
Brummm!
Sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung tinggi yang menjadi cabang anak perusahaan dari ZhuBao Grup milik keluarga Ye. Beberapa staff dan karyawan berdiri di depan pintu, menyambut kedatangan CEO perusahaan.
Thien Chi masih fokus membaca laporan di tangannya. Dia tidak menyadari jika mereka sudah tiba di tempat tujuan.
Asisten Lu Han berbalik ke belakang, "Kita sudah sampai, Pak!" Ucapnya kemudian mematikan mesin mobil.
Dia turun dan membukakan pintu mobil untuk Thien Chi.
Thien Chi meletakkan tumpukkan kertas di samping kursi, ia turun lalu berjalan ke depan pintu. Asisten Lu Han segera membereskan semua laporan dan memasukkan ke dalam sebuah tas hitam yang selalu ia bawa.
Para staff dan karyawan segera menunduk memberi hormat begitu melihat wajah CEO mereka.
Tringgg... Tringgg...
Para staff dan karyawan saling memandang, mencari tahu ponsel siapa yang berbunyi dengan begitu keras di saat CEO mereka sedang hadir di sana.
"Maafkan kami, Pak!" Ucap Manager Zhu yang berdiri di samping Thien Chi.
Staff lain yang berdiri di belakang berbisik-bisik dengan rekan kerja di samping mereka.
"Sepertinya itu bunyi ponsel Pak CEO."
"Benar, suaranya datang dari Pak CEO."
"Tumben sekali beliau menghidupkan ponsel di jam kerja."
"Ssttt! Jangan berisik!"
Thien Chi mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Dia menjawab panggilan telepon dari Xiao Xi.
"Tuan, barusan Nyonya sudah sarapn dan meminum obatnya."
"Sekarang istriku sedang apa?"
Mendengar pertanyaan dari CEO mereka, staff dan karyawan yang berada di sana langsung membuka mata lebar-lebar dengan mulut yang menganga. Mereka terkejut mengetahui CEO dingin yang terkenal tidak memiliki hati itu ternyata sangat memperhatikan istrinya.
"Nyonya masuk ke dalam kamar mandi, beliau meminta saya untuk menyiapkan air hangat di bath tub dengan sedikit aroma terapi." Lapor Xiao Xi dari telepon.
"Siapkan makan siang yang bergizi untuk istriku." Perintah Thien Chi lalu menutup sambungan teleponnya.
Para staff yang berbisik bisik di belakang segera menutup mulut. Mereka mengikuti Thien Chi masuk ke dalam perusahaan.
"Karena kebakaran pabrik semalam, jumlah barang yang di minta oleh pelanggan jadi banyak berkurang. Sementara batas waktu yang diberikan hanya tersisa 7 hari saja." Lapor Manager Zhu.
"Dalam 7 hari ke depan, semua pabrik di sini akan fokus memproduksi barang permintaan dari klien utama. Seharusnya masih sempat untuk menutupi jumlah produksi yang terbakar." Jawab Thien Chi memberikan solusi.
Rapat dilanjutkan dengan berbagai laporan yang masuk dari para manager yang datang dari beberapa cabang perusahaan.
Beberapa jam kemudian...
Thien Chi menatap jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 2 sore.
"Kita istirahat 20 menit, nanti dilanjutkan lagi." Ucap Thien Chi membubarkan rapat untuk sementara.
Thien Chi mengambil ponsel dan menghubungi Xiao Xi.
"Ya, Tuan!" jawab Xiao Xi yang sedang mengelap kaca jendela.
"Apa yang sedang dilakukan istriku?"
Xiao Xi menatap keluar jendela, melihat Qing Xia yang sedang duduk di area kolam renang.
"Nyonya sedang membaca buku di area kolam renang. Mau saya sambungkan?" Jawab Xiao Xi dengan senyuman ceria.
"Tidak, jangan mengganggunya dan jangan mengatakan apapun kepadanya."
"Baik, Tuan!"
Thien Chi berjalan ke depan dinding kaca dan menatap jauh ke depan.
"Dia tidak akan senang jika mengetahui hal ini." Pikir Thien Chi.
"Siapkan makan malam yang mudah dicerna. Aku sudah memesan sarang burung wallet, tolong siapkan untuknya sebagai dessert nanti malam."
"Saya mengerti, Tuan. Ada lagi yang ingin anda katakan?"
"Jangan meninggalkan bekas air di lantai karena dia mudah terpeleset. Sebelum kamu pulang, tolong tanyakan padanya apa ada yang membuatnya tidak nyaman."
"Oh... Baik, Tuan."
"Siap, Tuan."
