
"A... Aku mengerti!" Jawab Qing Xia dengan terbata-bata.
"Ckkk!"
Nenek Ye berdecak kesal, ia berdiri dan berjalan pergi dari ruang tamu.
Setelah kepergian Nenek Ye, Qing Xia berdiri dan pamit pulang kepada pelayan yang bekerja di mansion mewah keluarga Ye.
Dia masuk ke dalam mobil putihnya, menarik beberapa lembar tisu dan mengeringkan sisa air di tangan dan wajahnya.
"Aku terlalu lelah menangis sampai tidak ada lagi air mata yang keluar." Gumam Qing Xia sambil menatap bayangannya di kaca spion.
Qing Xia menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dia memutuskan kembali ke rumah sakit untuk mengganti perbannya yang basah terkena siraman air es.
Setibanya di rumah sakit, Qing Xia mencari Bao Bei untuk membantunya mengganti perban. Seperti biasa, rekan dan sahabatnya yang cerewet itu langsung melontarkan banyak pertanyaan kepada Qing Xia.
"Kenapa perbanmu basah? Bukankah sudah di bilang tidak boleh kena air? Kau ini dari mana? Dan kenapa matamu itu bengkak seperti ikan mas? Siapa yang sudah membuatmu sedih? Cepat beritahu aku, aku akan melepas sendalku dan melempar orang yang membuatmu menangis!"
Qing Xia tersenyum lucu mendengar ocehan dari Bao Bei yang sedikit menghibur hatinya. Namun senyuman itu langsung pudar begitu ia mengingat kata-kata dari Dokter Vivian.
"Bao Bei, bisakah kau menggantikan ku dalam operasi besok pagi?" Tanya Qing Xia dengan wajah serius.
"Jangan bercanda! Aku kan sudah menolak mengambil bagian dari operasi pasien Aaron. Aku tidak bisa dan tidak mau!" Sahut Bao Bei tanpa berpikir lagi.
Tiba-tiba wanita itu mencurigai sesuatu, ia menatap tajam mata Qing Xia lalu bertanya kepadanya.
"Kenapa kau mau mencari pengganti? Apa tanganmu masih sakit sampai belum bisa memegang pisau bedah?"
"Haruskah ku katakan kepadanya? Tidak! Dia pasti akan sedih dan menangis keras hingga membuat kepalaku sakit. Lupakan saja!" Benak Qing Xia.
"Selesai!" Ucap Bao Bei dengan bersemangat.
"Terima kasih."
Bao Bei menatap Qing Xia dengan mata menyelidik, ia memicingkan matanya dan bertanya kepada Qing Xia.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?"
"Tidak ada yang terjadi dan aku baik-baik saja." Jawab Qing Xia dengan senyuman tipis.
"Kau berbohong!" Seru Bao Bei dengan yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh sahabatnya.
"Aku hanya sedikit lelah." Ucap Qing Xia seraya menyandarkan kepalanya di perut Bao Bei yang sedang berdiri di depannya.
"Lemakku terlalu empuk, ya?" Tanya Bao Bei sambil menggoyangkan perut buncitnya naik dan turun dengan kedua tangan.
"Hehe... Ini bantal pribadiku!" Sahut Qing Xia terkekeh.
"Datanglah padaku kapan saja kau membutuhkan bantuan. Kau tahu kan kalau aku sangat menyayangimu?" Ucap Bao Bei sambil mengelus rambut Qing Xia yang lembut.
Qing Xia menganggukkan kepala.
"Maaf... Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Lagipula, sebaiknya kau tidak mengetahui apapun dan jangan memikirkan hidupku yang hanya tersisa kurang dari satu tahun." Batin Qing Xia.
Qing Xia kembali ke rumah, langit saat itu sangat gelap. Cahaya bulan dan bintang tertutup oleh awan tebal yang menggumpal di atas sana.
Ceklek!
"Asisten Lu Han!" Ucap Qing Xia saat melihat wajah pria itu di depan pintu.
"Selamat malam, Nyonya!" Sapa Asisten Lu Han dengan sikap hormat.
