
"Qing Xia..."
"Aku hanya ingin mengantarmu dan memelukmu seperti ini sampai ingatanku kembali."
"Apa dia melakukannya dengan terpaksa? Untuk menyenangkan aku?" Batin Thien Chi.
"Baiklah, lakukan saja apa yang kau inginkan sampai ingatanmu kembali."
Qing Xia melepaskan pelukannya, dia berbalik dan berlari ke dalam rumah sambil berkata "Sampai jumpa nanti malam..."
Thien Chi berbalik, menatap punggung Qing Xia yang semakin menjauh.
"Aku tidak ingin memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan." Batin Thien Chi.
Thien Chi masuk ke dalam mobil, dia menatap keluar jendela dengan wajah dingin.
"Saya sudah mengirimkan pesan kepada semua kepala bagian. Mereka akan hadir dalam rapat kali ini." Lapor Asisten Lu Han.
Thien Chi terdiam memikirkan istrinya.
"Aku tahu kau berbohong soal ingatanmu yang hilang. Tetapi kenapa aku malah berharap kau akan terus membohongiku..." Batin Thien Chi.
"Semakin lama, aku semakin serakah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Qing Xia berada di dapur, dia mengambil sebotol air mineral dan menghabiskannya dalam satu tegukan.
"Tadi... Aku keluar karena sepertinya Thien Chi salah paham denganku. Tetapi... Kenapa aku malah memeluknya dan mengatakan omong kosong itu!" Ucap Qing Xia dengan wajah memerah.
"Selamat Pagi, Nyonya!" sapa Xiao Xi yang baru saja masuk ke dapur.
Qing Xia terperanjat, ia berbalik dan menjawab sapaan dari Xiao Xi dengan suara gugup.
"I... Iya, Selamat Pagi."
"Tangan Nyonya pasti tidak nyaman, tapi anda malah menyiapkan sarapan sendiri. Harusnya anda menunggu sampai saya datang saja, Nyonya."
"Tidak, bukan aku yang menyiapkan sarapannya."
Xiao Xi membuka keran air, dia mulai mencuci dan membersihkan peralatan makan.
"Oh kalau begitu Tuan Muda yang memasak untuk anda?" Tanya Xiao Xi dengan senyuman ceria.
Qing Xia mengangguk pelan.
"Tuan Muda sangat mencintai anda, Nyonya sangat beruntung."
Qing Xia duduk bengong di kursi. Dia menatap kosong di udara lalu tenggelam di dalam pikirannya.
"Kenapa Thien Chi tiba-tiba menjadi baik dan hangat? Dia sepertinya ingin memperbaiki hubungan kami, sampai rela melakukan hal yang tidak cocok untuknya. Apa yang ada di dalam kepalanya? Aku benar-benar penasaran."
Xiao Xi berbalik menatap Qing Xia yang masih terbengong.
"Nyonya, apa yang sedang anda pikirkan?"
"Hmm... Aku sedang berpikir apa yang ada di dalam kepala suamiku. Menurut Xiao Xi, suamiku itu bagaimana?"
"Bagaimana apanya? Dari sisi apa?"
"Sifatnya terhadap Xiao Xi dan orang lain. Apakah berubah juga akhir-akhir ini? Hmm... Tidak, maksudku sejak aku kecelakaan. Apakah sifatnya berubah?"
"Kenapa Nyonya bertanya seperti itu? Apakah Tuan bersikap kasar terhadap anda?"
Qing Xia menggelengkan kepala.
"Tidak, dia sangat baik dan hangat. Tidak seperti dirinya di masa lalu." Jawab Qing Xia sambil menunduk menatap meja.
"Hahaha... Jika Tuan semakin baik, bukankah itu hal yang bagus? Kenapa Nyonya malah khawatir?"
"Benar juga. Kenapa aku malah khawatir? Seharusnya aku merasa bahagia, kan?" Batin Qing Xia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kantor CEO
"Pak CEO, terjadi kebakaran di pabrik kita." Lapor Asisten Lu Han.
"Penyebab kebakaran?"
"Seorang karyawan merokok di dalam pabrik. Dia melemparkan sisa puntung rokok ke lantai dan tanpa sengaja api dari puntung rokok itu mengenai bensin yang tumpah di lantai."
"Bensin?"
"Itu karena mereka membawa mesin genset keluar untuk dibersihkan. Tetapi bensin yang terlalu penuh malah menetes di lantai."
