YUWARAJA

YUWARAJA
Lari



Apa Pangeran akan baik-baik saja?" Siska Bertanya dengan cemas. Dia sebenarnya tidak mengkhawtirkan Candra sedikit pun, tapi bila Candra terluka atau terbunuh, itu bisa membuat kerja sama antar Negara runtuh.


Sebenarnya bila Candra terbunuh dan pertunangannya batal, Siska akan merasa sangat senang. Hanya saja, kemakmuran Harsana dan kebahagian semua orang lebih penting daripada keinginan egoisnya itu, begitulah prinsip dari Manusia sepertinya.


"Tenang saja, calon Suamimu tidak akan terluka. Lebih baik, kita lanjutkan sarapannya dulu," kata Dierja dengan tenangnya.


Semua orang merasa terkejut akan klaim Dierja. Apakah dia tidak tahu bahwa para tahanan di penjara bawah tanah itu sangat kuat? Tapi setelah melihat kepercayaan dirinya, mereka hanya dapat mengikuti perkataan Dierja dengan enggan.


***


Di hutan yang merupakan perbatasan dari Kerajaan Harsana, terlihat beberapa orang yang sedang menyiapkan Perahu. Perahu hasil rampasan dari para Nelayan ini mampu menampung setidaknya enam orang. Mereka berniat menggunakan perahu tersebut untuk menyebrangi Danau yang luasnya mengelilingi Kerajaan yang menjadikan tempat ini seakan terpisah dari Dunia luar.


"Cepatlah! Para prajurit sebentar lagi sampai kemari," Terdengar teriakan dari seorang Pria yang ditunjukan kepada beberapa orang yang sedang menyiapkan Perahu.


Beberapa orang itu terlalu sibuk menyiapkan perahu untuk dapat menanggapi ucapan Pria tadi. Perahu hasil curian yang sebagian besar sudah hampir tidak layak digunakan ini penuh dengan bekas sayatan dan terdapat lubang-lubang kecil pada setiap bagian pinggirnya, sehingga sekarang mereka sedang sibuk memperbaiki bagian Perahu yang rusak.


Entah karena ingin cepat-cepat pergi dari Kerajaan ini atau dikarena takut tertangkap kembali yang pasti, kecepatan mereka dalam memperbaiki perahu patut diberikan penghargaan. Belum sampai sepuluh menit semua bagian perahu yang rusak berhasil diperbaiki, meskipun tak cocok untuk disebut sebagai karya seni, tapi tetap mampu membawa mereka pergi dari sini.


"Bagus, ayo cepat kita segera berangkat." Pria tadi kembali berteriak, tapi kali ini dengan penuh semangat.


Mereka semua bersorak gembira dan segera menaiki perahu tersebut, tapi sebelum mereka dapat berlayar, tiba-tiba saja muncul kabut putih disertai hawa dingin yang menusuk sampai ke dalam daging.


Seketika itu juga, mereka semua berhenti bicara dan berbalik mencari dari mana datangnya sumber dingin ini. Perahu dan daerah sekitar mulai membeku dengan kecepatan yang tidak dapat diungkapkan kata. Mereka serempak mengangkat senjata, bersiap melawan musuh yang datang entah dari mana.


"Gawat!" ucap seseorang dari mereka ketika menyadari adanya bahaya.


Tanpa disadari tubuhnya sudah mulai membeku, dimulai dari kaki hingga ujung rambut yang menjadikannya sebagai patung hidup, diikuti semua rekannya yang sekarang hanya menyisakan Pria botak dengan wajah ketakutan.


"Siapa di sana?" teriak Pria botak sambil menyilangkan pedang ke hadapannya.


Dari kabut putih terlihat langkah kaki mendekat, yang lama-kelamaan semakin dekat maka semaki menyusut pula suhu disekitar tempat itu. Tangan yang tadinya megenggam pedang pun mulai membeku yang sekarang hanya menyisakan kepalanya tetap aman. Dia mulai dapat melihat siapa yang menyerangnya ini dan betapa terkejutnya dia karena seseorang yang menyerangnya ini masih begitu muda, tapi niat membunuh yang dikeluarkannya begitu pekat terasa.


Bagaimana bisa? Bukannya dia sedang melawan Pria yang menakutkan itu.


