YUWARAJA

YUWARAJA
Wanita dan Manisan



"Aku ingin ini, ini, dan oh ... ambilkan juga yang mempunyai rasa buah," Seorang gadis yang menggunakan tudung dan kacamata berbicara kepada seorang pelayan dengan ceria. Gadis itu memakan kue dengan senangnya seakan dunia hanya dipenuhi oleh berbagai jenis manisan yang menggantung di atas langit.


"Ini enak, ini juga, semua Kue ini sangat lezat!" ucapnya dengan ceria.


Prilakunya yang sedikit kekanak-kanakan sangat kontras dengan fisik wanita dewasanya, aura seorang Putri yang biasa membungkus dirinya pun hilang entah ke mana.


"Hei Anna, bisakan aku membawa beberapa untuk dibungkus?" tanyanya kepada seorang wanita yang duduk disebelahnya.


"Maaf Putri saya tidak bisa mengijinkannya, bila Anda terus memakan kue itu Gaun Pertunangan Anda tidak akan muat nantinya," balas wanita itu. Dia sedikt tersenyum mungkin menganggap bahwa prilaku gadis itu sedikit lucu.


"Haaa ... karena inilah aku tidak ingin menikah. Apa salahnya menjadi gemuk? Aku rela hidup hanya dengan ditemani makanan-makanan ini," Gadis itu menggerutu dan cemberut sebagai tanggapannya, tapi tetap ia tidak berhenti memakan kue yang dimilikinya.


Wanita di sisinya hanya tersenyum kecut sebagai tanggapan atas perilaku gadis itu. Di sisi lain, Candra berdiri dengan bodohnya di depan pintu masuk sambil menatap ke arah kedua Perempuan itu.


Mimpi, ini pasti mimpi.


Bahkan Candra sekali pun yang selalu bersikap dewasa mulai kehilangan dirinya untuk sesaat. Pasalnya pemandanagn di depan matanya begitu mengubah persepsi Candra akan wanita. Dia mulai menggosok-gosok matanya berfikir bahwa ini semua hanyalah patamorgana, tapi seberapa keras pun dia menggosoknya pemandangan di depan tetap tidak berubah.


Dengan bingung dan dipenuhi rasa kaget Candra harus menerima bahwa semua ini merupakan kenyataan.


Dan sejak kapan kedua orang ini menjadi begitu intim? Wanita memamg makhluk yang sulit dimengerti.


"Tuan maaf Anda tidak boleh berdiri di depan pintu masuk," Kata Seorang pelayan dengan sopan. Pelayan itu melihat Candra terus berdiam diri di depan pintu masuk dan mulai meras itu mengganggu.


"Ah, maafkan aku!"


Mereka bertiga sekarang memakai topeng wajah yang menyembunyikan karakteristik asli mereka, topeng ini dibuat menggunakan serat tanaman, kulit hewan, dan beberapa bahan sintetis yang entah apa jelasnya Candra sendiri juga tidak tahu mengenai ini. Jadi tidak heran bila pelayan tadi tidak mengenalinya.


Siska terlihat seperti gadis cantik biasa sekarang, tapi kalau gadis biasa bisa seperti dia makan definisi cantik pasti akan meningkat ke level yang lebih tinggi. Meskipun ia memakai topeng, tapi tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan kecantikan parasnya. Seperti kebanyakan laki-laki bilang, wanita cantik akan tetap terlihat cantik apa pun yang sedang mereka pakai dan lakukan.


Candra berjalan menghampiri kedua perempuan itu. Sejak kapan Putri dari Kerajaan Hujan ini menjadi begitu kekanak-kanakan? Memang benar kata orang, bujuk rayu dan makanan manis dapat meluluhkan hati wanita. Bila tidak melihat buktinya hari ini Candra tidak akan pernah percaya pada omong kosong itu.


"Sedang apa kalian di sini?" Candra langsung bertanya yang sontak mengagetkan kedua Perempuan itu. Siska bahkan sampai tersendak begitu mendengarnya.


"Bisa kau tidak mengagetkan kami."


Siska mengambil air minum yang dibawakan oleh Anna. Ia merasa kaget, tapi bukan itu intinya sekarang, ia merasa malu mendapati Candra melihatnya disaat memalukan seperti ini. Wanita paling benci dilihat saat bangun tidur dan sedang makan tanpa peduli tata kerama. Dan saat ini pemuda itu telah melihat yang kedua tentu saja Siska merasa sangat malu sekarang.


