
"Pasien Aaron! Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Qing Xia penasaran setelah melihat wajah pasiennya yang baru saja diperbolehkan pulang malah mendatangi dan menarik tangannya.
Aaron berhenti berjalan, dia berbalik dan menatap wajah Qing Xia yang sedikit mengerut karena kesal terhadap sikapnya.
"Dokter Liu, bisakah anda menjadi dokter pribadi keluargaku?" Tanya Aaron dengan wajah serius.
"Kau melakukan ini semua hanya untuk bertanya tentang ini?" Tanya Qing Xia dengan kedua alis yang terangkat.
"Maaf, aku sedikit gelisah dan cemas karena ini pertama kalinya aku meminta seseorang untuk menjadi dokter pribadi." Ucap Aaron sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Haaa..." Qing Xia menghela napas karena tidak bisa mengeluarkan kekesalan di depan pasiennya.
"Terima kasih sudah menawarkan saya pekerjaan itu. Tapi maaf, saya menolak tawaran dari anda." Jawab Qing Xia.
"Kenapa kamu menolaknya? Bukankah kamu baru saja dihukum karena menyelamatkan nyawa seseorang di rumah sakit ini? Apa bagusnya kamu bertahan di tempat seperti ini?" Tanya Aaron bertubi-tubi dengan suara meninggi.
Qing Xia tersenyum lucu sambil menahan tawanya yang hampir meledak.
"Kenapa kamu malah tertawa?" Tanya pria itu lagi dengan wajah kebingungan.
"Pasien Aaron, 'Tempat seperti ini' yang anda katakan itu adalah tempat di mana saya tumbuh dari kecil hingga dewasa." Jawab Qing Xia dengan senyuman lebar.
"Apa maksudnya? Kamu sakit atau ...? Kenapa kau tumbuh besar di rumah sakit?" Tanya Aaron semakin kebingungan.
"Rumah sakit ini adalah milik papa saya. Bagaimana bisa saya meninggalkan tempat yang sudah mendidik saya sedari kecil sampai sekarang?" Ucap Qing Xia menjelaskan.
"Lagi pula, sepertinya anda salah paham. Dokter Yu sama sekali tidak berniat memberikan hukuman kepada saya. Beliau hanya ingin memberikan saya waktu untuk liburan panjang." Lanjut Qing Xia mengatakan maksud terselubung dari Dokter Yu.
"Maaf, sepertinya memang aku yang salah paham dengan maksud perkataan dari senior anda. Tapi, tawaran tadi akan tetap berlaku. Sampai kapan pun, aku akan selalu menerima Dokter Liu sebagai dokter pribadi di keluarga Ong."
Setelah mengatakan hal yang ingin dikatakan, Aaron berbalik dan beranjak pergi.
Qing Xia kembali menghela napas panjang. Dia tidak mengerti kenapa pria itu tiba-tiba memberikan tawaran untuk menjadi dokter pribadi, tetapi Qing Xia tetap berterima kasih karena pasien itu sudah menunjukkan rasa simpati dan khawatir terhadap dirinya.
"Tidak sia-sia aku menghabiskan sebagian masa hidupku untuk menyelamatkan satu orang baik di dunia ini." Batin Qing Xia.
Qing Xia kembali ke ruang pribadi miliknya, dia membereskan barang-barang di atas meja dan mengambil tas yang tergantung di belakang kursi.
Tringgg! Tringgg!
Ponsel Qing Xia berbunyi, dia membuka dan mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Nama Nenek Ye tertera di layar ponsel, Qing Xia segera menjawab panggilan telepon agar tidak membuat Nenek Ye emosi dan marah karena telat menjawab panggilan telepon darinya.
"Kemari sekarang juga! Jangan beritahu Thien Chi jika aku memanggilmu." Ucap Nenek Ye kemudian memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Qing Xia.
Qing Xia berjalan keluar dari rumah sakit, dia pergi ke rumah Nenek Ye di hari yang sangat terik. Matahari masih berada di atas langit dengan cahaya hangat yang menerpa kulit wajahnya.
Ting Tong!
Qing Xia menekan bel pintu mansion keluarga Ye. Seorang wanita membukakan pintu untuknya.
"Nyonya Muda, silakan masuk!"
Qing Xia berjalan masuk dengan perasaan gelisah dan pikiran yang dipenuhi banyak pertanyaan.