Qing Xia melihat obat cream di tangan Asisten Lu Han. Karena penasaran, akhirnya ia bertanya kepada pria itu.
"Apa yang kau pegang di tanganmu?"
Asisten Lu Han menatap wajah Qing Xia sejenak.
"Maaf, bisakah saya berbicara dengan Nyonya sebentar?"
Qing Xia menganggukan kepala. "Silakan bicara!"
"Tadi Pak CEO terkena tumpahan teh panas, tetapi beliau menolak untuk menerima pengobatan di rumah sakit. Saya membelikan obat cream untuk menyembuhkan luka bakar, tolong bantu oleskan obat ini!" Ucap Asisten Lu Han sambil menyerahkan cream obat kepada Qing Xia.
"Baiklah, terima kasih atas perhatianmu."
Qing Xia masuk ke dalam kamar, ia mencari keberadaan Thien Chi yang tidak tampak di ruang tamu.
"Thien..."
Belum sempat Qing Xia memanggil nama suaminya, pria itu sudah muncul dari balik pintu kamar mandi.
"Ku dengar kau terkena tumpahan teh panas. Bolehkah aku memeriksanya?" Ucap Qing Xia sambil berjalan mendekati Thien Chi.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja." Tolak pria itu seraya berjalan keluar dari kamar mandi.
"Tidak, aku perlu memeriksanya sendiri!" Ucap Qing Xia memaksa.
Qing Xia berhenti di depan Thien Chi, dia menarik kemeja hitam pria itu dengan sekuat tenaga.
Plukkk Plukkk!
Beberapa kancing terlepas dari kemeja Thien Chi. Qing Xia segera membuka dan melebarkan kain penutup tubuh suaminya.
"Kulitmu memerah, untungnya tidak ada yang melepuh!" Ucap Qing Xia memperhatikan dada Thien Chi yang terbuka.
Blush!
Wajah Thien Chi kini semerah buah tomat matang. Detak jantungnya berdebar keras dan semakin kencang.
"Ayo ikut denganku!" Perintah Qing Xia sambil menarik tangan Thien Chi dan berjalan ke ruang dapur.
Qing Xia mengambil es batu dari dalam kulkas. Dia membungkus es batu dengan kain lalu menempelkan gulungan es batu ke dada Thien Chi yang memerah.
"Kenapa kau bisa menumpahkan teh di dadamu?" Tanya Qing Xia penasaran.
"Aku hanya kurang hati-hati dan menjatuhkan teh di dalam cangkirku." Jawab Thien Chi berbohong.
"Lain kali, tolong lebih berhati-hati."
Qing Xia membuka cream obat pemberian Asisten Lu Han, dia mengoleskan cream bening itu di kulit Thien Chi yang memerah.
Blush!
Sentuhan dari jari-jari Qing Xia membuat Thien Chi terusik. Wajahnya kembali memerah dengan degupan jantung yang semakin kencang dan keras.
"Wanita ini terus menerus menguji kesabaranku! Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi!" Benak Thien Chi.
Thien Chi menarik lengan Qing Xia hingga jarak di antara keduanya semakin mendekat. Telapak tangan Thien Chi menekan belakang kepala Qing Xia hingga kedua bibir mereka menempel dengan sempurna.
Qing Xia terkejut dan terdiam sesaat. Dia merasakan sesuatu bergerak dan menerobos masuk ke dalam bibirnya.
"Li... Lidah???" Batin Qing Xia.
Matanya membelalak saat menyadari bahwa benda lunak tak bertulang yang mengobok-obok isi di dalam rongga mulutnya adalah lidah milik sang suami.
"Apa yang dia lakukan?" Tanya Qing Xia dalam hati.
Setelah menikmati bibir lembut istrinya selama beberapa saat, Thien Chi melepaskan ciumannya dan menjauhkan wajahnya dari Qing Xia.
"Bernapaslah! Kau akan mati jika terus menahan napasmu." Goda Thien Chi saat menyadari jika Qing Xia menahan napasnya sejak tadi.
^^^BERSAMBUNG...^^^