365 Days For Love

365 Days For Love
Bab 21



Thien Chi dalam perjalanan ke luar kota. Asisten Lu Han mengemudi di depan sedangkan ia duduk di belakang sambil membaca dan mengamati berkas laporan keungan di porusahaan.


"Asisten Lu Han!"


"Ya, Pak?"


"Tolong berhenti di Toko kue saat kita pulang nanti. Aku ingin membeli cake untuk istriku."


"Baik, Pak!" Jawab Asisten Lu Han dengan senyuman tipis.


Tringgg!


Ponsel Thien Chi berbunyi, dia menjawab panggilan telepon dari seseorang dengan nama Sanny.


"Ada apa?"


"Saat ini, Qing Xia sedang di dalam ruang operasi. Dia memimpin operasi pengangkatan tumor di dalam otak pasiennya. Apa anda tahu hal ini?"


Thien Chi membeku sejenak.


"Asisten Lu Han, putar mobilnya! Kita ke rumah sakit tempat Qing Xia bekerja!" perintah Thien Chi dengan wajah cemas dan gelisah


Qing Xia mengambil pisau bedah, awalnya ia ingin menggunakan tangan kirinya. Tetapi tangan kiri Qing Xia terlalu sulit untuk dikendalikan. Akhirnya dia memindahkan pisau bedah ke tangan kanannya yang masih terasa sakit.


Qing Xia menarik napas dalam-dalam.


"Tuhan... Tolong berikan aku kekuatan untuk menyelamatkan pasien ini." Doanya dalam hati.


Ia memulai operasiny, mengambil posisi yang tepat untuk membedah kulit yang di beri tanda.


Tranggg!


Pisau bedah terjatuh dari tangan Qing Xia. Dia merasa jari-jarinya sulit digerakkan dan sakit yang menyengat tiba-tiba menjalar saat ia menggunakan sedikit tenaganya.


Semua mata menuju ke Qing Xia. Begitu pula dengan Dokter Yu yang memperhatikan dari atas ruang operasi.


"Dia tidak pernah melakukan kesalahan seperti ini sebelumnya. Sepertinya memang ada yang salah dengan tangan kanannya." Gumam Dokter Yu.


Seorang perawat yang bertugas di dalam segera memungut pisau bedah dari lantai. Dia memberikan pisau bedah yang lain kepada Qing Xia.


"Terima kasih!" Ucap Qing Xia dengan suara lesu.


Qing Xia kembali memegang pisau bedah dengan tangan kanannya. Dia menatap pisau bedah itu lalu berkata dalam hati.


"Tuhan, tolong bantu aku!" Batin Qing Xia.


"Hei manusia bodoh!"


Suara tidak asing terdengar di dalam kepala Qing Xia.


"Apa kau malaikat baik hati itu?" Jawab Qing Xia melalui pikirannya.


"Ya, aku di sini!"


Qing Xia menoleh ke samping, malaikat pria yang membangkitkannya ternyata berdiri di sana.


"Malaikat baik hati, kenapa anda berada di sini? Jangan bilang anda kemari untuk mengambil nyawa pasien Aaron!" Ucap Qing Xia dengan perasaan gelisah.


"Bisa iya dan bisa tidak. Yang kulakukan, semuanya tergantung pada pilihanmu."


"Apa maksud perkataan anda?"


"Aku bisa membuat tanganmu sembuh dan kembali seperti semula."


"Be-benarkah?" Tanya Qing Xia bersemangat.


Sementara itu, rekan dan perawat di dalam ruang operasi sedang menatap Qing Xia dengan wajah kebingungan dan penasaran. Sebab wanita itu hanya diam mematung di sana tanpa memulai pembedahan.


"Tentu saja, tapi semua itu tidak gratis."


Qing Xia berpikir sejenak. "Tidak gratis? Artinya aku harus menukarnya dengan sesuatu?"


"Benar. Kau harus membayar untuk sesuatu yang berharga, bukan?"


"Apa yang kau inginkan dariku Tuan malaikat?"


"Jangan salah paham, bukan aku yang menginginkannya. Itu hanya harga yang harus kau bayar untuk menyelamatkan nyawa orang lain."


"Benar, tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Jadi, dengan cara apa aku bisa membayar kesembuhan tanganku?"


"Jika kau menginginkan tanganmu kembali seperti semula, kau harus kehilangan 100 hari yang tersisa dari nyawamu. Apa kau bersedia?"


^^^BERSAMBUNG...^^^