
Thien Chi mengupas kulit udang, dia memindahkan udang yang sudah dikupas ke mangkuk Qing Xia.
"Habiskan semuanya!" Ucap Thien Chi dengan nada memerintah.
"Kenapa... Apa kepalanya terbentur saat dia menangis di rumah sakit?" Pikir Qing Xia.
Qing Xia menatap mangkuk miliknya, dia tersadar apa yang dilakukan oleh Thien Chi disebabkan oleh sikap canggungnya.
"Karena tidak nyaman, aku jadi makan nasi putih saja. Bahkan nasinya hanya tinggal setengah mangkuk..." Batin Qing Xia.
"Terima kasih!" Ucap Qing Xia dengan perasaan senang.
Qing Xia menikmati makanan yang di ambilkan oleh Thien Chi, dia mengunyah dengan lahap semua nasi dan lauk di mangkuknya. Sesekali ia melirik ke samping, melihat wajah suaminya yang masih sibuk mengupas udang untuknya.
"Apa karena ini dia duduk di sampingku?" Tanya Qing Xia dalam hati.
Lagi dan lagi... Thien Chi memberikan semua udang yang dia kupas kepada Qing Xia.
"Kenapa kau tidak makan?" Tanya Qing Xia keheranan.
"Aku alergi udang." Jawab Thien Chi dengan nada datar.
Qing Xia berhenti mengunyah, dia menatap Thien Chi yang masih sibuk dengan kulit udang.
"Dia alergi udang? Bukankah dia selalu memesan udang setiap kali kami makan bersama?" Batin Qing Xia.
"Tunggu! Apakah dia tahu aku menyukai udang? Itu sebabnya dia selalu memesan udang saat kami makan di luar? Dan itu penyebab dia tidak pernah menyentuh makanan yang aku makan?" Pikir Qing Xia bertanya-tanya dalam hati.
Mata Qing Xia mulai berkaca-kaca, dia memikirkan kembali semua kenangan bersama Thien Chi.
"Aku selalu berpikir jika dia egois dan tidak pernah memperhatikan istrinya. Tapi nyatanya... Aku bahkan tidak tahu jika dia alergi udang." Batin Qing Xia.
Klanggg!
Thien Chi menjatuhkan sendok makan ketika melihat air mata Qing Xia. Dia berdiri dari kursi dan bertanya dengan wajah panik.
"Ada apa? Kenapa kau menangis? Tanganmu sakit? Aku akan memanggil dokter kemari!" Ucap pria itu dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Ti... Tidak! Aku baik-baik saja." Jawab Qing Xia sambil menatap wajah Thien Chi yang panik dan cemas.
"Astaga... Lihatlah! Apa yang sudah ku lewatkan dalam 2 tahun ini." Batin Qing Xia.
Thien Chi berlari ke meja wastafel, membersihkan tangannya lalu kembali ke meja makan dengan membawa beberapa helai tisu.
"Jangan mengucek matamu dan jangan bergerak! Aku akan mengeringkan wajahmu dengan tisu."
Thien Chi menghapus air mata di wajah Qing Xia, dia menyeka perlahan sudut mata Qing Xia yang masih basah dan berair.
"Jadi? Kenapa kau menangis?" Tanya pria itu dengan rasa penasaran.
"Aku... Makanan ini terlalu pedas!" Ucap Qing Xia berbohong.
Thien Chi menatap makanan yang berada di atas meja, jelas-jelas Qing Xia tidak menyentuh makanan yang diberi bumbu pedas.
"Apa sebenarnya yang ia tangisi?" Tanya Thien Chi dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini, keduanya berada di dalam kamar. Qing Xia berbaring di atas ranjang dengan lengan kiri terangkat ke atas menutupi kedua matanya.
Sementara Thien Chi berbaring telentang di samping Qing Xia. Pria itu menatap langit-langit kamar sambil berpikir apa yang menjadi penyebab Qing Xia menangis saat makan malam.
Syuttt!
Qing Xia menyingkirkan lengannya, ia terkejut saat melihat wajah Thien Chi di atasnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Qing Xia dengan wajah yang memerah.
Keduanya saling menatap sesaat, hingga akhirnya Thien Chi membuka mulutnya dan menggerakkan tangannya ke meja yang berada di samping tempat tidur.
