
Thien Chi menatap istrinya yang kembali tertidur pulas, namun tangannya masih berada di balik kemeja hitam yang dikenakan oleh suaminya.
"Liu Qing Xia... Apa yang harus kulakukan padamu? Haruskah ku ikat saja tanganmu? Jika kau terus melakukan ini kepadaku, aku tidak akan bisa menahannya lagi." Batin Thien Chi.
Pria itu mengeluarkan tangan Qing Xia dan menyelimuti tubuh istrinya. Dia berjalan keluar dari kamar dan masuk ke kamar tamu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Qing Xia terbangun di pagi hari dengan wajah cerah merona. Dia tersenyum dengan wajah bodoh saat mengingat kembali mimpinya semalam. Mimpi ketika ia meraba tubuh suaminya yang berbentuk seperti roti sobek dengan dada yang keras.
Qing Xia berjalan keluar dari kamar, menuruni anak tangga untuk menuju ke dapur.
Ceklek!
Suara pintu menyadarkan Qing Xia jika ia tidak sendirian di dalam rumah.
"Bukankah masih pagi? Seharusnya Xiao Xi belum datang. Apa Thien Chi sudah pulang?" Gumam Qing Xia sambil terus berjalan.
Sosok pria tampan dengan pakaian rapi serba hitam terlihat di bawah tangga. Qing Xia terkejut melihat wajah suaminya yang sudah berada di rumah.
Tap Tap!
Thien Chi mendekati Qing Xia yang baru saja menuruni anak tangga terakhir.
"Seharusnya kau tidur lebih lama. Kau butuh banyak istirahat." Ucap Thien Chi sambil menatap wajah istrinya.
Qing Xia mengingat kejadian di mimpinya. Sekilas ia merasa berdebar dan malu memikirkan apabila kejadian semalam ternyata bukan sekedar mimpi belaka.
"Kemarin... Kau pulang larut, ya?" Tanya Qing Xia dengan harapan Thien Chi akan menjawab "Tidak".
"Aku sampai dini hari." Jawab pria itu sembari membenarkan dasinya.
"Di... Dini hari?"
Qing Xia menjadi gugup dan malu karena itu artinya Thien Chi benar-benar pulang tadi malam dan ia juga sungguh meraba-raba tubuh suaminya itu.
"Aku ingin menggali lubang dan masuk ke dalamnya." Batin Qing Xia.
"Kukira kau akan menginap." Ucap Qing Xia dengan suara gugup.
Wajah Thien Chi memerah begitu mengingat kejadian tadi malam. Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengatakan kepada Qing Xia.
"Kau bisa kena flu jika memakai pakaian setipis ini saat tidur!"
Qing Xia menundukkan wajahnya, menatap pakaian yang saat ini sedang ia kenakan.
"Ma... Maaf! Aku akan segera mengganti pakaianku." Ucap Qing Xia panik sambil berlari menaiki anak tangga.
Qing Xia mengganti pakaian luarnya, dia memukul-mukul pelan kepalanya sambil merutuki diri sendiri.
"Dasar bodoh! Kenapa aku hanya memakai pakaian dalam untuk tidur... Ck!"
Qing Xia kembali menuruni anak tangga dan berjalan menuju ruang makan. Thien Chi sudah menunggu di sana dengan sepiring salad buah dan susu di atas meja.
"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Makanlah dan minum obatmu tepat waktu." Ucap Thien Chi sambil berbalik dan berjalan keluar.
"Baik!" jawab Qing Xia sambil menundukkan wajahnya yang memerah.
"Jika yang kuraba semalam benar-benar Thien Chi, kenapa dia bisa setenang itu? Apa dia kira aku sedang mengigau, jadi dia diam saja?" Tanya Qing Xia dalam pikirannya.
Qing Xia berdiri menatap piring saladnya yang di buatkan oleh suami tercinta.
"Dia selalu bersikap dingin dan tenang, mungkin dia benar-benar tidak peduli bahkan jika aku membuka seluruh pakaianku di depannya." Batin Qing Xia.
Sementara itu, Thien Chi berhenti melangkah. Dia berbalik ke belakang, mencari sosok wanita yang ia rindukan sepanjang hari. Karena tidak melihat istrinya di sana, Thien Chi kembali ke ruang makan. Tiba-tiba dia memeluk Qing Xia dari belakang.
Qing Xia terkejut dengan pelukan dari suaminya, namun ia tetap berdiri diam dengan detak jantung yang semakin kencang dan wajah yang semakin merah.
"Ini hukuman karena kau lupa mengantarku." Ucap Thien Chi dengan suara lembut.
"Aku selalu teringat dengan sentuhanmu tadi malam. Karena kau, aku jadi tidak bisa tidur. Ini adalah pembalasanku atas perbuatanmu semalam." Batin Thien Chi.
