365 Days For Love

365 Days For Love
Bab 20



"Di dalam mimpiku, kita melakukan malam pertama dengan mesra dan di dalam mimpi itu... Kau sangat mencintaiku. Bagaimana bisa aku mengatakan hal yang memalukan ini di depanmu?"


Suara air terdengar dari dalam kamar mandi. Thien Chi menyiram tubuhnya dengan air dingin untuk menahan hasratnya yang mulai membara karena sentuhan dari Qing Xia.


Ceklek!


Qing Xia kembali ke dalam kamar. Dia duduk di atas tempat tidur sambil memeluk bantal gulingnya.


Tap Tap Tap!


Thien Chi berjalan keluar dari kamar mandi. Dia melihat Qing Xia yang masih duduk di atas tempat tidur sambil memikirkan sesuatu dengan wajah gelisah.


"Apa yang sedang kau pikirkan?"


"Kebiasaan tidurku kan sangat buruk, kau pasti jadi kesulitan."


"Padahal aku menyukainya..." Batin Thien Chi.


Qing Xia meletakkan bantal gulingnya di samping, dia berdiri dan berjalan ke depan Thien Chi.


"Karena itu, aku mau memakai kamar terpisah." Ucap Qing Xia lalu berjalan ke arah pintu keluar.


Thien Chi memegang dan menahan lengan Qing Xia. Wanita itu berbalik menatap wajah suaminya yang sedang menunduk memandangnya dengan tatapan hangat.


"Ada yang ingin kau katakan?" Tanya Qing Xia penasaran.


"Tidak ada. Aku akan mengantarmu ke kamar lain." Jawab Thien Chi setelah memikirkan beberapa hal.


"Aku ingin memintamu untuk tetap tidur di kamar ini, tapi... Jika aku memaksamu melakukan itu, kau pasti akan kesulitan." Batin Thien Chi.


Thien Chi mengantar Qing Xia ke kamar sebelah. Dia kembali ke dalam kamar dan merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Padahal aku hanya ingin bersama dengannya..." Gumam Thien Chi.


Thien Chi merasa kesepian di dalam kamarnya yang luas. Kamarnya terasa sepi saat Qing Xia tidak lagi tidur di sana. Dia memejamkan mata, mencoba untuk tertidur. Namun setelah beberapa jam berlalu, Thien Chi hanya berguling ke kanan dan ke kiri.


"Haaa...." Thien Chi menghembus napas panjang, ia bangkit dan duduk di tepi ranjang.


"Haruskah kubawa Qing Xia ke sini secara diam-diam?" Gumam Thien Chi karena terlalu memikirkan istrinya.


Sementara itu, Qing Xia juga kesulitan untuk tidur. Dia berbaring di atas tempat tidur sambil berhitung angka di dalam pikirannya.


"Kenapa aku malah keluar dari kamar Thien Chi tanpa di usir! Haruskah aku ke sana lagi sekarang?" Gumam Qing Xia sambil bangkit dan duduk di atas tempat tidur.


Brukkk!


Qing Xia menjatuhkan kembali tubuhnya, dia berbaring sambil merentangkan kedua tangan.


"Tidak, Nanti Thien Chi akan semakin membenciku karena meraba-raba tubuhnya saat tertidur. Dia pasti sangat kesal dan marah karena aku mengganggu tidurnya." Batin Qing Xia.


Malam itu, Qing Xia dan Thien Chi sama-sama kesulitan untuk tertidur. Masing-masing merindukan kehadiran pasangannya di samping mereka.


Thien Chi melihat jam di atas meja, waktu sudah menunjukkan pukul 4 dini hari. Dia bangkit dan berjalan menuju ke dapur. Thien Chi menyiapkan sarapan untuk Qing Xia di pagi hari. Dia membuka video di ponselnya, video cara memasak yang selalu ia pelajari setiap pagi dengan menu yang berbeda.


Setelah memasak beberapa kali dengan hasil yang tidak memuaskan, akhirnya Thien Chi mendapatkan sepiring sarapan yang sesuai dengan harapannya. Dia membuat puding karamel kesukaan Qing Xia dengan topping buah-buahan di atasnya.


Thien Chi kembali ke kamar, dia membersihkan diri dan berpakaian rapi. Setelah merapikan kamarnya, dia kembali ke ruang makan dan duduk di kursi sambil menikmati secangkir kopi.


Thien Chi melirik jam tangannya, waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Dia menunggu Qing Xia sambil membaca laporan dari Asisten Lu Han yang sedang menunggu di ruang tamu.


Qing Xia baru keluar dari kamar mandi, dia mengambil kemeja putih bergaris hitam dan celana panjang berwarna putih dari dalam lemari. Setelah memakai pakaiannya, Qing Xia mengikat semua rambutnya ke belakang.