"Aku mau mematikan lampu." Ucap Thien Chi dengan wajah yang memerah.
Dia segera kembali berbaring di samping Qing Xia. Suasana kamar sangat hening, hanya terdengar suara detak jantung masing-masing yang berdebar dengan keras dan semakin cepat.
Qing Xia kembali memejamkan mata, dia berbalik ke samping, membelakangi Thien Chi.
Satu jam berlalu, Qing Xia masih terjaga dengan mata yang terpejam. Dia tidak bisa tertidur lelap seperti biasanya, mengingat di sampingnya saat ini sedang berbaring seorang pria yang sangat ia cintai.
Qing Xia bangkit dari tempat tidur, "Aku tidak bisa tidur, aku akan mencari kamar lain!" Ucapnya sambil menyingkirkan selimut dari tubuhnya.
"Kenapa? Kau tidak nyaman bersamaku?"
"Iya, aku akan tidur di kamar lain."
Thien Chi menahan lengan Qing Xia, "Tetaplah tidur di sini walau tidak nyaman." pinta pria itu dengan suara lembut.
"Kalau kau benar-benar tidak nyaman, aku akan tidur di sofa." tambahnya lagi untuk meyakinkan Qing Xia.
"Ti... Tidak usah!" Jawab Qing Xia sambil menahan lengan Thien Chi yang hendak turun dari tempat tidur. "Aku akan tidur di sini."
"Sisa waktuku hanya satu tahun, seharusnya aku menghabiskan semua waktuku untuk berada di sampingnya." Batin Qing Xia.
Qing Xia memejamkan mata, memikirkan apa saja yang ingin dilakukan dalam satu tahun ke depan selama sisa waktunya.
Waktu menunjukkan pukul 3 subuh. Qing Xia membuka mata, menyampingkan tubuhnya ke kanan untuk menatap wajah Thien Chi yang sudah terlelap.
"Dia tertidur dengan mudahnya! Benar-benar tidak menganggapku sebagai seorang wanita." Batin Qing Xia.
"Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali kami bertemu, dan dia tidak pernah menganggapku sebagai wanita yang ia cintai. Tetapi... Dia menangis saat aku meninggal dan merawatku selama seminggu penuh di rumah sakit.
"Jika kau mencintaiku, kenapa kau mengajukan gugatan cerai? Jika kau tidak mencintaiku, mengapa kau menangis dengan begitu sedih di hari kematianku?
"Thien Chi, sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kenapa kau selalu membuatku salah paham dengan sikapmu?
Setelah lelah dengan pikirannya yang dipenuhi dengan banyak pertanyaan, Qing Xia akhirnya tertidur lelap.
Beberapa menit kemudian, tangan Qing Xia berpindah ke dada Thien Chi. Dia mengelus dan meraba-raba tubuh suaminya hingga pria itu terbangun dari tidurnya.
"Qing Xia!" Ucapnya terkejut namun ia segera menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Kebiasaan buruknya saat tidur sangat mengerikan!" Pikir Thien Chi.
Thien Chi menatap wajah istrinya yang tertidur dengan wajah tenang. Dia memikirkan saat pertama kali mereka bertemu di pesta ulang tahun Nenek Ye.
Kesan pertama Thien Chi saat diperkenalkan dengan Qing Xia. "Dia masih muda dan wajahnya sangat imut."
Setelah berbicara beberapa kata dengannya, Thien Chi merasa Qing Xia lumayan menarik dan sedikit berbeda dengan wanita lain yang pernah dia temui. Meskipun Thien Chi belum menyukai Qing Xia saat itu, tetapi dia merasa Qing Xia adalah wanita paling baik yang pernah dia kenal.
Saat kembali ke rumah setelah 2 tahun perjalanan bisnis di Amerika, Thien Chi baru mengingat jika dirinya sudah menikah dan mereka tinggal serumah. Tetapi saat itu dia masuk tanpa mengetuk pintu dan pulang secara tiba-tiba tanpa mengabari Qing Xia.
Thien Chi berjalan masuk ke dalam rumah, dia melihat Qing Xia yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Dan wanita itu tengah bernyanyi sambil menari dengan senyuman ceria.
"Entah sejak kapan, sepertinya aku mulai mencintai Liu Qing Xia." Batin Thien Chi.
^^^BERSAMBUNG...^^^