
Satu hari telah berlalu sejak kejadian di mana para tahanan melarikan diri, beruntung berkat kinerja dari para prajurit dan bantuan Candra, serta pasukan Nataprawira sehingga kebanyakan dari mereka berhasil kembali ditangkap. Dari 400 tahanan yang melarikan diri, 320 orang berhasil kembali dijebloskan ke dalam penjara, yang artinya masih ada 80 orang berkeliaran bebas dan diantara orang-orang itu ada satu anggota Istana Kerajaan yang dinyatakan sebagai buronan. Orang itu adalah Eddi, setatusnya sebagai Putra Penasihat Raja tidak dapat melindungi dia dari jerat hukum yang ada. Ini merupakan kejadian pertama sejak berdirinya Kerajaan Harsana. Kejadian yang nantinya akan menjadi awal dari tragedi terkelam dalam catatan Kerajaan Harsana.
Fakta bahwa tidak semua tahanan berhasil ditangkap kembali membuat penduduk Harsana merasa kaget sekaligus ketakutan, hal itu sangat wajar dikarenakan kebanyakan dari mereka merupakan seorang mantan pembunuh. Di Kerajaan Harsana sangat jarang akan adanya hukuman mati bagi para penjahat. Itu dikarenakan pemikiran Raja yang merasa kalau mati tidaklah cukup untuk menebus semua kesalahan dalam hidup. Oleh sebab itulah para tahanan dipekerjakan seumur hidup tanpa diberi upah, ada juga mereka yang dijadikan seorang budak pekerja. Meskipun mereka diperlakukan dengan cukup baik, tapi sisa hidup mereka harus dihabiskan dengan pengabdian sepenuh jiwa dan raga terhadap Harsana.
Hal ini tentunya mendatangkan kesejahtraan bagi penduduk Harsana. Para penduduk bisa sedikit bekerja dengan upah harian yang sama, beban kerja setiap penduduk jadi berkurang akibat keberadaan para tahanan. Bahkan sebagian dari penduduk ada yang berpikir bahwa akan semakin bagus bila jumlah para penjahat semakin banyak. Begitulah pemikiran naif dan cara berpikir kurang kreatif dari orang-orang malas yang ingin hidup berpoya-poya dan bergelimangan harta, serta merasa bangga akan hal haram semata.
Di saat para penduduk sedang merasa senang akan para penjahat yang berhasil ditangkap dan sekaligus merasa khawatir terhadap mereka yang masih belum diketahui keberadaannya. Di Istana sedang terjadi diskusi antara petinggi Kerajaan untuk mengambil sebuah keputusan guna menentukan kapan tepatnya hari pertunangan dilaksanakan.
"Bukankah itu terlalu cepat?" Seorang pejabat dari pihak Harsana merasa tidak puas mendengar perkataan dari Bangsawan Nataprwaira.
"Bukankah itu merupakan hal yang harus disegerakan?" Seorang pejabat dari pihak Nataprawira segera bertanya dengan maksud memojokan.
"Aku tahu itu, tapi ... bukankah akan lebih baik bila memberikan mereka waktu untuk lebih mengenal satu sama lain."
Sebenarnya pertunangan tanpa saling mengenal merupakan hal lumrah diantara para Bangsawan. Hanya saja, dia merasa aneh akan pihak Nataprawira yang terlihat sangat terburu-buru dalam mengambil sebuah keputusan. Bangsawan lain yang berasal dari Harsana pun merasakan hal ganjal di sini, sehingga mereka mendukung perkataan dari Pejabat tersebut.Perbedaan kedua pendapat ini sedikit membuat suasana menghangat, bagaikan anak kecil yang keras kepala, kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah.
Pihak Nataprawira yang ingin melaksanakan pertunangan secepatnya dan di sisi lain Harsana yang menentang pendapat tersebut, mereka percaya bahwa memberikan waktu untuk saling mengenal merupakan keputusan yang lebih baik. Melihat kemungkinan akan terjadi munculnya konflik, Raja Abisatya mulai mengangat tangan yang seketika membuat semua orang terdiam.
