365 Days For Love

365 Days For Love
Bab 22



"100 Hari?"


"Ya, itu adalah harga yang harus kau bayar. Tentukan pilihanmu, sekarang!"


Qing Xia berpikir keras, pilihan apa yang harus ia ambil. Dia ingin menyelamatkan pasiennya, namun jika harus kehilangan 100 hari dari sisa hidupnya yang singkat, Qing Xia tentu saja akan berpikir lagi.


Dia menatap wajah pasien yang terbaring tidak berdaya di hadapannya.


"Aku sudah berjanji untuk menyembuhkan penyakit yang ia derita. Kehilangan 100 hari untuk menyelamatkan 1 nyawa... Aku akan menerima tawaran itu!" Batin Qing Xia.


Qing Xia berkata dalam pikirannya. "Aku sudah membuat pilihan."


Qing Xia menoleh ke samping, tempat malaikat kematian berdiri dengan tatapan tajam.


"Aku akan menerima tawaran dari anda. Tolong sembuhkan tanganku, aku akan merelakan 100 hari dari sisa hidupku." Ucap Qing Xia kepada malaikat melalui pikiran.


"Mulai dari detik ini, waktu hidupmu hanya tersisa 254 Hari. Sebagai gantinya, kau akan mendapatkan tangan yang sempurna. Liu Qing Xia, semoga kau tidak menyesali keputusanmu."


Begitu suara itu bergema di dalam kepala Qing Xia, sang malaikat pun menghilang.


"Dokter Liu! Dokter Liu!" panggil rekannya namun tidak terdengar oleh Qing Xia yang masih terhanyut dalam pikirannya.


Seorang perawat berjalan mendekat. Perawat itu menepuk pelan pundak Qing Xia.


Qing Xia menoleh, menatap perawat tersebut.


"Dokter Liu, anda baik-baik saja?"


"Ya, aku baik-baik saja. Mari kita mulai!"


Qing Xia menggenggam erat pisau kecil namun tajam di tangan kanannya.


"Rasa sakitnya menghilang..." Pikir Qing Xia.


Bibirnya sedikit melebar di balik masker, saat menyadari jika cedera di tangannya benar-benar telah sembuh dengan sempurna.


Qing Xia memulai pekerjaannya, tangan kanannya bergerak cepat dan lincah. Dokter Yu menyaksikan gerakan tangan Qing Xia yang sangat mahir dalam menggunakan pisau bedah. Bola mata dokter tampan itu sedikit membesar saat melihat jari-jari yang sedang menari dengan banyaknya caoran merah di sekelilingnya.


"Luar biasa!" Gumam Dokter Yu mengagumi kecepatan Qing Xia dalam teknik membedah.


1 jam kemudian


Qing Xia keluar dari ruang operasi. Dia tersenyum-senyum sendiri mengingat operasinya berjalan dengan baik dan lancar.


Drap! Drap! Drap!


Orang tua Aaron berdiri dari kursi dan segera berlari menghampiri Qing Xia.


"Dokter Liu, bagaimana keadaan Aaron?" Tanya pria paruh baya yang merupakan ayah dari Aaron.


"Operasinya berjalan dengan baik, kita hanya perlu memantau kondisinya dalam masa pemulihan."


Ibu Aaron memegang kedua tangan Qing Xia, wanita paruh baya itu mulai meneteskan air mata sambil memgucapkan terima kasih kepada Qing Xia.


"Apa kami boleh melihat Aaron?" Tanya wanita itu sembari menghapus air matanya.


"Pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan. Kalian boleh melihatnya nanti." Jawab Qing Xia sambil menepuk-nepuk pelan pundak wanita tersebut.


Qing Xia melihat kedua orang tua Aaron yang saling berpelukan. Dalam hati, ia merasa senang dan bersyukur karena telah memilih untuk menyembuhkan tangannya, meskipun harus mengurangi hari yang tersisa dalam hidupnya.


Brukkk!


Qing Xia menabrak tubuh seseorang saat berjalan sambil melamunkan senyuman Aaron ketika sembuh nanti.


"Maaf..." Kata Qing Xia sembari melihat wajah orang yang ditabraknya.


"Apa yang kau pikirkan sampai berjalan tanpa melihat ke depan?"


Ternyata orang yang di tabrak oleh Qing Xia adalah Dokter Yu. Pria itu berdiri di depannya dengan wajah dan tatapan dingin.


