
"Aku datang menjemputmu. Ayo pulang!" Ucap Thien Chi tanpa mempedulikan Dokter Yu yang menatap tajam ke arahnya.
Qing Xia kebingungan, ia berdiri diam sambil menatap Thien Chi dan Dokter Yu secara bergantian.
Melihat istrinya yang berdiri diam, Thien Chi menarik pelan lengannya dan membawa Qing Xia keluar dari ruangan Dokter Yu.
"Aku belum selesai berbicara denganmu!" Ucap Dokter Yu dengan nada mengancam.
Qing Xia menahan langkah Thien Chi, dia melepaskan genggaman tangan suaminya dan berbalik menatap Dokter Yu yang saat ini hampir meledak dengan wajah merah padam.
"Ma.. Maafkan saya. Besok saya akan datang kemari untuk meminta maaf sekali lagi. Saya permisi pulang lebih dulu karena suami saya sudah menunggu."
Setelah selesai dengan perkataannya, Qing Xia berbalik dan menarik tangan Thien Chi. Dia berjalan cepat menuju ke pintu lift sambil menggenggam tangan suaminya.
"Berhentilah dari pekerjaanmu!" Ucap Thien Chi saat mereka menunggu lift.
Qing Xia menoleh ke samping, menatap wajah suaminya yang tampak serius.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak suka istriku di marahi oleh orang lain."
"Pfff...!"
Qing Xia kelepasan tertawa namun ia segera menutup bibirnya dengan telapak tangan.
"Aku tidak pernah menganggap ocehan Dokter Yu sebagai amarah. Dia hanya menginginkan yang terbaik untuk pasien dan aku sangat menghargai ketulusannya itu."
"Tapi aku tidak suka melihatmu dimarahi seperti itu."
"Tidak suka? Memangnya aku kenapa? Aku bahkan tidak merasa sakit saat mendengar omelan dari Senior Yu." Batin Qing Xia.
"Kau bisa bersantai di rumah dan memiliki segalanya tanpa harus bekerja. Kenapa kau menyusahkan diri sendiri di tempat seperti ini?"
"Aku suka saat menyelamatkan orang lain. Aku suka melihat senyuman mereka yang sembuh dari penyakitnya. Kau pasti tidak mengerti karena kau bukan seorang dokter. Yang pasti, aku tidak akan berhenti bekerja sebagai seorang dokter." Jawab Qing Xia sambil tersenyum.
"Aku juga tidak ingin melarangmu. Tapi tanganmu... Haruskah kuberitahukan saja kebenarannya?" Brnak Thien Chi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Thien Chi menghadiri rapat para dewan direksi yang di adakan setahun sekali. Nenek Ye juga datang menghadiri rapat karena Nenek Ye merupakan presiden direktur di perusahaan.
2 Jam kemudian...
Setelah lelah dengan ketegangan di dalam ruang rapat, Thien Chi kembali ke ruangannya.
Ceklek!
Nenek Ye masuk ke dalam ruang kerja Thien Chi tanpa mengetuk pintu. Wanita itu duduk di sofa dan langsung bertanya tentang keadaan Qing Xia.
"Bagaimana dengan ingatannya?"
"Tangannya saja belum sembuh. Apalagi dengan luka di kepalanya."
"Maksudmu, sampai sekarang dia masih belum bisa mengingat suaminya?"
Brakkk!
Nenek Ye memukul meja kaca di depannya.
"Sudah hampir sebulan dan dia masih bekum mendapatkan kembali ingatannya?" Bentak Nenek Ye dengan wajah merah padam.
"Kesehatan Qing Xia lebih penting, aku tidak peduli dengan ingatannya yang belum kembali." Jawab Thien Chi dengan wajah serius.
"Kalau begini terus, kapan kalian bisa memiliki anak?" Kau pikir untuk apa aku menikahkanmu dengan wanita itu?"
Thien Chi mengerutkan keningnya dan menaikkan kedua sudut matanya. Dia merasa kesal dan marah namun tidak ada yang bisa dia lakukan selain menahan semua emosinya.
"Lalu kenapa kalian tidur di kamar yang terpisah? Jika itu keinginanmu seharusnya kau membuat anak lebih cepat!"
"Aku belum menginginkan anak. Tidur di kamar terpisah juga keinginanku!"
