365 Days For Love

365 Days For Love
Bab 25



"Thien Chi... Bisakah kita tidak membahas hal ini sekarang?"


Qing Xia menatap mata Thien Chi, berharap suaminya itu mengerti jika saat ini dirinya sedang tidak ingin mengingat hal buruk yang tidak menyenangkan.


"Waktu ku hanya tersisa kurang dari satu tahun, aku tidak ingin menghabiskan sisa waktu ku dengan mengenang kenangan buruk dan membahas sesuatu yang tidak menyenangkan dengan suamiku." batin Qing Xia.


"Maaf..." Ucap Thien Chi tiba-tiba sambil membelai wajah Qing Xia.


Thien Chi kembali melajukan mobil. Setibanya di rumah, Thien Chi mengambil es batu dari dalam kulkas untuk mengompres wajah Qing Xia yang membengkak dan sedikit memar.


"Aaaawwwwwww!" Rintih Qing Xia saat Thien Chi menyentuh memar di wajahnya.


"Sakit? Maaf, aku akan lebih hati-hati." Ucap Thien Chi dengan mengerutkan keningnya.


"Aku rela di tampar setiap hari jika bisa mendapatkan perhatian dari Thien Chi yang terlihat khawatir dan peduli padaku." Batin Qing Xia.


Qing Xia memejamkan matanya yang lelah, merebahkan kepalanya di atas sandaran sofa. Beberapa menit kemudian, dia sudah terlelap dalam posisi duduk.


Thien Chi menatap wajah istrinya yang masih cantik meskipun terdapat luka lebam di pipinya. Dia merasa marah terhadap dirinya sendiri yang lalai dalam menjaga Qing Xia.


Tatapan Thien Chi terpaku pada bibir merah Qing Xia yang mungil. Dia menelan salivanya beberapa kali hanya karena bibir mungil di depannya yang terlihat menggoda.


Wajah Thien Chi semakin turun dan mendekat di wajah Qing Xia. Tanpa sadar dia menempelkan bibirnya di bibir merah Qing Xia dan mulai menikmati benda lembut itu dengan hati-hati.


Qing Xia membalas gerakan dari bibir dan benda lunak yang bergerak-gerak di dalam rongga mulutnya. Dia membuka mata lebara-lebar, "Apakah aku sedang bermimpi?" Tanya Qing Xia dalam hati.


"Haaa... Apa yang sedang kulakukan?" Pikir Thien Chi tiba-tiba saat tersadar dengan perbuatannya.


Namun ketika merasakan balasan dari Qing Xia, dia tidak memiliki niat untuk menghentikan apa yang sudah dia mulai.


Thien Chi terus menikmati benda lembut di dalam bibirnya secara hati-hati. Perlahan tangannya menyelusup ke dalam pakaian Qing Xia, menyentuh dan meraba-raba kulit di balik kain lembut yang menutupi tubuh istrinya.


Qing Xia tersentak saat jari jemari Thien Chi menarik kain penutup buah kembarnya. Ia berusaha menahan tangan Thien Chi yang berkeluyuran di atas kulitnya namun pria itu tetap menyentuh daerah-daerah sensitif di tubuh Qing Xia tanpa mempedulikan tangan Qing Xia yang menghalangi jari jemarinya.


Thien Chi menjauhkan wajahnya, dia menatap lembut kedua bola mata Qing Xia.


"Aku ingin ... Bolehkah aku melakukannya?" Tanya pria itu dengan wajah memerah.


Wajah Qing Xia ikut memerah, jantungnya berdetak kencang dan berdebar keras.


"Aku terlalu malu untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Kenapa dia malah bertanya, kami kan suami istri! Ye Thien Chi idiot, bodoh, dungu!" Batin Qing Xia.


Thien Chi tersenyum tipis, "Jika kau tidak menjawabnya, akan ku anggap kau setuju dan memberiku izin untuk melakukan malam pertama kita!" Bisiknya dengan suara lembut.


Thien Chi mengangkat tubuh Qing Xia, ia berjalan ke dalam kamar dan menutup pintu.


Setelah membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang, Thien Chi kembali menikmati bibir mungil Qing Xia dan menjelajahi seluruh tubuhnya. Qing Xia merasa malu namun ia tidak ingin menolak kesempatan yang langka ini.


"Jika kau masih diam dan tidak menolakku sekarang, aku tidak akan berhenti di tengah-tengah meskipun kau menangis nanti." Bisik Thien Chi di telinga Qing Xia.


Qing Xia merinding terkena hembusan napas dari Thien Chi. Dia menggeliat nikmat sambil meremas kain sprei putih di sampingnya.


"Kau sudah kehilangan kesempatan untuk menolak!" Ucapnya menyeringai, membuat Qing Xia sedikit bergidik.


