365 Days For Love

365 Days For Love
Bab 24



Thien Chi ingin menghalangi Qing Xia agar tidak perlu menuruti perintah dari Nenek Ye, namun Qing Xia menggelengkan kepala, memberi isyarat kepada Thien Chi agar tidak melakukan itu.


"Akan saya ambilkan, Nek!" Jawab Qing Xia dengan senyuman ramah.


Qing Xia berjalan menuju ke dapur. Seorang pelayan wanita segera berdiri begitu melihat Qing Xia masuk dari balik pintu.


"Nyonya muda, anda memerlukan sesuatu?" Tanya wanita tersebut dengan sikap sopan dan ramah.


"Saya hanya ingin mengambil minuman untuk tamu Nenek. Bisakah kamu memberitahuku di mana letak gelas?" Jawab Qing Xia sambil memandang sekeliling dapur.


Pelayan tersebut merasa kebingungan, sebab mengambilkan minuman untuk tamu adalah pekerjaan mereka. Dia bertanya-tanya dalam hati, mengapa Nenek Ye malah menyuruh cucu menantunya untuk melakukan pekerjaan pelayan.


Di ruang tamu, Nenek Ye memperkenalkan Wei Li kepada Thien Chi.


"Thien Chi, dia cucu dari teman nenek. Namanya Xu Wei Li." Ucap Nenek Ye. Dia berbalik menatap Wei Li. "Ini cucu nenek, namanya Thien Chi. Semoga kalian bisa berhubungan baik ke depannya.


"Apa kabar, saya Wei Li. Senang berkenalan dengan anda." sapa Wei Li sambil berdiri dari duduknya.


Thien Chi turut berdiri.


Melihat sikap cucunya yang sopan, Nenek Ye merasa senang. Sayangnya rasa senang itu hanya berlangsung sesaat. Thien Chi berdiri bukan untuk menyapa tamu neneknya, melainkan untuk pergi menyusul Qing Xia yang berada di dapur.


Thien Chi beranjak pergi tanpa menyapa Wei Li, mengabaikan wanita itu dan membuatnya merasa malu.


Nenek Ye tentu saja geram dan marah, namun ia menahan emosinya di depan Wei Li.


"Maafkan cucu nenek, dia memang suka bersikap dingin dan cuek." Ucap Nenek Ye dengan memaksakan senyumannya.


Qing Xia sedang membuat minuman segar yang dicampur dengan es batu. Dia dibantu oleh pelayan wanita yang bernama Zhu Zhu, pelayan muda yang sopan dan baik hati.


"Nyonya Muda, apakah luka anda sudah sembuh? " Tanya pelayan tersebut kepada Qing Xia.


"Aku baik-baik saja sekarang, Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Jawab Qing Xia dengan senyuman ramah.


"Maaf karena waktu itu saya tidak berani membantu Nyonya Muda. Saya takut Nyonya akan semakin marah dan memperlakukan anda lebih buruk lagi. Saya benar-benar minta maaf, Nyonya Muda!" Ucap Zhu Zhu dengan wajah menyesal.


"Aku mengerti. Jangan kha..."


"Apa yang dilakukan Nenek padamu?" Tanya Thien Chi tiba-tiba masuk dari balik pintu.


Thien Chi tiba di sana saat Zhu Zhu bertanya tentang luka Qing Xia, dia sengaja berhenti dan bersembunyi di balik pintu untuk menguping pembicaraan mereka.


Qing Xia berbalik menatap wajah suaminya yang tampak sangat marah, sedangkan Zhu Zhu menelan ludah sambil menahan perasaan takutnya.


"Kau tidak menjawab pertanyaanku?" Tanya Thien Chi dengan suara datar.


Thien Chi mengalihkan tatapannya ke arah Zhu Zhu. "Kau yang jawab!" Perintahnya kepada wanita itu.


Zhu Zhu menundukkan kepala, serba salah dengan apa yang harus ia lakukan. Jika menjawab dengan jujur, ia takut Thien Chi akan meledak dan memarahi Nenek Ye. Dan jika tidak dijawab, Thien Chi pasti akan terus bertanya dengan wajah yang membuatnya gemetaran.


"Jawab!" Bentak Thien Chi dengan suara meninggi.


Zhu Zhu ketakutan hingga tanpa sadar menjawab pertanyaan dari Thien Chi.


