YUWARAJA

YUWARAJA
Harsana Si Negeri Hujan



Di sebelah selatan dari Nataprawira terdapat Negeri yang sepenuhnya dikelilingi oleh air. Di dataran yang sama rata itu nampak seperti sebuah pulau yang terpisah dari Dunia luar. Terdapat pohon super besar yang menjadi pusat dari tempat itu yang dedaunannya menyerupai payung yang seakan melindungi pulau tersebut dari keras dan kejamnya Dunia.


Pulau yang sedikit terangkat ke atas yang membentuk kerucut di bawahnya, hewan dan tanaman dengan ukuran besar di atas rata-rata ukuran normal yang menjadikan tempat ini diberkati hal-hal langka dan unik. Negeri yang selalu diguyur hujan, tiada hari tanpa awan hitam menjatuhkan tetesan air yang telah menjadi hal lumrah bagi penduduk di sana. Anehnya, hanya daerah itu yang diguyur hujan, sedangkan daerah sekitarnya begitu kering sehingga satu tetes air pun tak terihat di sana.


Negeri ini dikenal dengan nama Harsana. Kerajaan yang telah berdiri selama ratusan ribu tahun lamanya, hal itu menjadikan tempat ini sebagai Kerajaan tertua yang berada di Benua Sembrani.


"Ayah, bisa kau ulangi sekali lagi," ujar seorang wanita cantik.


Di Ruang Takhta Kerajaan Harsana, suasana di sana begitu tegang dari sekian banyaknya orang yang hadir tak satu pun yang kunjung angkat bicara. Terdapat seorang Gadis Cantik yang menjadi pusat dari ketegangan tersebut. Gadis ini tak kunjung bergerak dari tempatnya, terus bersimpuh memberi hormat pada Sang Raja yang sedari tadi duduk di Singgasana.


"Pertunanganmu dengan Pangeran Kerajaan Nataprawira sudah ditetapkan." Suara Sang Raja begitu jelas terdengar yang memotong tajam keheningan ditelinga setiap orang.


Gadis itu tertunduk tanpa ekspresi. Dia hampir tidak bisa mencerna realitas yang ada, untuk sesaat ia bahkan meragukan pendengarannya sendiri. Bila dia di hadapkan dengan butiran-butiran jarum yang menghadang di setiap jalan, ia tidak akan ragu untuk melangkah ke sana, daripada harus bertunangan dengan Pangeran dari Kerajaan itu, tapi ia tahu bahwa hidupnya sudah bukan miliknya lagi. Ia tidak akan pernah bisa membantah titah Sang Raja.


"Setelah pikah Nataprawira tiba, kita akan membahas kapan hari dilaksanakannya Pertunanganmu itu."


"Bila Raja sudah memutuskan, aku akan mematuhinya tanpa ragu."


Demi rakyat dan Kerajaannya, ia bahkan siap untuk mengorbankan dirinya sendiri. Kalau sudah telanjur begini, lebih baik menyelam di dalam panasnya api daripada harus hidup, tapi tak berarti. Setidaknya bila ia bertunangan dengan Pangeran Nataprawira, rakyatnya akan bisa hidup dengan lebih aman.


"Baguslah kalau memang begitu. Siska, kau boleh pergi sekarang!"


"Terima kasih, Yang Mulia."


Gadis itu langsung keluar setelah memberi hormat pada Sang Raja. Dia menutup pintu dengan pelan, dia bersandar dengan tangannya yang masih menggenggam gagang pintu. Ia menghela napas berat dan panjang sambil berkata dengan bisikian kecil ditelinga, "A-aku, tahu akan berakhir seperti ini."


Saat tersiar kabar bahwa Kerajaan Gandana mengirimkan Lamaran untuk Kerajaan Askara, saat itulah ia merasakan bahwa Ayahnya akan memiliki pemikiran yang sama. Dia tahu bahwa Pertunangannya akan mempererat hubungan kerja sama kedua Negara, tapi hatinya masih menampik dan tak bisa menerima bila harus bertunangan dengan Pangeran yang terkenal dengan hati dinginnya itu.


