kan sudah bilang untuk tidak sering menggerakkan tanganmu."


"Tapi..."


"Tidak ada tapi! Kemari, aku akan melepaskan kancingnya."


Deg! Deg! Deg!


"Bukankah ini curang? Kenapa jantungku berdebar kencang hanya karena ini? Dia bahkan terlihat baik-baik dan biasa saja saat melepas kancing bajuku." Batin Qing Xia.


"Apakah dia tidak menganggapku sebagai seorang wanita?"


Qing Xia menahan napasnya, ia menatap wajah Thien Chi yang semakin lama semakin mendekat.


"Tidak bisa dibiarkan... Aku akan membuat jantungnya berdebar seperti jantungku yang saat ini melompat dengan kencang." Pikir Qing Xia.


Qing Xia melingkarkan kedua lengannya di belakang leher Thien Chi. Pria itu terkejut, ia menatap wajah istrinya yang saat ini tersenyum dengan manis dengan wajah yang menggoda.


"Karena dia berpikir aku sedang kehilangan semua ingatanku, dia pasti tidak akan menolakku, kan?" Batin Qing Xia.


"Aku bertanya karena tidak bisa mengingatnya. Kamu lebih suka lampunya menyala atau dimatikan?"


"Jangan bercanda seperti ini...!" Ucap Thien Chi dengan wajah yang memerah.


"Wajahnya memerah, sangat menggemaskan. Aku jadi ingin menggodanya sedikit lebih lama..." Batin Qing Xia.


"Bercanda? Bukankah kita juga sering melakukan hal seperti ini? Kita kan suami istri." Ucap Qing Xia sambil mendekatkan wajahnya.


Qing Xia menyentuh dada Thien Chi yang sedikit terbuka. Dia merasakan bunyi detak jantung dari suaminya yang ia kira berhati dingin dan menganggapnya hanya sebagai sebuah boneka.


Thien Chi melingkarkan sebelah lengannya ke belakang leher Qing Xia, dia memeluk pinggang ramping istrinya dengan tangan yang lain. Perlahan, ia menurunkan tubuh Qing Xia yang duduk di tepi ranjang hingga berbaring terlentang.


Saat ini, Thien Chi menindih tubuh Qing Xia yang berada di bawahnya dengan pakaian yang sedikit terbuka.


"Kalau kamu menggodaku seperti ini, aku lebih suka lampunya menyala. Dengan begitu, aku bisa menatap wajah istriku yang merona.


"Thien Chi... Aku hanya bercanda." Ucap Qing Xia dengan wajah yang semakin memerah.


"Tapi aku tidak bercanda!" Jawab pria itu sambil menatap wajah Qing Xia.


"Ah... Bagaimana ini? Tangan dan kakiku jadi gemetaran karena terlalu senang." Batin Qing Xia.


Deg! Deg! Deg!


Jantung keduanya terus berdebar semakin kencang.


"Thien... Chi!" Gumam Qing Xia saat suaminya tiba-tiba bangkit dan berjalan ke kamar mandi.


Ceklek!


Thien Chi menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Dia menyalakan keran air dan menyiram seluruh tubuhnya dari atas kepala hingga ke ujung kaki.


"Dia ketakutan? Apa dia seperti itu karena aku menakutkan?


"*Dia pasti semakin membenciku...


"Qing Xia, apa yang kau pikirkan? Kenapa kau bercanda seperti itu denganku? Candaan yang membuat sekuruh tubuhmu gemetaran... Kenapa kau melakukan itu*?


"*Aku yakin dia tidak kehilangan ingatannya, tetapi kenapa dia terus menggodaku?


"Aku... Apakah aku benar-benar memahami Liu Qing Xia yang menjadi istriku?


"Tidak, aku tidak memahaminya sedikitpun. Aku tidak mengetahui apa-apa tentangnya*."


"Dia tidak bercanda? Apa dia benar-benar berpikir untuk melakukan malam pertama denganku?" Batin Qing Xia.


Qing Xia melempar bantal yang menutupi wajahnya. Dia menyampingkan tubuhnya, menghadap ke jendela kaca.