"Asal kau tahu saja aku yang memaksa Anna kemari jadi jangan sampai kau menghukumnya, mengerti," Siska bangkit dari kursinya berjalan menuju pintu keluar setelah dia membayar untuk kue yang dihabiskannya.


Dia melihat ke arah Candra dan Anna yang masih tepkau ditempatnya berdiri, "Apa yang kalian tunggu, bukankah sudah waktunya kita berangkat."


Kesalahan, karena saking senangnya menemukan kue lezat ini aku sampai melupakan bahwa aku sedang bersamanya sekarang.


Perilaku Siska ini sebenarnya masih biasa dimengerti mengingat tidak adanya Toko Kue dan Manisan di Harsana, dia mungkin bisa memakannya hanya beberapa kali dalam sebulan itu pun dari Kerajaan Tetangga.


Candra tersenyum kecut, ternyata benar sedewasa apa pun dirimu ketika menemukan hal yang kau suka maka kau bisa bertindak leluasa tanpa merasa terkekang, melupakan jati diri cenderung menampilkan sifat yang kau coba tutupi dan bertindak hanya karena dorongan hati.


Tapi tunggu? Bukankah Candra menghabiskan waktu dua jamnya dengan percuma. Ibu Selir, Candra jadi mengingat akan dirinya. Pernah suatu hari Candra diajak berbelanja menemani beliau, menghabiskan seharian penuh hanya untuk membeli sepasang jaket. Dia tidak akan pernah mau lagi bila harus menemani wanita berbelanja.


Saat wanita berbelanja dan berkata bahwa sebentar lagi dia akan selesai, maka diwaktu yang sebentar itu kita akan bisa lari sejauh 5km, makan, dan mandi sebanyak empat kali, menangkap para koruptor, dan bahkan mungkin untuk menyelamatkan dunia.


Begitulah jadwal Candra menjadi kacau dikarenakan Sang Putri yang terlalu asik dengan kue dan manisannya sendiri.


***


Matahari sudah mendekati arah barat, burung-burung mulai beterbangan melintasi langit sore. Cuaca hari ini sangat cerah, arti kata cerah di Nataprawira berbeda dengan di tempat lain, di Nataprawira tidak turun salju termasuk ke dalam definisi cerah tidak peduli apakah langit mendung ataupun berawan yang pasti tidak turun salju masih termasuk cuaca cerah.


Tapi itu semua tidak berlaku bagi mereka berdua, sekarang di dalam mobil bisa dibilang sedang terjadi badai di sana. Siska dari tadi tidak berbicara sedikit pun, ia terus menghindari tatapan Candra, ekspresinya kembali seperti biasa cuek dan seakan tak peduli.


Tapi jauh di dalam hatinya Siska hanya merasa malu dan marah terhadap Candra, ia tidak tahu kenapa merasa seperti ini, bila segala hal bisa dijelaskan lewat kata-kata semata maka Sarjana Sastra akan menguasai dunia, pikir Siska. Yang pasti sekarang Siska tidak ingin melihat Pemuda yang duduk di sampingnya ini.


Candra di sisi lain merasa lebih kesal, dia tidak bersalah di sini hanya saja kenapa justru dia yang terlihat jadi penjahatnya. Gadis ini membuat Candra Menunggu selema dua jam dan berkeliaran mengelilingi Kota untuk mencarinya, dan mengacaukan jadwal yang sudah disusunnya dengan rapi. Setidaknya Candra berharap Siska akan meminta maaf padanya.


Mereka berdua seperti anak kecil egois yang percaya bahwa dirinya benar sehingga enggan untuk meminta maaf duluan.


Selama empat jam perjalana tak ada satu orang pun yang angkat bicara. Anna merasa bahwa sifat mereka begitu kekanak-kanakan mengingat setatus yang mereka punya, tapi mungkin justru karena itulah mereka bersikap egois. Harkat, dan martabat seorang Bangsawan yang menghalangi terjalinnya hubungan terbuka yang saling percaya.


Menjadi orang yang berkuasa terkadang tak semanis yang terlihat.


Jalanan mulai terlihat sepi, para serigala mulai menampakan diri menghiasi pinggiran kota. Salju di sini tak setebal di Ibu Kota, atau di Distrik yang lain.


Mereka turun agak jauh dari Gerbang Kota, setelah membayar kendaraan yang disewanya Candra dan kedua gadis itu mulai melangkah memasuki Kota.