365 Days For Love

365 Days For Love
Bab 30



Qing Xia terkejut saat melihat perawat itu berlari ke arahnya dengan sebuah gunting berujung tajam. Thien Chi segera menghalangi langkah perawat tersebut.


Thien Chi berdiri di depan Qing Xia, menahan tangan dari wanita itu. Dokter Ma mendekat dan merebut gunting dari tangan sang perawat. Kedua petugas keamanan segera menahan dan menarik tubuh perawat itu dan membawanya keluar dari ruang UGD.


Setelah perawat kasar itu diamankan, Dokter Ma memperhatikan darah yang terud mrmbanjiri pakaian Qing Xia.


"Hei gadis bodoh, kau terluka lagi?" Tanya Dokter Ma dengan wajah datar.


Thien Chi menoleh, melihat dokter di sampingnya. Dia merasa tidak senang dengan perhatian dan rasa khawatir dari dokter muda itu terhadap istrinya.


"Apa-apaan? Kenapa dia malah memanggil Qing Xia seperti itu? Apa mereka saling mengenal?" Tanya Thien Chi dalam hati.


Qing Xia tersenyum lebar, dia mendekat dan memeluk Dokter Ma sambil menahan rasa sakit dari luka di belakang tubuhnya.


"Kakak kelas, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku tidak mengira Kakak akan bekerja di rumah sakit ini." Ucap Qing Xia setelah melepaskan pelukannya.


Thien Chi merasa kesal dan marah, dia menarik lengan Qing Xia hingga wanita itu mundur beberapa langkah ke belakang. Qing Xia memutar penglihatannya, menatap Thien Chi dengan wajah kebingungan.


"Jangan memeluk pria lain!" Kata Thien Chi dengan wajah kesal.


Qing Xia menanggapi kekesalan Thien Chi dengan senyuman manis. Dia merasa senang karena suaminya cemburu terhadap kedekatannya dengan Dokter Ma.


"Kita obati dulu lukamu!" Ucap Dokter berkaca mata itu sambil berbalik badan.


Dokter Ma mengambil satu kotak peralatan medis dari dalam lemari yang terletak di sudut ruangan. Dia kembali dan meminta Qing Xia untuk duduk di salah satu ranjang pasien di dalam ruang UGD.


Dokter Ma menggunting pakaian Qing Xia dari belakang. Thien Chi dengan cepat menahan dan menghentikan tangan dokter Ma.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya pria itu dengan wajah kesal.


"Kau tidak bisa melihatnya? Aku sedang menggunting kain ini untuk memeriksa dan mengobati luka Qing Xia." Sahut Dokter Ma dengan nada datar.


Qing Xia semakin senang dengan sikap Thien Chi yang pencemburu, sebab itu membuktikan jika Thien Chi benar-benar mencintainya.


"Panggilkan dokter perempuan, aku tidak mau istriku di obati oleh dokter laki-laki!" Ucap Thien Chi dengan nada memerintah.


Dokter Masih memasang wajah datar tanpa ekspresi. Pria itu mengangkat tangannya agar genggaman Thien Chi terlepas.


"Semua dokter di sini sedang sibuk. Kau tidak lihat banyak pasien kecelakaan yang memenuhi ruangan ini?"


Thien Chi menatap sekilas wajah Qing Xia yang sedang tersenyum bahagia. Dalam hati, ia berpikir jika Qing Xia tersenyum karena Dokter Ma yang akan mengobati lukanya. Sedangkan Thien Chi saat ini sangat marah dan kesal begitu memikirkan tubuh istrinya akan dilihat oleh pria lain.


"Aku memang marah, tapi luka Qing Xia tidak boleh dibiarkan begitu saja." Batin Thien Chi.


Dokter Ma melanjutkan tugasnya, dia menggunting pakaian Qing Xia hingga memperlihatkan luka di punggungnya, luka goresan yang cukup dalam dengan darah yang masih tergenang.


Dia membersihkan luka di punggung Qing Xia dengan hati-hati, namun wanita itu masih meringis kesakitan.


"Ke mana perginya rasa sakitmu saat menggendong anak tadi?" Sindir Dokter Ma dengan nada datar.