Qing Xia menunduk menatap tangan kanannya.


"Apakah tidak ada cara lain? Aku ingin mengoperasi pasien Aaron." Gumam Qing Xia dengan wajah murung.


Dia keluar dari kamar, menuruni anak tangga dan berjalan ke ruang makan. Thien Chi masih sibuk membaca laporan sambil menunggu istrinya di meja makan.


Qing Xia duduk di kursinya, melihat puding kesukaannya di atas meja.


"Apa kau hanya akan melihatnya?" Tanya Thien Chi sambil menunrunkan tangannya yang memegang laporan.


"Aku membuat itu untukmu. Kau tidak suka?" Tanyanya lagi.


Qing Xia mengambil sendok dan memakan puding di depannya.


"Enak..."


"Terima kasih untuk pudingnya, aku sangat menyukainya." Ucap Qing Xia sambil tersenyum lebar.


Qing Xia menatap mata Thien Chi yang berlingkar hitam di bawahnya.


"Semalam, kau tidak bisa tidur?"


"Ya, bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Thien Chi sambil menatap wajah Qing Xia.


"Dia tidak bisa tidur, sama denganku yang sulit tidur setelah berpindah kamar." Batin Qing Xia.


Qing Xia mengabaikan pertanyaan dari Thien Chi, dia bangkit dari kursi dan berjalan ke tempat suaminya yang masih menatap lekat ke arahnya.


Cup! Cup!


Qing Xia mengecup kedua mata Thien Chi.


"Matamu terlihat lelah jadi aku memberinya semangat." Ucap Qing Xia dengan wajah yang memerah.


Begitu pula dengan warna wajah Thien Chi yang tampak seperti buah tomat. Dia tidak menyangka akan mendapat kecupan dari Qing Xia.


"Kalau dia sudah manis begini sejak pagi... Aku jadi semakin tergoda untuk menerkamnya." Pikir Thien Chi.


Thien Chi berdiri dari kursinya.


"Ayo berangkat!" Ajaknya sambil berjalan ke pintu keluar.


Thien Chi buru-buru pergi dan kabur sebelum ia kelepasan dan menyerang Qing Xia dengan hasratnya yang semakin menggebu-gebu.


Qing Xia ikut berjalan keluar, mereka berangkat dengan mobil masing-masing.


Setibanya di rumah sakit, Qing Xia menemui para dokter dan perawat lain di ruang pertemuan.


"Operasinya 1 jam lagi, kuharap kalian semua akan bekerja sama dengan baik." Kata Dokter Yu dengan suara tegas.


Dokter tampan itu melirik tangan Qing Xia yang terbalut perban.


"Kau belum melepas perbanmu?" Tanya Dokter Yu kepada Qing Xia.


"Aku akan melepasnya sekarang." Jawab Qing Xia sambil menatap perban di tangan kanannya.


"Aku ingin melakukan operasi ini. Mungkin ini akan menjadi operasi terakhir yang ku pimpin, aku ingin menyelamatkan pasien Aaron dari penyakitnya." Batin Qing Xia.


Bao Bei melihat Qing Xia kesulitan melepaskan perban dengan satu tangan. Dia mendekati sahabatnya itu dan membantu melepas perban di tangannya.


"Terima kasih, Bao Bei!" Ucap Qing Xia dengan melebarkan senyumannya.


"Baiklah, waktu operasi akan segera tiba. Semuanya bersiap dan perhatikan kebersihan tangan kalian!" Ucap Dokter Yu sambil bertepuk tangan.


Beberapa menit kemudian, Qing Xia masuk ke dalam kamar rawat Aaron.


"Selamat pagi..." sapa Qing Xia saat melihat Aaron dan kedua orang tuanya.


"Pagi, Dokter Liu." Ucap mereka bertiga membalas sapaan dari Qing Xia.


Seorang wanita paruh baya mendekati Qing Xia.


"Dokter Liu, Tolong selamatkan anak kami!" Ucapnya dengan wajah memohon.


Qing Xia mengangguk dan menggenggam kedua tangan wanita paruh baya itu.


"Saya akan menyingkirkan penyakit itu dari dalam tubuhnya. Jangan khawatir, karena kami semua akan melakukan yang terbaik.


Waktu operasi tiba, Aaron di pindahkan ke ruang operasi.


Qing Xia mencuci kedua tangannya. Dia melihat tangan kanannya yang masih terasa kaku.


"Ku harap operasi kali ini juga akan berjalan dengan baik." Batin Qing Xia.


Qing Xia masuk ke ruang operasi, dia mengenakan pakaian biru dan memakai masker serta penutup kepala. Para Dokter dan perawat sudah berada di dalam.


"Ayo kita mulai!" Ucap Qing Xia sembari berjalan mendekat ke tempat Aaron berbaring.


^^^BERSAMBUNG...^^^