"Nyonya menyiram air es ke wajah Nyonya Muda."


Thien Chi kembali menatap istrinya.


"Kenapa kau diam saja dan tidak memberitahuku?"


Qing Xia menundukkan wajahnya, dia tidak ingin menjadi penyebab keributan antara Nenek Ye dan suaminya. Namun ia juga tidak ingin berpisah dengan Thien Chi, membuatnya sulit untuk membuat pilihan.


"Apa yang dikatakan Nenek padamu?" Tanya Thien Chi setelah menenangkan diri.


"Nenek... Nenek memintaku untuk melahirkan anak secepatnya."


Deg! Deg! Deg!


Jantung Qing Xia berdetak cepat dan semakin cepat. Dia takut jika Thien Chi akan memberinya surat perceraian lagi karena masalah ini.


"Haaaa.... Ayo kita pulang!" Ajak Thien Chi setelah menghela napas panjang.


"Tapi... Nenek..."


Thien Chi menarik tangan Qing Xia dan membawanya keluar dari dapur tanpa mendengarkan apa yang ingin disampaikan olehnya.


Mereka berjalan melewati ruang tamu. Qing Xia meminta Thien Chi untuk berhenti di depan Nenek Ye dan berpamitan sebelum keluar, tetapi Thien Chi terus menarik lengannya dan berjalan dengan cepat.


"Thien Chi, tunggu sebentar!" Ucap Qing Xia menahan langkahnya.


Nenek Ye bangkit dari tempat duduk, dia berdiri dan berjalan menghampiri Qing Xia.


Plakkk!


Thien Chi tersentak mendengar suara tamparan yang begitu keras. Dia berbalik dan menatap wajah Qing Xia. Jejak tangan membuat kulit putih Qing Xia bernoda merah. Thien Chi mengalihkan tatapannya ke Nenek Ye. Bola matanya bergetar dengan kepalan tangan yang mengeras.


"Kenapa? Kau mau memukulku?" Tanya Nenek Ye dengan suara menantang.


"Benar-benar tidak tahu diri! Kau pikir kau ini siapa, hah?" Bentak Nenek Ye dengan suara meninggi.


"Nenek! Tolong tenangkan emosi Nenek. Marah-marah tidak baik untuk kesehatan."


Wei Li berusaha menenangkan Nenek Ye, dia mengusap pelan pundak Nenek Ye dan menggenggam sebelah tangannya.


"Dan kau! Mana minuman untuk Wei Li? Bukankah aku menyuruhmu untuk mengambilkan minuman? Tidak ada satu pun hal yang bisa kau kerjakan dengan baik, dasar cucu menantu tidak berguna!" Umpat Nenek Ye dengan nada kasar.


Thien Chi semakin emosi, urat-urat di lehernya mulai bermunculan dengan rahang yang mengatup kuat.


"Ayo kita pergi dari sini!" Ajak Thien Chi berjalan keluar sambil menarik tangan Qing Xia.


Qing Xia merasa tidak nyaman jika harus meninggalkan tempat itu dengan cara seperti ini, tetapi jika masih berdiri diam di sana, dia takut Nenek Ye akan membongkar rahasianya di depan Thien Chi.


"Sebaiknya aku ikut melarikan diri bersama Thien Chi sebelum Nenek mengungkapkan semuanya." Ucap Qing Xia dalam hati.


Qing Xia mengikuti Thien Chi keluar dari mansion. Nenek Ye berteriak memanggil nama mereka berdua secara bergantian, namun tidak dihiraukan oleh Thien Chi maupun Qing Xia.


Dalam perjalanan pulang, Thien Chi menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dia menoleh ke samping, melihat pipi Qing Xia yang membengkak dan semakin memerah.


"Berapa kali?" Tanya Thien Chi dengan nada marah.


Qing Xia tidak mengerti apa yang ditanya oleh Thien Chi. Dia mengerutkan keningnya sambil berpikir apa yang di maksud oleh suaminya itu.


"Sudah berapa kali Nenek memukulmu?" Tanya Thien Chi dengan nada yang lebih lembut.


"Baru sekali ini saja." jawab Qing Xia dengan suara pelan.


"Apa lagi yang nenek lakukan terhadapmu? Katakan semuanya!"


^^^BERSAMBUNG...^^^