Qing Xia memundurkan langkahnya ke belakang. "Ma... Maaf, Dokter Yu!" Ucapnya dengan suara gugup.


"Lukamu sudah sembuh?" Tanya Dokter Yu dengan raut wajah khawatir.


Qing Xia menganggukkan kepala.


Dokter Yu menatap tajam mata Qing Xia, seakan sedang mencari sesuatu di dalam bola mata hitamnya.


"Mengapa anda bersikap seperti ini?" Tanya Qing Xia kebingungan dengan sikap dari Dokter Yu yang terkesan aneh dan tidak biasa.


Dokter Yu menghela napas panjang.


"Datang ke ruanganku setelah kau membersihkan diri!" Perintahnya dengan nada datar.


Dokter muda itu berbalik dan beranjak pergi meninggalkan Qing Xia yang masih berdiri dengan rasa penasaran dan bingung terhadap sikap dari dokter seniornya.


Dokter Yu berjalan masuk ke dalam ruangan, ia duduk di kursi sambil menunggu Qing Xia.


"Aku sudah memeriksa hasil laporan dari cedera tangannya. Jelas sekali dia tidak bisa memegang pisau bedah dalam kondisi seperti itu. Apa yang kulihat barusan sungguh mengejutkan! Gerakan tangannya sangat cepat dan lincah, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang terluka." Batin Dokter Yu.


Tok! Tok!


"Masuk!"


Qing Xia berjalan masuk dengan wajah gugup. Dia berdiri di depan seniornya dengan sikap sopan, menunggu apa yang akan disampaikan oleh pria itu kepadanya.


"Sejak kapan tanganmu sembuh?" Tanya Dokter Yu tanpa basa basi.


Qing Xia menatap Dokter Yu dengan bola mata membesar, dia tidak menyangka jika dokter tampan itu mengetahui tentang cedera di tangannya.


"Itukah sebabnya dia memarahiku? Kesalahan yang kulakukan saat itu... Menawarkan diri untuk mengoperasi pasien Aaron dalam keadaan tangan yang cedera." Pikir Qing Xia.


"Apakah ada sesuatu di wajahku?" Tanya Dokter Yu dengan nada datar.


"Ti... Tidak!" Jawab Qing Xia sambil menggelengkan kepala.


"Lalu kenapa kau terus menatap wajahku tanpa menjawab pertanyaan dariku?"


Blush


Wajah Qing Xia memerah bagaikan tomat matang. Dia tidak menyadari jika sejak tadi ia terus memandang wajah tampan seniornya yang dingin dan kejam.


"Maaf... Saya tidak sengaja..."


"Kelihatannya kau tidak memiliki niat untuk menjawab pertanyaanku. Keluar dan istirahatlah!"


Qing Xia yang menundukkan kepala sekejap langsung mendongakkan wajahnya.


"Apa yang dia katakan? Istirahat?" Batin Qing Xia.


Qing Xia berbalik dan beranjak.


"Dokter Liu Qing Xia!" Panggil pria itu tiba-tiba.


Qing Xia menggerutu di dalam hatinya, dia merasa seniornya akan kembali mengomel dan menceramahi dirinya. "Tahu begitu, seharusnya aku berlari dengan cepat dan keluar dari sini." Itulah kata yang bergema di kepala Qing Xia.


Qing Xia berbalik dan menatap wajah Dokter Yu.


"Ada yang ingin anda sampaikan lagi?" Tanyanya dengan sedikit kesal lalu menundukkan kembali wajahnya.


"Kerja bagus!" Ucap Dokter Yu memuji Qing Xia.


Qing Xia kembali mengangkat wajahnya, menatap senior tampan di hadapannya yang saat ini tersenyum manis sambil menatap juniornya.


"Mimpi apa aku tadi malam?" Tanya Qing Xia dalam hati.


Qing Xia berbalik badan dan berjalan keluar dari ruangan Dokter Yu. Dia berdiri di depan pintu dengan wajah kebingungan dan tampak seperti orang bodoh.


"Tadi itu pujiankan? Senior Yu memujiku? Dia... Dokter arogan dan kejam itu? Sungguhan memujiku?" Gumam Qing Xia tanpa sadar mengeluarkan pertanyaan dalam hatinya.


^^^BERSAMBUNG...^^^