YUWARAJA

YUWARAJA
Kedatangan Nataprawira



Candra dan rombongannya mulai memasuki wilayah Kerajaan Harsana. Ketika sampai di sana mereka disambut dengan pemandangan yang spektakuler. Di mana di satu sisi penuh dengan salju dan sisi lain lebatnya hujan yang entah karena alasan apa, tapi penomena alam di setiap Negara tidak berbenturan ataupun saling mengungguli satu sama lain.


Kedua wilayah ini dipisahkan dengan garis horizontal yang membentang sampai menyelimuti cakrawala yang menambah keajaiban di sana. Andai saja setiap Negara bisa seperti itu, pasti hidup ini akan lebih baik daripada perang dan pertumpahan darah di setiap wilayah.


"Yang Mulia, kita akan sampai dalam tiga menit lagi." Laporan tersebut datang dari seorang prajurit berkacamata.


"Bagus. Mari kita pergi dengan meriah." Untuk beberapa detik lengkung bibir Raja dapat terlihat di sana.


Setelah tiga menit berlalu, rombonga dari Kerajaan Nataprawira tiba di pelabuhan. Mereka disambut dengan ratusan Prajurit yang membentuk barisan di kedua sisi.


"Raja dan Pangeran Nataprawira, sudah datang!" teriak seorang Pria Tua dari kerumunan memberitakan kedatangan rombongan dari Nataprawira.


Saat itu pula, wanita-wanita muda mulai berdatangan yang mengenakan pakaian seragam berjumlah lima puluh orang. Pakaian mereka berwarna biru laut dengan rok panjang dan terdapat selendang pada bagian pinggang, tak luput juga dengan cadar yang menutupi keanggunan parasnya. Mereka mulai membungkuk memberi hormat pada Candra dan rombongannya. Seketika suara gendang, terompet, dan alat musik khas yang ditujukan untuk menyambut kedatangan tamu Agung mulai dimainkan.


Wanita-wanita muda itu mulai menari dengan indah. Layaknya lebah, mereka memikat, dan menyengat setiap mata yang melihat. Mereka menari di atas permukaan air yang setiap gerakannya memberikan gelombang riak di permukaan yang membenamkan perasaan setiap orang. Setiap orang mulai terbuai akan hiburan, tarian, dan permainan alat musik yang dapat menenangkan hati bahkan melelehkan es abadi.


Berbeda dengan orang lain, Candra hanya fokus kepada seorang wanita yang menjadi pusat dari tarian itu. Wanita yang lebih muda, cantik, dan mempunyai gerakan tubuh terbaik, tapi bukan hanya itu yang membuat Candra tertarik.


"Dia Putri Pertama Kerajaan Harsana. Namanya Siska," bisik Anna pada Candra.


"Pantas saja," balas Candra seperti memahami sesuatu.


"Apa ini? Jangan bilang Cinta pada pandangan pertama," goda Anna sambil tertawa.


"Tidak ada yang seperti itu," bantah Candra dengan pandangannya yang masih tetap fokus kepada gadis tadi.


"Ya, ya, aku tahu." Sekarang Anna pun mulai ikut memperhatikan gadis berparas cantik itu.


Dia memang sangat Cantik, bahkan bagi Candra sekalipun yang sudah bertemu banyak Putri. Ternyata rumor tentangnya memang benar, dia dapat disandingkan dengan Adelia, Putri tercantik yang Candra ketahui.


Hanya saja, hal pertama yang membuat Candra tertarik akan Gadis itu bukan karena kecantikannya, tapi dikarenakan ekspresinya yang begitu kaku. Dia mungkin memasang ekspresi bahagia dengan senyuman tanpa noda yang bahkan dapat menipu dunia, tapi ia tidak akan dapat membodohi Candra, dikarena Candra sudah hidup lama dengan apa itu dusta serta kemunafikan yang dapat ia jumpai setiap hari.


Di Saat semua orang sedang menikmati Indahnya musik dan tarian. Tiba-tiba, kabut putih mulai menutupi pelabuhan. Entah ini bagian dari sambutan atau hanya penomena alam yang pasti Candra dan pasukannya mulai terlihat waspada. Orang-orang dari Kerajaan Harsana pun terlihat kebingungan dengan situasi ini. Wanita-wanita muda yang sedang menari, pengiring musik, dan penyanyi mulai berhenti. Sekarang pelabuhan sudah sepenuhnya tertutup kabut, tempat yang tadinya ramai dengan bunyi-bunyian dan orang, sekarang menjadi sunyi seperti kota mati dengan jarak pandang dibatasi.