Thien Chi melepaskan pakaian Qing Xia secara perlahan sambil terus memainkan bibir dan lidahnya di atas kulit Qing Xia.


Ahhhh!


Suara manis yang terdengar di telinga Thien Chi membuat hasratnya semakin membara. Dia tidak ragu lagi untuk menghabiskan malam pertama mereka yang tertunda begitu lama.


Qing Xia merintih kesakitan saat sebuah benda masuk ke dalam tubuhnya dan merobek bagian inti tubuhnya yang paling berharga.


Qing Xia tersenyum dengan wajah memerah, "Aku baik-baik saja."


"Bisakah aku melanjutkannya?"


"Lakukan sesukamu. Aku sudah mengizinkannya dan aku tidak akan kabur."


Thien Chi tersenyum dan melanjutkan kembali olah raganya bersama sang istri. Dia mengecup pipi Qing Xia yang masih memar dengan hati-hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seminggu berlalu sejak malam pertama mereka. Sejak saat itu, Thien Chi selalu menyiksa Qing Xia di malam hari. Dia tidak akan berhenti melakukan olah raga nikmat sampai Qing Xia tertidur karena kelelahan.


"Ck... Thien Chi bajingan itu, dia tidak membiarkan aku tidur nyenyak seharipun sejak malam pertama kami!" Keluh Qing Xia sambil memijat pelan punggungnya yang terasa sakit.


Tok Tok Tok!


"Masuk!" Jawab Qing Xia dari dalam saat seseorang mengetuk pintu.


Aaron duduk di kursi roda, didorong oleh ibu dan ayahnya, mereka masuk ke dalam ruang kerja Qing Xia.


"Selamat Pagi, Dokter Liu!" sapa Aaron dan di ikuti oleh kedua orang tuanya.


"Selamat Pagi pasien Aaron, Paman dan Bibi Ong." Balas Qing Xia dengan senyuman ramah.


Kedua orang tua Aaron saling menatap sesaat lalu melihat Qing Xia yang masih duduk di kursinya.


"Ada apa? Kalian ingin menyampaikan sesuatu padaku?" Tanya Qing Xia penasaran.


"Begini, Dokter Liu. Kami ingin bertanya apalah Aaron sudah boleh kembali ke rumah?" Tanya Nyonya Ong Ibu Aaron.


"Tentu saja, operasinya berjalan dengan lancar dan hasil test selanjutnya juga sudah keluar. Hasil laporan menunjukkan tumor di kepala pasien Aaron sudah bersih dan dinyatakan sembuh dari penyakitnya. Jadi pasien Aaron sudah boleh kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarganya lagi. Selamat yah... Saya senang karena anda sudah sembuh." Jawab Qing Xia dengan senyuman tulus.


"Terima kasih, Dokter Liu. Semua ini berkat anda." Ucap Nyonya Ong sambil meneteskan air mata.


"Jangan menangis! Pasien sudah sembuh, seharusnya anda senang dan tersenyum bahagia. Dan juga, pasien Aaron sembuh atas kemauannya sendiri."


"Tidak, semua itu berkat kata-kata dan kisah yang anda ceritakan. Terima kasih, Dokter Liu Qing Xia. Suatu hari nanti, saya akan membalas semua kebaikan anda." Ucap Aaron dengan wajah serius.


"Tidak perlu, saya juga senang karena bisa menyelamatkan satu pasien lagi dengan kemampuan yang saya pelajari. Jadi anda tidak perlu membalasnya."


"Lagi pula, waktuku tidak cukup banyak untuk menunggu balasan darimu." Batin Qing Xia.


Qing Xia tersenyum, namun di dalam senyumannya terlihat kesedihan yang mendalam. Aaron merasakan kesedihan itu, kesedihan yang sama di saat ia mengira hidupnya akan segera berakhir.


"Tidak mungkin hidupnya akan segera berakhir di saat ia masih sehat dan muda. Mungkin hanya perasaanku saja." Pikir Aaron.


Sepeninggalan Aaron dan keluarganya. Qing Xia membuka laci meja, mengeluarkan sebuah buku agenda dan membuka lembaran terakhir di buku tersebut.


"220 hari lagi. Aku akan mempergunakan waktuku untuk melakukan semua yang belum ku lakukan bersama Thien Chi." Gumam Qing Xia dengan senyuman miris.


Qing Xia menyimpan kembali buku agendanya di dalam laci. Dia berdiri dan berjalan keluar untuk berkeliling mengunjungi pasiennya.


Drap! Drap! Drap!


Seorang pria berlari panik sambil menggendong seorang anak kecil.


"Cepat! Minggir, tolong minggir dari jalan!" teriak pria itu dengan suara keras.


^^^BERSAMBUNG...^^^