"Meskipun begitu ...." lirihnya.


Sebagai seorang Gadis tentu, ia ingin menjalin hubungan dengan seseorang yang dicintainya, bukan dengan orang asing ataupun melalui perjodohan.


"Setidaknya, biarkan aku memilih pendamping hidupku sendiri." Air mata mulai menetes secara perlahan dari mata bulat indahnya itu yang membasahi kulit putih lembut miliknya.


Entah kenapa, bahkan dengan suara derasnya hujan pun ia masih bisa mendengar rintihan hatinya dengan sangat jelas. Air hujan yang biasanya terlihat indah dan tenang serta netral tanpa memihak, sekarang seperti bahu-membahu untuk dapat menjatuhkannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa sakit saat melihat tetesan air hujan dan unutuk pertama kalinya juga, ia mulai memebenci dirinya yang dilahirkan sebagai Putri Harsana si Negeri Hujan.


***


"Yang Mulia, apa kau yakin?" tanya seorang Lelaki Tua.


Lelaki itu merupakan Penasihat Kerajaan. Dia sudah mengemban tugas tersebut bahkan sejak Raja terdahulu. Semua orang yang hadir di ruangan itu melihat ke arah Raja yang masih menggenggam kertas surat di tangannya. Mereka semua tahu persis siapa yang mengirim surat tersebut, itu pasti berisi balasan dari Kerajaan Nataprawira.


"Tentu saja, meskipun aku sebenarnya tak rela melepaskan Putri tercintaku itu," jawabnya dengan sangat tertekan.


Raja tahu bahwa Putrinya saat ini pasti sangat merasa sedih, meskipun dia bukanlah seseorang yang mengerti arti kelihayan membaca hati, tapi setidaknya sebagai seorang Ayah, dia dapat mengerti dan yakin akan apa yang dirasakan Putri tercintanya itu. Kalau bukan untuk kemakmuran serta jaminan keamanan bagi Kerajaan. Dia, tidak ingin anaknya menikah dengan eseorang yang terkenal dingin hati itu.


"Kalau begitu, kenapa?" teriak seorang Pemuda.


Pemuda itu tidak menutupi kebencian serta kekecewaannya, meskipun masih di hadapan Raja. Untuk pertama kalinya Pemuda itu tidak meresa puas dengan keputusan yang dibuat oleh Raja.


Setiap orang menyiratkan rasa ketidak puasan terhadap Pemuda itu. Mereka sebenarnya juga merasa enggan bila harus melepas Putri Kerajaannya ke Negeri para koruptor dan diktator itu, tapi apa boleh buat, keputusan ini semata-mata hanya untuk kepentingan politik. Tidak ada yang merasa sedih melebihi Raja itu sendiri mengingat bahwa ia merupakan Ayah kandungnya yang seharusnya Pemuda itu juga mengetahui akan fakta tersebut.


"Yang Mulia, Maafkan Aku!" Pemuda itu maju ke depan dan bersimpuh di hadapan Raja sebagai bentuk permintaan maaf.


"Angkat kepalamu. Dierja mungkin bukan orang baik, tetapi dia tidak akan pernah menelantarkan Keluarganya sendiri," ucap Raja dengan penuh keyakinan.


Dia mungkin tidak kenal dekat dengan Raja Nataprawira, tapi ia yakin Putrinya akan bisa hidup dengan cukup baik di Kerajaan itu. Meskipun Dierja dikenal sebagai diktator dan juga tidak terlalu memperhatikan rakyatnya sendiri, tapi setidaknya Raja tahu bahwa Dierja tidak akan membunuh seseorang tanpa alasan pasti.


"Baiklah kalau memang begitu. Permisi," Pemuda itu segera bangkit dan keluar tanpa memberi hormat.


"Hey!?" teriak semua orang geram.


"Dasar anak itu. Maafkan dia Yang Mulia," Laki-laki Tua itu menundukan kepala meminta maaf mewakili Pemuda tadi. Sang Raja hanya melambaikan tangannya sebagai tanda untuk membiarkan Pemuda itu pergi.