Seseorang yang dia lihat adalah seorang Pria yang mempunyai rambut putih dengan rasa haus darah yang tinggi, Pria itu adalah Candra.


Meskipun sempat dihadang oleh dua orang misterius yang menggunakan sihir angin, tapi Candra berhasil mengejar para Tahanan tepat sebelum mereka berhasil meninggalkan tempat ini.


"Kenapa kau bisa sampai di sini? Bukankah kau sedang melawannya?"


Dia masih merasa bingung kenapa Candra dapat berhasil ke tempat ini dengan begitu cepat, bahkan setelah melawan dia yang begitu menakutkan. Ada dua hal yang dapat Pria itu simpulkan setelah melihat Candra yang berada di hadapannya kini.


Pertama, Candra memerintahkan beberapa orang untuk melawan dia yang menakutkan itu, sedangkan dia berlari mengejarnya sampai kemari. Dan yang kedua adalah Candra lebih kuat daripada dia yang menakutkan itu, tidak. Dia segera menepis pemikirannya itu dan tak ingin mengakuinya. Di hadapkan dengan rasa takut tak tertahan, Pria itu berdoa untuk keselamatannya sendiri.


***


Di saat Pria itu sedang diselimuti rasa takut yang intens. Di sisi lain hutan yang tidak terlalu jauh dari tempat Candra berada sekarang, terlihat seorang Wanita yang mengenakan pakaian Pelayan sedang melawan seorang Laki-laki bertubuh besar.


Wanita itu terlihat sangat waspada akan Laki-laki yang berada di hadapannya ini. Laki-laki bertubuh tinggi besar tanpa rambut sedikit pun kini sedang berdiri dengan gagah menghadangnya. Sebaliknya, tanpa diduga Laki-laki itu juga kesusahan menghadapi lawannya, meskipun dia merupakan seorang Wanita berusia 40-an, tapi kemampuannya tidak lebih rendah dari dirinya sendiri. Melihat bagaimana gerakannya yang begitu alami, Laki-laki itu menyimpulkan bahwa wanita di hadapannya ini sudah sangat berpengalaman dalam menghadapai pertempuran.


Melihat dari kemampuannya, dia dapat menyimpulkan bahwa orang ini bukan merupakan tahanan yang kabur dari dalam penjara. Kalaupun demikian, maka penjara itu tidak akan mampu untuk mengurung orang sepertinya.


"Hey, hey. Tak usah memasang ekspresi yang begitu menakutkan, kecantikanmu akan luntur nanti." Meskipun kata-katanya terlihat bercanda, tapi ekspersi dan aura membunuhnya masih terasa begitu kuat.


"Begini, bagaimana kalau kita berdamai dan kau menikah saja denganku. Kau pun pasti sudah bosan melayani Raja Diktator itu kan?" Entah Laki-laki ini serius atau bercanda, tapi Anna akan tak lengah sedikit pun.


"Mana aku sudi!" balas Anna penuh kemarahan.


Anna tiba-tiba mengilang dari pandangan dan muncul di samping Laki-laki itu. Anna mencoba menebasnya dengan belati hitam. Belati yang panjangnya mencapai 40 cm ini terlihat tumpul, tapi nyatanya itu sangat tajam sampai-sampai sanggup mengiris tulang. Sesaat sebelum serangan Anna berhasil mengenainya, laki-laki besar itu sudah menyilangkan gada untuk menahan serangan Anna. Kemudian dia mengarahkan tinju kirinya dengan kuat sampai-sampai mampu menerbangkan beberapa pohon di sekitarnya. Untung saja, Anna berhasil menghidari tinju laki-laki itu dengan gerakan khasnya, gerakan yang sangat cepat mirip seorang Asassin.


"Gerakanmu sangat cepat, seperti pembunuh saja," ujar laki-laki besar itu, setelah melihat kelincahan yang Anna miliki.


"Maaf saja, tapi aku tak punya banyak waktu. Sampai jumpa lagi, Kakak Cantik!"


Laki-laki itu mengangkat gada yang dibawanya. Perlahan, tapi pasti pusaran angin mulai terbentuk dengan gada tadi sebagai pusatnya. Pohon-pohon mulai ditarik ke arah pusaran itu dan tersayat-sayat menjadi partikel-partikel kecil saat menyentuh pusaran angin tersebut.