"Kalian, tenanglah sedikit. Memberikan waktu mungkin merupakan hal yang bagus, tapi akan lebih baik bila kita mendengar pendapat dari mereka berdua secara langsung. Siska, bagaimana pendapatmu?" Raja Abisatya bertanya kepada Putrinya yang sedari tadi masih diam memperhatikan.
Sontak saja seketika semua mata tertuju padanya. Siska berdiri dari tempat duduknya, dia mulai memberi hormat kepada semua orang. Tata Krama yang bagi sebagian orang merupakan hal yang merepotkan untuk dilakukan. Sikap seperti ini tidak akan kau dapati ketika bertemu penduduk biasa. Hal inilah yang membuat Sisika heran, mengapa ia harus bersikap sopan hanya kepada mereka yang memiliki gelar dan kedudukan saja?
"Menurutku lebih cepat akan lebih baik. Hanya saja, bila aku boleh mengutarakan keinginanku, aku ingin setidaknya pertunangan ini dilakasanakan setelah Ulang Tahun Ibu!" ungkap Siska sembari duduk kembali di kursi miliknya itu.
"Berarti dua minggu dari sekarang, ya. Bagaimana menurutmu, Raja Dierja?" Raja Abisatya bertanya kepada Dierja Setelah melihat keinginan Putrinya itu, dia tidak mungkin bisa mengatakan tidak.
"Dua minggukah? Bagaimana menurutmu Pangeran?" Alih-alih menjawab, Dierja malah melempar pertanyaan serupa kepada Candra.
"Aku tidak keberatan. Mengingat dua minggu dari sekarang, Kerajaan akan mulai memasuki musim panas sehingga suhu di sana tidak akan terlalu dingin untuk orang-orang di sini," jawab Candra dengan lantang, tapi sopan.
"Kalau begitu, pertunangan antara Pangeran Candra dan Putri Siska akan dilaksanakan dua minggu dari sekarang di Kerajaan Nataprawira. Apa ada yang keberatan?" Melihat bahwa tidak ada yang mempermasalahkan keputusannya ini, Raja Abisatya mulai berbalik, dia bertanya kepada seseorang yang dianggap paling penting setelah Candra dan Putrinya itu, "Apakah Anda keberatan, Raja Dierja?"
"Karena Pangeran telah setuju, aku tidak akan mempermasalahkannya," jawab Dierja tak peduli seperti biasanya.
Diskusi yang melibatkan kedua Kerajaan berakhir dengan kepuasa dikedua belah pihak. Meskipun ini masih terlalu cepat, tapi setidaknya itu merupakan keinginan dari Putri Siska sendiri, sehingga para Bangsawan Harsana menerima keputusan ini dengan lapang dada.
***
Candra bangkit dari tempat duduknya, melangkah keluar meninggalkan ruangan yang dianggapnya seperti penjara itu. Dari tadi dia haya terpikirkan satu hal, apa yang sedang dilaukannya saat ini? Apa dia sedang bermesraan dengan tunangan barunya itu?
Yah, bagaimana pun juga kami berdua merupakan musuh. Itu merupakan fakta yang telah aku lupakan sejak bertemu dengannya.
Berbicara soal kecantikan, Gadis yang berada di hadapannya kini tidak kalah Cantiknya, tapi entah kenapa, Candra tidak merasakan perasaan suka seperti kepada wanita itu.
Candra melangkah menghampiri gadis yang sedang bermain dengan kelinci putih di tangannya. Saat Candra melangkah meninggalkan lorong pakaiannya mulai tertimpa tetesan air yang tidak pernah berhenti mengalir, sekarang dia sudah mulai terbiasa akan perasaannya itu, perasaan di mana setiap hari selalu diguyur hujan.