Setelah keluar dari ruangan Takhta. Pemuda tadi berjalan di sekitar taman halaman belakang Istana. Matanya menyiratkan ketidak puasan serta rasa kesal yang mendominasi. Sebagai teman masa kecil Sang Putri, dia ingin melihat hidup sahabatnya itu bahagia. Kalau saja dia mempunyai kekuatan yang setara dengan Dewa. Hal pertama yang akan dilakukannya adalah membunuh Raja diktator dan Pangeran Es itu. Dia tidak terlalu peduli akan adanya perdamaian, dia hanya ingin sahabat kecilnya tersenyum, meskipun harus menghancurkan kehidupan yang ada.


Ketika Pemuda itu melihat ke sudut taman, di sana terdapat Gadis Cantik berambut hijau menyerupai tanaman. Gadis itu terlihat sedang memperhatikan salah satu bunga berdaun mirip mentari, dia menyentuh bunga itu dengan lentik jari indahnya.


Pemuda itu menghampirinya, menepuk bahu Sang Putri sambil bertanya, "Putri, sedang apa Anda di sini?"


"Ahh ... Eddi," jawabnya sedikit kebingungan.


"Anda masih memikirkan yang tadi? Tidak suka? Ayo kita beritahu Raja." Pemuda itu menarik tangan Sang Putri untuk memaksanya berdiri dan berjalan pergi.


"Eddi ...." teriak Sang Putri merasa kesakitan


Menyadari hal itu pemuda tadi segera melepaskan cengkeramannya. Dia mungkin terlalu terbawa emosi sehingga tidak menyadari tatapan setiap pelayan tertuju padanya. Para pelayan menghentikan aktivitas mereka setelah mendengar teriakan Sang Putri.


"Maafkan, aku!" Pemuda itu tertunduk tanda menyesal.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," katanya pelan, "sekarang hidupku sudah bukan milikku lagi." Putri tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Kemudian dia berlari meninggalkan Pemuda itu yang masih terlihat tak beranjak dari tempatnya berdiri.


Baik-baik saja? Senyuman yang masih terlihat gelamor, tapi dengan nada suara minor, dan ekspresi yang seperti telah mononton film horor. Dan dia masih bilang baik-baik saja. Sungguh, konyol.


Apa yang bisa kulakukan untuknya? Aku ingin membantunya, sehingga dapat kembali melihat senyum indahnya. Raja dan Pangeran Es itu adalah penyebabnya. Kalau aku membunuh mereka, apa dapat menyelesaikan semua masalah?


***


Di sisi lain, Persiapan Candra dan Kerajaan Nataprawira dalam rangka menghadiri undangan Harsana telah selesai dan mereka siap untuk berangkat kapan saja.


"Bagaimana persiapannya?" tanya Candra kepada salah seorang Prajurit.


"Sudah selesai, Pangeran. Kita dapat berangkat kapan saja!" jawab Prajurit itu penuh semangat.


Kapal yang dioprasikan menggunakan mesin dengan mengandalkan batu energi sihir. Kapal yang dirancang khusus untuk transportasi ini mampu menampung hingga tiga ratus orang. Kapal yang bisa juga beroprasi di laut ini berbeda dengan pesawat yang dikhusukan untuk pertempuran. Kapal ini didesain khusus hanya untuk alat angkut barang dan transportasi orang.


Ada tiga kapal yang akan berangkat ke Kerajaan Harsana. Sehingga jumlah orang yang ikut harus berjumlah sembilan ratus orang. Candra bahkan berpikir apa mereka berniat untuk pergi berperang? Tapi mengingat bahwa Raja ikut serta, tidak akan terlalu aneh melihat banyaknya prajurit yang menjaga mereka. Tiga kapal itu pun mulai terbang melesat membelah udara, tapi Candra tidak pernah tahu bahwa awal mula konflik yang mempertaruhkan masa depan setiap Negara akan dimulai dari sana.