Terdengar suara langkah kaki mendekat, suara yang begitu pelan hingga mustahil bagi manusia normal dapat mendengarnya. Langkah kaki yang tadinya berjalan sekarang mulai berlari dan menghilang dari pendengaran. Candra mulai merasakan niat permusuhan yang melekat mendekat ke padanya. Tanpa basa-basi, Candra langsung mengambil pedang yang masih di sarungkannya, menebas lawan yang kini sudah berada di belakang punggunnya itu.


"Sepertinya kalian terlalu meremehkan kami." Perkataan Candra tertuju kepada seorang pemuda yang tergeletak di dekatnya.


Candra mengarahkan ujung pedangnya kepada leher pemuda itu yang menyebabkan darah bercucuran. Bertepatan pada saat Candra menahan serangan pemuda misterius ini, terdengar suara desing peluru di setiap penjuru pelabuhan. Sepertinya target mereka tidak lain dan tidak bukan adalah setiap orang yang berasal dari Kerajaan Nataprawira.


Setelah serangan yang dipimpin oleh Pemuda misterius itu berakhir, kini lingkungan di sekitar pelabuhan kembali normal, kabut putih yang sebelumnya menyelimuti mereka sekarang hilang tak tersisa. Terlihat beberapa orang yang menyerang Candra dan rombongan Nataprawira menghentikan pergerakannya, sepertinya mereka menyadari bahwa orang yang mengendalikan kabut tadi berhasil diatasi.


Ada sekitar seratus orang lebih yang melakukan serangan. Untungnya mereka semua berhasil dihentikan yang sekarang menyisakan beberapa prajurit yang terluka baik dari pihak Nataprawira maupun pihak penyerang. Candra menghela napas lega melihat bahwa semua ini berakhir tanpa adanya korban jiwa.


"Apa maksud dari semua ini? Yang Mulia Abisatya!" Anna berteriak dengan marah. Di hadapan Raja dari Negara lain pun Anna bahkan tak repot-repot menyembunyikan kekesalannya.


Siapa yang paling dirugikan bila Pertunangan kedua Kerajaan batal? Tentu saja, Harsana akan sangat dirugikan. Meskipun mereka Kerajaan dengan kekayaan melimpah, tapi bila terjadi perang mereka tetap akan lumpuh. Bukan hanya satu atau dua Kerajaan tetangga yang mengincar tanah subur Harsana, dapat dipastikan bahwa semua Kerajaan yang ada sangat ingin tanah Harsana. Di sinilah peran Nataprawira sangat dibutuhkan sebagi salah satu Negara dengan Militer terkuat, tidak ada tembok yang lebih baik lagi untuk menghalangi keserakahan dari Kerajaan lain.


"Ya, ya, ya. Sambutan yang cukup meriah, bukan?" Perkataan itu keluar dari seorang Pria Bermahkota.


Pria itu mulai melangkah meninggalkan kapal dengan langkah yang cukup pelan. Memasang ekspresi datar, dia bertanya dengan sangat dingin, "Aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini?"


Pria itu adalah Dierja, Raja dari Kerajaan Nataprawira. Saat dia melangkah maju, suhu di sekitar pelabuhan mulai menyusut menjadi dingin. Perubahan suhu yang ekstriem ini menyebabkan penduduk Kerajaan Harsana menggigil dan terlihat kesakitan. Saat kaki Dierja menyentuh air. Seketika, Semua benda yang berjarak empat kilometer membeku di tempat. Baik tumbuhan, hewan, maupun kapal, dan orang-orang yang menyerang rombongan Nataprawira pun tak luput menjadi target. Perubahan situasi ini terjadi begitu cepat, hanya dengan beberapa kedipan mata sampai-sampai tidak ada yang bisa bereaksi ketika melihatnya.


Setelah hening beberapa saat, seorang Pria mulai melangkah maju mendekati Dierja. Pria itu kemudian berkata, "Aku juga kurang mengerti. Jujur, pihak kami juga sama terkejutnya."


"Eddi, aku ingin kau menjelaskannya sekarang juga!" Untuk pertama kalinya Candra melihat ekspresi marah pada Abisatya.


Abisatya melihat ke arah Candra, tepatnya kepada seseorang yang tergeletak di hadapannya. Pemuda yang memiliki rambut Hitam dengan Fisik yang tak jauh berbeda dengan Candra ini adalah Eddi, Putra Penasihat Kerajaan sekaligus teman masa kecil Sang Putri.