Thien Chi melepaskan pelukannya, dia berbalik dan berjalan menuju keluar.
"Semalaman aku menahan hasratku yang sudah lama terpendam. Hasrat yang rasanya akan segera meledak jika kau kembali mengusiknya."
Ceklek! Blam!
Setelah terdengar suara pintu tertutup, Qing Xia segera menarik napas dalam dalam. Sejak tadi ia lupa bernapas karena terlalu gugup dan panik.
Qing Xia berbalik menatap ke pintu keluar. Dia menghembuskan napas lega karena Thien Chi sudah tidak terlihat di sana.
"Menyebalkan! Aku kesal karena hatiku masih terisi olehnya." Batin Qing Xia.
Qing Xia menghabiskan semua makanannya, dia kembali ke kamar dan mengeluarkan buku agenda yang mencatat hari setelah dia hidup kembali.
"354 Hari." Gumamnya.
Tringgg... Tringgg...
Ponsel Qing Xia berbunyi, dia menjawab panggilan telepon dari rumah sakit tempat ia bekerja.
"Qing Xia, apa kau sudah lebih baik?" Tanya rekan kerjanya yang bernama Bao Bei.
"Aku baik-baik saja sekarang. Ada apa?"
"Kau ingat pasien yang bernama Aaron?"
"Aaron? Maksudmu pasien dengan penyakit tumor langka di otaknya?"
"Benar, pasien itu datang dan mencarimu. Sudah tiga kali dia kembali ke rumah sakit hanya untuk menemuimu. Sepertinya dia akan menerima perawatan untuk tumornya. Tetapi pria itu hanya ingin bertemu denganmu saja. Bisakah kau kembali bekerja secepatnya?"
"Aku akan ke rumah sakit besok. Tolong hubungi pasien itu dan katakan kepadanya untuk datang ke rumah sakit."
"Baiklah. Maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu."
Setelah mematikan sambungan telepon, Qing Xia menatap tangan kanannya yang masih diperban.
"Bisakah aku melakukan operasi dengan tangan ini?" Tanya Qing Xia kepada diri sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Qing Xia pergi ke rumah sakit dengan menyetir mobil putih miliknya. Dia tiba satu jam sebelum jam masuk kerja agar bisa membaca laporan pasiennya yang sudah ditangani oleh Bao Bei. Rekan kerjanya yang menggantikan dirinya saat Qing Xia tidak hadir di rumah sakit.
Tok Tok!
Qing Xia terperanjat mendengar suara pintunya yang diketuk dari luar. Dia menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul 7 pagi.
"Seharusnya tidak ada yang ke sini di jam segini. Siapa yang mengetuk pintuku?" Batin Qing Xia.
"Masuk!" Ucap Qing Xia dari dalam.
Ceklek!
Seorang pria tampan dengan pakaian serba putih masuk ke dalam ruangan. Pria itu berjalan ke depan meja Qing Xia lalu duduk di kursi yang berada di hadapannya.
"Kenapa anda datang pagi sekali?" Tanya Qing Xia kepada pasiennya yang bernama Aaron.
"Karena saya ingin memastikan sesuatu secepatnya." Jawab pria itu sambil menatap Qing Xia.
"Apa yang ingin anda pastikan?"
"Jika aku menjalani operasi, apakah aku akan sembuh?"
Qing Xia menatap mata pasien di depannya.
"Saya tidak bisa memberikan kepastian apapun dalam hal ini. Tetapi saya bisa berjanji, saya akan melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit anda." Jawab Qing Xia tanpa keraguan.
Aaron tampak tidak puas dengan jawaban dari Qing Xia. Pria itu mengeryit dan menyilangkan ibu jarinya.
"Berapa % kemungkinan dalam keberhasilan operasi ini?"
"50%."
Aaron bangkit dari kursinya, dia berbalik dan berjalan ke pintu keluar.
"Apa anda akan menyerah?" Tanya Qing Xia yang membuat pria itu berhenti melangkah.
"Aku tidak ingin mati begitu saja di meja operasi. Masih banyak hal yang ingin kulakukan sebelum kematian datang menjemputku."
Qing Xia mengerutkan alisnya, berpikir bagaimana cara untuk membujuk pria itu agar mau menerina perawatan.
Aaron berjalan keluar dari ruangan. Sesaat kemudian, Qing Xia mengejarnya, dia berlari di koridor rumah sakit yang masih sepi.
"Tunggu sebentar!" Teriak Qing Xia dengan napas yang memburu.
Aaron berbalik menatap dokter cantik di belakangnya.
"Bisakah anda meluangkan waktu untuk mendengarkan sebuah cerita?" Tanya Qing Xia dengan senyuman yang lebar.
^^^BERSAMBUNG...^^^