"Bagaimana keadaan di pabrik sekarang? Berapa banyak korban?"
"Aku akan ke sana dan melihat secara langsung. Siapkan mobil!"
Asisten Lu Han mengangguk lalu berjalan keluar ruangan.
"Hufff..." Thien Chi menghembuskan napas kadar. Dia melihat ke arah jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 7 malam.
"Aku akan memeriksa sebentar lalu pulang, seharusnya masih sempat untuk makan malam bersama Qing Xia." Batin Thien Chi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Qing Xia berada di dalam kamar, dia memilih baju yang akan dipakai untuk makan malam bersama dengan suaminya.
Tok Tok!
"Nyonya, Tuan akan pulang sebentar lagi." Ucap Xiao Xi dari depan kamar.
Qing Xia membuka pintu.
"Ayo masuk dan bantu aku memilih pakaian yang lebih cocok." Ucap Qing Xia sambil melebarkan daun pintu.
"Nyonya sangat cantik, pakaian apapun yang anda pakai tidak terlalu berpengaruh."
"Mulut Xiao Xi selalu manis."
"Lihat ini, mana yang lebih bagus?" Tanya Qing Xia sambil menunjukkan dress berwarna biru di tangan kiri dan dress berwarna hijau di tangan kanan.
"Saya rasa warna biru cocok untuk Nyonya." Jawab Xiao Xi sambil menunjuk dress sebelah kiri.
"Terima kasih untuk sarannya. Bisakah kamu membantuku mengancing pakaianku?"
"Oh benar... Tangan Nyonya masih diperban. Saya akan membantu Nyonya mengganti pakaian."
"Terima kasih, Xiao Xi."
Qing Xia menatap cermin, melihat dirinya dengan dress biru muda dengan belahan dada yang sedikit turun.
"Xiao Xi, sepertinya aku perlu bross untuk menutupi bagian dada."
"Tidak perlu di tutupi, belahan itu tampak seksi dan mempesona. Tuan pasti senang melihatnya." Ucap Xiao Xi tersenyum, menggoda Nyonya majikannya.
Qing Xia akhirnya membiarkan saja pakaiannya yang agak terbuka itu. Dia duduk menunggu kepulangan Thien Chi di ruang makan.
Waktu terus berlalu, namun Thien Chi belum juga kembali ke rumah. Qing Xia menatap jam dinding di depannya, waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Tringgg!
Qing Xia mengambil dan membuka pesan masuk di ponselnya.
Ye Thien Chi : Kau makan malam duluan saja. Aku masih ada sedikit pekerjaan.
"Haaa..." Qing Xia menghela napas setelah membaca pesan dari suaminya.
"Aku menunggu dan terus menunggu seperti orang bodoh. Dan dia baru mengingat janji kami setelah waktu berlalu 2 jam." Keluh Qing Xia.
Qing Xia bangkit dari kursinya, dia berjalan ke ruang tamu lalu duduk di atas sofa.
Waktu terus berlalu, pukul 1 dini hari Qing Xia tertidur di atas sofa dalam posisi duduk.
Ceklek!
Mendengar suara pintu, Qing Xia membuka matanya.
"Sudah larut malam, kenapa kau masih di sini dan tidak tidur di kamar?" Tanya Thien Chi saat melihat Qing Xia duduk di sofa ruang tamu.
Thien Chi berjalan mendekati Qing Xia.
"Kau marah?" Tanya Thien Chi karena Qing Xia tidak menjawab pertanyaannya.
"Walaupun sibuk, seharusnya aku menghubungimu terlebih dulu. Maaf..." Ucap Thien Chi dengan wajah tertunduk.
Qing Xia berdiri dan berjalan ke arah kamar. "Kau pasti lelah, mandilah!"
"Marah? Aku pernah diabaikan lebih dari ini. Jadi tidak mungkin aku mengeluh hanya karena ini." Batin Qing Xia.
Qing Xia menyalakan lampu kamar, dia duduk di atas tempat tidur sambil mencoba untuk membuka kancing bajunya dengan sebelah tangan.
"Ckk... Sulit sekali! Leherku jadi sakit karena aku terus menunduk." Keluh Qing Xia tanpa sadar mengeluarkan suaranya.
Thien Chi baru saja keluar dari kamar mandi. Dia mendengar semua keluhan dari istrinya.
"Aku akan membantu melepaskan kancing bajumu." Ucap Thien Chi berjalan ke tempat Qing Xia.
^^^BERSAMBUNG...^^^