Taman halaman belakang Istana ini begitu indah, Candra mengakui akan hal itu dengan segenap hatinya, meskipun ia tidak terbiasa akan keindahan dunia, dikarenakan dari kecil Candra sudah terlalu sering melihat ratapan dan sisi buruk manusia, sampai-sampai tidak mempercayai bahwa keindahan seperti ini akan dapat dia jumpai.
Hal ini tanpa sadar membuat Candra sedikit mengangat bibirnya, menampilkan senyuman yang jarang terlihat. Siska yang berada di hadapannya tanpa sengaja berbalik dan melihat hal itu.
Apa dia memiliki niat buruk, atau menemukan sesuatu yang jahat. Seperti racun bunga yang akan diberikannya padaku.
Siska merasa bahwa hal ini terasa begitu aneh, sejak pertama kali bertemu dengannya, baru kali ini Candra menampilkan ekspresi layaknya manusia biasa.
"Ada urusan apa Pangeran kemari?"
"Aku hanya terkejut kau tidak menentang pertunangan ini." Itu merupakan satu-satunya alasan Candra menghampiri Siska, tanpa diragukan lagi gadis ini membenci dirinya, itu merupakan fakta yang tak terbantahkan.
"Sudah aku bilang itu semua untuk rakyatku." Siska tidak terlalu suka saat membahas topik ini. Itu mengingatkan dia akan betapa kecil dirinya ini.
"Sungguh hebat, seperti itulah sifat Boneka." Bukannya Candra tidak mempercayai ucapannya itu. Hanya saja, dia tidak terlalu suka saat seseorang berkorban tanpa pandang bulu dan menolong siapa pun yang membutuhkan.
"Kau ... orang berhati dingin sepertimu tidak akan mengerti. Apa salahnya saat aku ingin menolong semua rakyatku?" Dengan nada marah Siska bertanya pada Candra.
"Sifat yang sangat terpuji. Menolong semua orang? Lihat, saat kau membutuhkan bantuan apa ada yang datang menolongmu?"
"A-apa maksudmu?"
"Apa kau tidak berharap ada yang menolongmu untuk terlepas dari pertunangan yang tidak berarti ini. Seperti lari dengan teman masa kecilmu itu atau ya, membunuhku misalnya."
"Apa ini, apa kau mencurigaiku?"
"Tidak, aku bertanya padamu." Candra bergegas pergi setelah selesai mengkonfirmasi.
Sebenarnya Anna mencurigai Siska sebagai dalang dari pembebasan Eddi dan rencana pembunuhan terhadap dirinya. 99% Candra tidak percaya akan hal itu, meskipun baru bertemu sebentar, tapi Candra sangat ahli dalam menilai sifat seseorang. Hanya saja, 1% kemungkinan yang tersisa mengantarkan dia pada percakapannya dengan Siska kali ini dan sekarang Candra yakin bahwa bukan dialah pelakunya. Saat bayangan Candra sudah tak dapat terlihat, Siska masih terdiam menahan kesal dan marah.
Aku ... berharap? Seseorang datang menolongku?
Satu per satu pertanyaan mulai terpikirkan olehnya. Mungkin dia memang tidak ingin Pertunangan ini terjadi, tapi bila itu semua untuk rakyatnya, Siska tidak akan menolak Pertunangannya ini. Apakah benar jauh di dalam hatinya dia ingin diselamatkan?
Menjadi penduduk biasa tinggal jauh dari kota, hidup tanpa konflik dan perang, tinggal jauh di tempat terpencil berdua dengan orang tercinta, sederhana tapi bahagia. Dia pernah bermimpi, mimpi yang begitu indah yang sekarang semua hal itu sudah terkubur jauh di dalam hatinya. Ya ... sejak dia tahu bahwa semua hal manis hanyalah omong kosong, layaknya lukisan indah penuh patamorgana dengan cat merah tanda bahaya.