"Aku terlalu gugup dan senang hingga gemetaran, dia malah kabur begitu saja." Keluh Qing Xia dalam hati.


Qing Xia memejamkan mata hingga akhirnya ia terlelap tanpa mengganti pakaian.


Srukkk!


Thien Chi naik ke atas ranjang, dia menatap Qing Xia punggung Qing Xia yang tertidur di sampingnya.


Qing Xia tiba-tiba berbalik, dia mengerjapkan mata dan membuka matanya.


"Kenapa kamu tidak memakai baju?" Tanya Qing Xia dengan wajah terkejut saat melihat Thien Chi sedang menatapnya.


Tanpa berkata apa-apa, Thien Chi langsung mencium bibir Qing Xia.


Tok Tok Tok!


Xiao Xi mengetuk pintu kamar, membuat Qing Xia terbangun dari mimpi indahnya.


"Nyonya, sarapan sudah siap!" Ucap Xiao Xi dari depan pintu kamar.


"Haahhh... Kenapa aku bermimpi seperti itu?" Gumam Qing Xia sembari bangkit dari tempat tidurnya.


Qing Xia membuka pintu dan berjalan ke ruang makan.


Dreeekkk!


Dia menarik kursi agar menjauh dari meja dan duduk di atasnya.


"Xiao Xi, terima kasih untuk sarapannya." Ucap Qing Xia saat melihat sepiring pancake di atas meja.


Xiao Xi sedang mencuci piring, dia berbalik menatap Qing Xia.


"Bukan saya yang membuatnya, Tuan yang memasak sarapan untuk Nyonya sebelum beliau berangkat kerja.


"Suamiku...?"


Qing Xia menatap jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 9 lewat.


"Tuan menunggu sampai saya datang, beliau meminta saya untuk membangunkan Nyonya sebelum jam 10 agar Nyonya tidak terlambat minum obat." Ucap Xiao Xi menjelaskan.


Qing Xia menatap pancake yang diberi topping madu dan mentega di atasnya. Dia merasa senang walaupun Thien Chi tidak sarapan bersamanya pagi ini tetapi pria itu masih ingat untuk membuatkan sarapan istrinya.


"Walaupun Tuan terlihat dingin, tetapi beliau sangat menyayangi Nyonya." Ucap Xiao Xi dengan senyuman lebar.


Qing Xia kembali mengingat kejadian semalam. Dia menunggu lama untuk makan malam bersama suaminya yang bahkan lupa untuk memberi kabar hingga jam 10 malam. Hatinya kembali terusik dengan ingatan yang tidak menyenangkan itu.


"Sulit menilainya hanya dengan sepiring sarapan, bukan?" Sanggah Qing Xia dengan wajah datar.


"Entahlah, mungkin Tuan hanya tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Tetapi aku yakin beliau sangat mencintai Nyonya." Ucap Xiao Xi yang masih sibuk membersihkan dapur.


"Dia mencintaiku? Tetapi selama pernikahan kami, dia tidak pernah menyentuhku. Dan juga, dia yang sudah menyodorkan formulir perceraian kami. Apa itu masuk akal?" Batin Qing Xia.


"Katanya Tuan hari ini akan pergi dinas ke luar kota dan mungkin akan kembali besok pagi. Beliau meminta saya untuk menyiapkan makan malam Nyonya." Ucap Xiao Xi sambil meletakkan sepiring buah-buahan yang sudah dipotong kecil-kecil di depan meja Qing Xia.


Qing Xia mengambil teh di samping piring sarapannya. Dia menyesap teh hangat itu sambil bertanya di dalam hati.


"Apa malam ini kami juga tidak akan makan bersama?"


Qing Xia menatap layar ponsel, berharap ada pesan atau telepon yang masuk dari Thien Chi.


"Harusnya dia memberitahuku secara langsung sebelum pergu ke luar kota!" Gumam Qing Xia sambil menatap layar ponselnya.


"Haruskah aku meneleponnya lebih dulu?" Batin Qing Xia.


^^^BERSAMBUNG...^^^