365 Days For Love

365 Days For Love
Bab 10



Thien Chi berjalan menuju kamar.


Tok Tok!


"Tu... Tunggu sebentar!" Teriak Qing Xia.


Qing Xia sedang memakai pakaiannya, buru-buru ia mengancing piyama yang dipakainya agar Thien Chi tidak menunggu terlalu lama.


"Masuklah..." jawab Qing Xia dari dalam.


Ceklek!


Thien Chi berdiri di depan pintu. Dia menatap Qing Xia yang kini duduk di atas ranjang.


"Apa masih belum ada yang teringat olehmu?" Tanya Thien Chi dengan nada datar.


"Belum ada." Jawab Qing Xia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Thien Chi. "Apa kau sangat ingun ingatanku kembali?"


"Iya..." Jawab Thien Chi sambil berjalan masuk ke dalam.


"Bukankah tidak nyaman jika kau tidak memiliki ingatan?" Ucap Thien Chi sambil berjalan ke tempat Qing Xia.


Thien Chi menundukkan tubuhnya, dia membuka kancing piyama Qing Xia.


Blush!


Qing Xia menjadi salah tingkah dengan eajah yang semerah buah tomat.


"Kancingnya salah lubang." Ucap Thien Chi membenarkan kancingan di piyama Qing Xia.


"Oh... I...iya. Terima Kasih!" Ucap Qing Xia terbata-bata.


Thien Chi berjalan ke dalam kamar mandi. Dia melepaskan jam tangan dan pakaiannya. Pria itu berjalan ke tempat shower lalu menyalakan keran air.


Syuuuurrrr!


"Dia sudah mengingat segalanya..." Batin Thien Chi.


"Kalau aku membongkar sandiwaranya... Maka semua ini akan berakhir."


Thien Chi menyabuni tubuh dan membersihkan rambutnya dengan shampo.


"Tapi... Memikirkan hal itu, hatiku rasanya kacau. Kenapa begitu? Ada apa denganku?"


Dia mematikan keran air.


"Haaaahhh...!" menghela napas panjang.


Setelah menyelesaikan acara mandinya, Thien Chi mengeringkan tubuh dan memakai piyama berlengan panjang dan celana panjang berwarna biru. Dia keluar dari kamar mandi dan melihat ke segala arah.


"Kau sudah tidur?" Ucapnya dengan suara berbisik.


"Sepertinya sudah..." Jawabnya sendiri saat ia melihat wajah lelap Qing Xia.


Thien Chi berbaring di sebelah Qing Xia, dia melihat dan menyentuh lengan istrinya yang cedera karena kecelakaan waktu itu.


"Aku akan mencari dokter terbaik untuk mengembalikan fungsi tanganmu seperti semula." Batin Thien Chi.


Hari menjelang pagi. Thien Chi bangun lebih awal, dia memasak sarapan untuk Qing Xia di dapur. Sedangkan Qing Xia baru saja membuka mata, dia berjalan dengan malas-malasan ke kamar mandi.


Setelah membersihkan wajahnya dan menggosok gigi, Qing Xia keluar dari kamar mandi dan mencari buku agendanya di dalam sebuah tas hitam.


Qing Xia mengeluarkan buku agenda yang memiliki kalender di dalam lembaran isinya. Dia menyilang tanggal hari ini lalu menulis angka 10 di bawahnya.


"Hari ke 10, sisa waktuku 355 hari lagi." Gumam Qing Xia dengan wajah sedih.


"Liu Qing Xia... Ayo bersenang-senang dalam 355 hari yang tersisa!" Ucap Qing Xia dengan suara bersemangat.


Qing Xia keluar dari kamar, dia menuruni anak tangga lalu menuju ke ruang makan.


Thien Chi sudah menunggu dengan dua piring sarapan dan dua gelas kopi hangat.


"Aku akan memakannya dengan lahap." Jawab Qing Xia sambil duduk di kursinya.


"Minggu depan aku akan kembali bekerja di rumah sakit." Ucap Qing Xia setelah menyeruput kopi pahit buatan Thien Chi.


"Bleeekkk!"


Qing Xia membuat suara dengan menjulurkan lidahnya. "Pahit sekali!" Keluhnya dengan kening yang berkerut.


"Bukankah itu terlalu cepat?" Ucap Thien Chi sedikit keberatan dengan keputusan Qing Xia.


"Kalau aku bekerja, mungkin ingatanku akan kembali lebih cepat."


"Aku hanya khawatir kau akan kesulitan memegang pisau bedah dengan cedera tulang tanganmu." Batin Thien Chi.


Thien Chi berdiri dari kursinya, dia merapikan jas hitam yang dia pakai lalu membenarkan letak dasinya.


"Aku sudah selesai makan. Sampai jumpa nanti malam." Ucap Thien Chi lalu berjalan ke pintu depan.


Qing Xia berdiri dan mengikuti langkah Thien Chi dari belakang.


Thien Chi berbalik menatap istrinya. "Ada yang ingin kau katakan?"


"Tidak, aku hanya ingin mengantarmu. Apa ada yang ingin kau katakan kepadaku?" Tanya Qing Xia kembali.


"Aku akan pulang jam 8 malam. Kita makan bersama di rumah." Ucap Thien Chi dengan wajah canggung.


"Hanya itu saja yang ingin kau sampaikan?"


Thien Chi tersenyum tipis, dia menangkap maksud yang ingin disampaikan oleh istrinya.


"Aku masih belum mendapatkan ciuman penyemangat."


Blush!


Wajah Qing Xia memerah, dia malu karena tertangkap basah dengan apa yang sedang dia pikirkan.


"Sepertinya... Lebih baik tidak kulakukan sebelum ingatanku kembali." Ucap Qing Xia buru-buru menolak.


"Tidak perlu di bibir seperti waktu itu. Bisakah kau mencium pipiku?" Pinta Thien Chi bernegosiasi.


"Itu..." Qing Xia terdiam dengan wajah canggung dan malu-malu.


"Aku hanya ingin di antar dan mendapatkan ciuman selamat pagi dari istriku. Tetapi... Mungkin hanya aku yang menginginkan keharmonisan rumah tangga ini."


Thien Chi berbalik badan, "Aku tidak bermaksud untuk memaksamu."


Dia membuka pintu lalu berjalan keluar.


"Selamat Pagi, Pak CEO dan Nyonya!" sapa Asisten Lu Han yang sudah menunggu di depan pintu.


"Ayo pergi!" Perintah Thien Chi kepada Asistennya.


Dia menutup pintu sebelum mendengar ucapan dari Qing Xia.


Brakkk!


"Hati-hati..."


Qing Xia memikirkan kembali kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Thien Chi.


"Memaksaku? Dia berpikir aku terpaksa melakukan ini semua?" Gumam Qing Xia sambil berjalan mondar mandir di depan pintu.


Qing Xia membuka pintu depan, ia berlari keluar dengan cepat menyusul langkah Thien Chi.


Grep!


Qing Xia memeluk Thien Chi dari belakang. Dia menyandarkan tubuh dan kepalanya di punggung lebar Thien Chi.


^^^BERSAMBUNG...^^^