Tiba di ruang tamu, Qing Xia duduk menunggu Nenek Ye. Seorang wanita muda datang menghampiri Qing Xia dengan segelas minuman hangat.
"Terima kasih. Tapi, di mana Nenek Ye?" Tanya Qing Xia penasaran sebab dia sudah menunggu beberapa menit di sana tanpa kehadiran nyonya rumah.
"Beliau sedang keluar, sebentar lagi mungkin akan kembali sebab beliau sudah meminta saya untuk menyiapkan makan siang. Tolong tunggu sebentar, Nyonya Muda." Jawabnya lalu beranjak pergi.
Qing Xia melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang tetapi dia belum makan apapun sejak sarapan tadi pagi bersama suami tercinta.
"Perutku lapar, tapi jika aku makan sekarang, bisa-bisa aku dimarahi lagi oleh nenek. Lebih baik aku menunggu sebentar lagi." Pikir Qing Xia.
Klak! Klak! Klak!
Suara langkah kaki menuju ke ruang tamu terdengar oleh Qing Xia, dia berdiri untuk menyambut Nenek Ye.
Nenek Ye benar sudah kembali, namun ternyata ia tidak sendirian. Nenek Ye membawa Wei Li bersama dengannya. Keduanya berjalan bersama, Wei Li menggandeng tangan Nenek Ye, mereka kelihatan sangat dekat. Perasaan Qing Xia sedikit sedih karena Nenek Ye tidak pernah memperlakukan dia seramah itu.
"Selamat Siang, Nek!" sapa Qing Xia dengan senyuman ramah namun tidak dihiraukan oleh wanita tersebut.
Nenek Ye duduk di sofa, dia meminta Wei Li untuk duduk di sampingnya. Sementara Qing Xia masih berdiri diam sambil memperhatikan kedua wanita yang bersikap harmonis di depannya.
"Makanan di sini lezat sekali." Puji Wei Li dengan senyuman manis di wajahnya.
Nenek Ye pun membalas senyuman wanita tersebut. "Jika kau suka, kau boleh makan di sini setiap hari." Balas Nenek Ye sambil menepuk pelan punggung telapak tangan Wei Li.
Qing Xia mengerutkan dahinya, dia terus menunggu kepulangan Nenek Ye, namun ternyata mereka sudah makan terlebih dahulu tanpa mempedulikan ia yang menunggu di ruang tamu.
Sakit pasti, bagaimana mungkin ia tidak sakit hati saat diperlakukan lebih rendah dari seorang pelayan. Namun ia tidak ingin membenci maupun menyimpan dendam terhadap Nenek Ye yang sudah membesarkan suaminya dengan baik. Dia berniat memaafkan semua perlakuan kasar dan buruk yang dilakukan Nenek Ye terhadap dirinya.
Waktu terus berlalu, Nenek Ye masih mengabaikan Qing Xia dan membiarkan dia berdiri di tempatnya tanpa berbicara sepatah kata pun.
Sesekali Wei Li melirik ke arah Qing Xia, dia tersenyum sinis dengan kemenangannya yang berhasil meluluhkan hati Nenek Ye.
"Selanjutnya, aku akan merebut Thien Chi darimu." Batin Wei Li.
Qing Xia melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore dan dia masih belum mengisi perutnya yang mulai terasa perih.
"Maag ku bisa kambuh jika aku terus menahan rasa lapar ini." Pikir Qing Xia.
Rasanya ia ingin pergi saja dari mansion mewah itu, namun Qing Xia tidak melakukannya karena masih menjaga sikap dan sopan santun di depan Nenek Ye yang merupakan satu-satunya keluarga Thien Chi yang tersisa.
Nyeri di perut Qing Xia semakin parah dan sakit. Dia memegang dan menekan sedikit bagian ulu hatinya yang terasa sesak.
"Apa yang harus kulakukan dalam situasi seperti ini? Andai Thien Chi berada di sini..." Batin Qing Xia.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki seseorang terdengar mendekati ruang tamu.
Brakkk!
Pintu ruang tamu terbuka dengan kasar. Thien Chi melangkah masuk dengan terburu-buru, dia menarik tangan Qing Xia dan berjalan keluar pintu.
"Thien... Thien Chi!" Ucap Qing Xia dengan mata yang membesar.
"Berhenti di sana!" Bentak Nenek Ye dengan suara menggema.
^^^BERSAMBUNG...^^^