"Kau pikir bisa membohongiku dengan melindungi istrimu seperti itu? Kau kira aku tidak tahu jika istrimu lebih mementingkan pekerjaannya?" Hardik Nenek Ye dengan nada marah dan kesal.
"Tolong hentikan pembicaraan ini dan pergilah karena aku masih memiliki jadwal penting siang ini." Pinta Thien Chi mengusir Nenek Ye secara halus.
"Dasar cucu kurang ajar! Beraninya kau mengusirku pergi dari sini!" Teriak Nenek Ye dengan suara meninggi.
"Tolong jangan datang kemari jika hanya ingin membicarakan masalah mengenai hubunganku dan Qing Xia, karena aku yang akan mengurus rumah tanggaku sendiri." Ucap Thien Chi dengan wajah dingin.
"Tidak ada alasan bagiku untuk tetap mempertahankan cucu menantu yang tidak bisa memberikan keturunan." Ucap Nenek Ye sambil melipat tangannya di depan dada.
"Pilihlah!" Seru wanita itu seraya bangkit dari kursinya.
"Pilih apa?" Tanya Thien Chi dengan mengerutkan dahi.
"Bercerai dengan Qing Xia atau mencari ibu pengganti!"
"Apa maksudnya ibu pengganti?"
"Pakai wanita bayaran untuk melahirkan anak dan tetap hidup bersama dengan Qing Xia. Tentukan pilihanmu!"
Thien Chi membesarkan bola matanya, tangannya mengepal erat hingga bergetar. Dia sangat marah dengan pilihan yang dibuat oleh Nenek Ye.
"Apa perkataan Nenek itu serius?" Tanya pria itu dengan nada dingin.
"Tentu saja aku serius. Memangnya kenapa dengan wanita bayaran?" Sahut Nenek Ye dengan nada ketus.
"Hentikan omong kosong Nenek yang tidak masuk akal itu!" Bentak Thien Chi dengan nada tinggi.
"Selama ada uang, aku bisa melakukan semuanya. Mencari seorang wanita untuk melahirkan seorang pewaris hanya masalah kecil dan mudah. Aku bisa langsung menemukan 10 wanita yang mau melahirkan anak untukmu!" Ucap Nenek Ye dengan senyuman sinis.
Thien Chi menghela napas, mencoba menenangkan emosinya. Dia menegang keningnya yang terasa nyut-nyut lalu berkata dengan suara datar.
"Aku tidak ingin bicara masalah ini lagi. Tolong keluar dari sini!"
"Ini semua demi dirimu! Kenapa kau terus mengusirku?" dasar cucu tak tahi di untung!" Bentak Nenek Ye dengan wajah merah padam.
"Kau... Apa kau sengaja ingin menghentikan garis keturunan keluarga Ye?" Tanya Nenek Ye dengan tatapan tajam.
"Memang apa hebatnya keluarga Ye sampai harus diteruskan? Aku bahkan malu memiliki darah dari keluarga Ye yang mengalir di tubuhku!" Jawab Thien Chi dengan nada dingin.
"Apa? Apa yang kau katakan???" Jerit Nenek Ye dengan suara menggelegar.
Wanita itu menyambar cangkir teh yang berada di atas meja. Dia melemparkan cangkir itu ke tubuh Thien Chi.
Pranggg!
"Aku sudah membesarkan dan merawatmu sejak kecil. Aku hanya memintamu membalasnya dengan memberikan keturunan bagi keluarga Ye. Dan kau... Berani-beraninya kau menghina garis keturunan keluarga Ye! Dasar manusia tidak tahu terima kasih!" Ucapnya dengan nada bergetar.
Pip~
Thien Chi menekan tombol merah di tuts telepon.
"Asisten Lu Han, tolong antar Presdir Ye kembali ke mansion utama!" Perintah Thien Chi melalui telepon.
"Baik!"
Seluruh tubuh Nenek Ye bergetar, dia sangat marah hingga tidak bisa menahan emosinya.
"Wanita hanya perlu memasak, membersihkan rumah, dan melahirkan anak! Jika Qing Xia tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Ye, maka aku akan mengusirnya dari keluarga Ye. Kau ingat itu!" Ucap Nenek Ye dengan nada tegas.
^^^BERSAMBUNG...^^^