Anna merasakan tarikan pada tubuhnya, dia mulai bergeser dari tempat sebelumnya ia berdiri. Anna melemparkan berbagai pisau yang datang entah dari mana berharap itu dapat menembus pusaran angin Laki-laki tersebut. Sayangnya, semua harapan Anna sirna, semua pisau yang dia lemparkan kembali menjadi partikel-partikel kecil sama seperti pohon tadi.


Sampai-sampai bisa membuat senjata kualitas tinggi menjadi debu. Sungguh, kekuatan yang menakutkan.


Tak ada pilihan lain, Anna akan melakukan teknik andalannya. Dia percaya kalau menggunakan teknik itu, dia dapat membunuh laki-laki besar di hadapannya ini, tapi sebelum Anna sempat melakukan tekniknya, pusaran angin yang diciptakan laki-laki besar tadi, tiba-tiba saja menghilang, seakan tak pernah ada yang terjadi.


"Siapa itu?" teriak Anna.


Saat melihat ke sekeliling, Anna mendapati seseorang yang berpakaian serba hitam dengan topeng hitam pula sedang berdiri dengan belati yang dilumuri darah merah dan terlihat masih segar.


Anna mencoba mendekatinya, tapi orang itu langsung menghilang tanpa meninggalkan jejak. Baik suara maupun baunya tidak dapat dilacak, bahkan oleh Anna sekalipun yang notabennya sangat ahli dalam hal ini.


Anna mulai berjalan dan berhenti tepat di tempat orang tadi berdiri. Dia mengambil sesuatu yang ditinggalkan oleh orang misterius itu, "Sungguh hebat, sekaligus mengerikan."


Begitulah apa yang Anna rasakan, apa yang kini ia genggam adalah sebuah tangan. Ya, tangan yang cukup besar dengan otot kekar menghiasinya.


***


Di tepi danau tempat keluar masuk ke Kerajaan Harsana. Suasana di sana begitu sunyi dengan sebagian daerahnya sudah tertutupi Es, terdapat beberapa patung manusia yang menjadi suatu hal janggal di sana.


Seorang Pria botak masih berdiri kaku dengan kedua tangannya yang sudah membeku. Dia merasa begitu ketakutan sama seperti saat di Penjara waktu itu, tidak, mungkin seseorang yang berada di hadapannya ini lebih menakutkan daripada dia.


Candra terus melangkah menghampiri Pria itu, setiap langkah yang Candra lalaui terdengar seperti bunyi lonceng yang menghitung mundur datangnya kematian.


Candra mengangkat tangan kanannya, segera penomena kabut putih kembali muncul yang membekukan mulut dari pria botak itu. Pria itu mengeluarkan keringat dinging dengan mata merah yang mengeluarkan air mata. Dia ingin berteriak, tapi terhalang oleh dinginnya Es yang membekukan mulutnya.


Pria itu terus menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan berharap Candra berbelas kasihan, tapi sungguh disayangkan, Candra tidak sebaik itu untuk dapat mengampuni seorang musuh. Candra mengcengkeram tangan pria itu sampai membuat kedua tangannya retak dan kemudia hancur, lalu mencair terserap ke dalam tanah.


Di dalam kesunyian, Pria itu berteriak sekuat tenaga yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri. Sakit dan takut yang tak tersampaikan ke dunia luar menjadi rahasia baginya dalam menghadapi rasa putus asa. Candra hanya menatap pria itu dengan begitu dinginnya. Tanpa merasa bersalah dan iba sedikit pun, tanpa merasa marah dan sedih sedikit pun.


Dia selalu hidup dengan cara seperti ini. Jangan pernah melepaskan seorang musuh dan langsung bunuh. Begitulah apa yang selalu dia dengar dari setiap orang yang melatihnya. Kalau bukan karena perintah dari Dierja, Candra pasti sudah membunuh semua Tahanan. Meskipun terdengar kejam, tapi Candra merasa tidak membenci dirinya yang seperti ini, tapi di saat yang bersamaan, dia membenci dirinya yang dapat menerima dan merasa tidak terganggu akan dirinya yang seperti sekarang ini.