Kakak kelas, tolong hentikan omelanmu dan segera jahit lukaku! Masih banyak pasien yang menunggu di luar!" Sahut Qing Xia dengan wajah cemberut.


"Kau ini tidak pernah berubah! Selalu saja membuat orang lain cemas. Aku sedikit terkejut karena kau masih hidup baik dengan sifatmu yang ceroboh itu."


"Ha... Ha..." Qing Xia pun tertawa dengan kaku karena kalimat itu memang cocok untuknya.


"Aku ini sudah pernah mati, dan sebentar lagi aku akan dijemput oleh malaikat maut. Jika aku mengatakan rahasia ini kepada Kakak Kelas, dia pasti akan memanggilku dengan nama wanita gila." Batin Qing Xia.


Beberapa menit kemudian, luka Qing Xia selesai dijahit dan ditutup perban.


Drap! Drap! Drap!


Langkah kaki beberapa orang terdengar memasuki ruangan UGD dengan terburu-buru. Dokter Ma membuka tirai pembatas ruangan, dia menoleh ke arah pintu UGD bersamaan dengan Qing Xia dan Thien Chi.


"Dokter! Cepat panggilkan dokter! Ada pasien gawat darurat!" Teriak seorang perawat sambil mendorong ranjang pasien ke dalam ruangan.


Dua perawat mendorong ranjang pasien memasuki ruangan, satu perawat naik ke atas ranjang dan melakukan CPR dengan memompa jantung pasien menggunakan kedua tangannya.


Dokter Ma dan Qing Xia segera menghampiri pasien tersebut.


"Bagaimana kondisi pasien?" Tanya Dokter Ma untuk mengetahui hasil pemeriksaan sementara kondisi pasiennya.


"Tubuh pasien terjepit saat bus terbalik. Saat ini mengalami gagal jantung dan napas yang lemah." Lapor seorang perawat.


Qing Xia melihat wajah pasien di depannya. Seperti kejadian pada anak tadi, dia seakan bisa melihat penyakit yang ada di dalam tubuh pasien itu.


"Tubuhnya terbentur keras saat bus terbalik, terjadi pendarahan di dalam paru-paru. Pasien ini harus segera di operasi!" Ucap Qing Xia tanpa ragu-ragu.


Dokter Ma dan ketiga perawat mengalihkan pandanganya, mereka menatap Qing Xia, begitu pula dengan Thien Chi yang masih berdiri di samping Qing Xia.


"Qing Xia, kau masih saja ceroboh! Kita bahkan belum mengambil MRI dari pasien, dari mana kau tahu jika pasien mengalami pendarahan bahkan hingga memerlukan operasi?" Ucap Dokter Ma mengira Qing Xia hanya menebaknya saja.


"Apa sih yang ku katakan tadi? Mengapa aku bisa mengetahui apa yang salah dengan pasien ini?" Benak Qing Xia.


Qing Xia menatap wajah pasien yang semakin memucat. Dalam hati, dia yakin jika penilaiannya memang benar, namun dirinya tahu jika penilaiannya pribadi tidak akan membuat Dokter Ma percaya begitu saja.


"Cepat siapkan pemeriksaan MRI kepada pasien ini!" Perintah Dokter Ma setelah jantung pasien kembali berdetak.


"Sudah terlambat!" Benak Qing Xia.


Qing Xia kebingungan, hasil pemeriksaan tentang kondisi pasien mendadak muncul hanya dengan melihat wajah pasiennya. Dia merasa aneh namun perasaannya cukup kuat dan yakin untuk mempercayai penilaiannya tersebut.


"Aku akan memikirkan resikonya nanti. Saat ini, aku harus menyelamatkan nyawa pasien di depanku." Pikir Qing Xia.


Qing Xia menatap wajah Dokter Ma, dengan wajah serius dan nada tegas, dia berkata kepada dokter itu. "Tidak ada waktu lagi, cepat siapkan ruang operasi!"


"Qing Xia... Qing Xia... Kau benar-benar sudah gila!" Batin Qing Xia.


^^^BERSAMBUNG...^^^