Tok Tok!
Asisten Lu Han mengetuk pintu, dia masuk ke dalam ruang kerja Thien Chi dengan membawa segelas kopi panas.
"Anda menghubungi Xiao Xi lagi?" Tanya Asisten Lu Han. "Kenapa tidak langsung menghubungi Nyonya saja?" lanjutnya bertanya sembari menyerahkan kopi kepada Thien Chi.
Thien Chi mengambil kopi dari tangan Asisten Lu Han, dia menikmati kopi panasnya tanpa menjawab pertanyaan dari asistennya itu.
"Saya sudah memesan hotel untuk bermalam." Lapor Asisten Lu Han.
"Hotel... Batalkan saja. Aku akan menyelesaikan rapat secepatnya lalu pulang ke rumah."
"Besok anda harus datang ke sini lagi, kan?"
"Tidak apa-apa. Kau tinggal saja di sini. Aku akan pulang sendiri. Panggilkan mereka dulu, kita mulai lagi rapatnya sekarang!"
"Baik, Pak!"
Waktu terus berjalan, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Thien Chi menyelesaikan rapat dan membubarkan semua staffnya.
"Berikan kuncinya padaku!" Pinta Thien Chi kepada Asisten Lu Han.
"Biar saya saja yang menyetir."
"Tidak perlu, kau pergi saja ke hotel dengan mobil perusahaan."
"Ini sudah jam 12, anda pasti lelah." Ucap Asisten Lu Han menolak perintah dari Thien Chi.
Thien Chi mengambil kunci dari tangan Asisten Lu Han, dia berjalan masuk ke mobil dan melajukan mobilnya tanpa menunggu asistennya.
"Pak...!" Panggil pria itu dengan sedikit menjerit, namun Thien Chi tetap berjalan tanpa menghentikan mobilnya.
"Pak CEO begitu peduli pada Nyonya, kenapa selama ini tidak pernah terlihat sedikit pun, ya?" Gumam Asisten Lu Han sambil menatap mobil hitam yang semakin menjauh.
Kamar Qing Xia
Qing Xia berjalan ke dalam kamar. Dia duduk di atas sofa sambil menatap layar ponsel, menunggu pesan dan telepon dari suaminya yang tak kunjung tiba.
"Haruskah aku meneleponnya lebih dulu?" Gumam Qing Xia.
Qing Xia melihat nama kontak Thien Chi di layar ponsel, dia berniat menekan tombol panggilan namun jarinya terasa berat untuk menyentuh layar touchscreen di tangannya.
Plokkk!
Qing Xia melempar ponselnya ke samping sofa, dia berjalan ke tempat tidur dan merebahkan diri di atas ranjang. Dia memandang keluar jendela sambil berbaring menyamping. Setelah beberapa saat, ia tertidur lelap dengan wajah yang tenang.
Tengah malam, Qing Xia merasakan seseorang sedang menyelimuti tubuhnya. Dia berbalik dan menatap ke belakang.
"Thien Chi..." Gumamnya dengan suara pelan namun masih terdengar oleh pria yang duduk di tepi tempat tidur.
"Aku pasti sangat merindukannya sampai ia muncul di dalam mimpiku." Batin Qing Xia.
Qing Xia kembali memejamkan matanya.
Deg! Deg! Deg!
Hati Thien Chi berdebar kencang saat melihat istrinya hanya mengenakan lingerie tipis dengan bagian dada yang sangat rendah.
Tubuh Qing Xia terlihat sangat seksi dengan pakaian tidurnya yang minim apalagi ia tidak menyelimuti diri dengan benar. Itu sebabnya Thien Chi menarik selimut Qing Xia dan menutupi tubuh istrinya yang mulai membangkitkan gairahnya.
"Sepertinya dia memakai baju tipis ini karena tidak ada aku di sampingnya. Jika dia melihatku, mungkin dia akan segera mengganti pakaiannya dengan lengan panjang dan menutupi semua bagian tubuhnya." Batin Thien Chi.
Qing Xia tiba-tiba membuka matanya.
"Ye Thien Chi... Karena ini mimpiku, kau harus menuruti keinginanku! Kau mengerti?"
Qing Xia meraba-raba tubuh Thien Chi, tangannya menyelinap di balik kemeja hitam dan menaikkan kain yang menutupi tubuh atletis suaminya.
Blush!
Wajah Thien Chi memerah dan memanas, pria itu membeku tanpa melakukan perlawanan.
"Apa yang ingin dilakukan oleh istriku ini? Apakah aku sedang dilecehkan istriku sendiri? Batin Thien Chi.
^^^BERSAMBUNG...^^^