Menyadari tatapan Sang Raja, Candra menarik kerah baju Pemuda yang menyerangnya tadi. Candra langsung menyeretnya ke hadapan Sang Raja tanpa mempedulikan apakah Pemuda itu merasa kesakitan atau tidak.


"Eddi, cepat jelaskan!" ucap Raja dengan tegas dan penuh kemarahan.


"A-aku merasa bahwa tindakanku tidak salah. Seharusnya kalian mendukungku bukan Raja yang diktator ini." Matanya mencerminkan kemarahan yang begitu besar, mungkin kalau dia bisa menggunakan api, dia akan membakar Dierja saat ini juga.


"Ehh ... kau cukup pemberani juga, ya." Dierja mendekat, mengangkat wajah Eddi hingga mata mereka bertemu.


"Tentu, buat apa aku takut terhadap orang sepertimu." Dia terus menatap Dierja dengan tajam tanpa merasa takut sedikit pun.


"Hahahaha ... aku suka orang sepertimu, tapi-" Dierja mencengkeram bahu Eddi dengan sangat kuat hingga darah terlihat keluar darinya.


"Keberanian tanpa kekuatan adalah omong kosong." Dierja berbisik kepada Eddi, tapi suaranya masih bisa terdengar jelas bahkan oleh semua orang.


Saat Candra melihat ke sekelilingnya tanpa disadari semua penduduk Harsana menundukan kepala. Jelas mereka tidaklah bodoh, sehingga mereka mengerti akan maksud dari perkataan Dierja. Mungkin memang benar, keberanian tanpa kekuatan tidak akan berarti di dunia yang kejam ini.


"Jadi, apa yang harus kulakukan padamu sekarang? Normalnya, mereka yang mengangkat senjata kepada Raja akan digantung di Alun-Alun Kota" Dierja bertanya dengan nada dinginnya.


Di barisan di antara penari, terlihat Putri Kerajaan Harsana melangkah maju menuju ke arah Dierja. Penari-penari lain yang berada di dekatnya berusaha untuk menghentikan Gadis itu, tapi mungkin dikarenakan mereka terlalu takut sehingga mereka tidak dapat menghentikan Gadis tersebut. Mereka hanya bisa melihat dengan anggota tubuhnya yang menggigil, entah karena mereka kedinginan ataupun rasa takut yang diterima.


Sang Putri tiba di depan Dierja, dia bersimpuh memohon ampunan untuk temannya itu, "Yang Mulia, aku mohon. Ampunilah dia!"


"Siska!" ucap Abisatya dengan kagetnya.


"Wah, wah, aku kira siapa? ternyata calon menantuku, ya," sahut Dierja.


"Aku mohon, Ampunilah temanku ini. Setidaknya jangan bunuh dia," pinta Siska segenap hati.


"Siska, apa yang kau lakukan?" teriak Eddi tak mengerti.


"Ya ... karena itu permintaan dari menantuku yang Cantik. Jadi, apa boleh buat," kata Dierja seakan itu bukan apa-apa.


Sang Putri terlihat bahagia atas apa yang diucapkan Dierja. Dia tidak menyangka bahwa Raja yang terkenal kejam ini akan mengabulkan permintaannya dengan sangat mudah, tapi sebelum Siska dapat merayakan kebahagiaannya itu, sesuatu yang diluar imajinasi Sang Putri terjadi begitu saja.


Sebelum Dierja melepaskan Cengkeramannya bahu sebelah kanan sampai ke tangan Eddi sudah membeku, seakan waktu yang terhenti, Sang Putri menyaksikan lengan sahabatnya itu perlahan retak mulai terlepas dari bagian tubuhnya. Layaknya vas bungan yang terjatuh yang tidak akan pernah bisa kembali menyatu dengan utuh.


"Aku harap, kau menerima akan hal ini." Dierja berkata kepada Sang Putri.


Siska hanya bisa menggertakan giginya, dengan berat hati ia berkata, "Terima kasih atas kebaikan Yang Mulia!"


Siska kembali tertunduk menahan air matanya mengalir. Dia tak pernah menyangka bahwa Raja ini akan begitu kejam.


Kebaikan? Omong kosong macam apa ini?


Baginya, kebaikan Raja tidak lebih dari siksa Neraka. Begitu pula dengan apa yang dirasakan oleh penduduk Harsana.


Pelabuhan kini sepenuhnya terasa sunyi tanpa suara berarti dan kata-kata manis yang sebelumnya mereka puji. Langkah kaki seorang Prajurit terdengar yang memotong kesunyian di alam bawah sadar setiap orang. Prajurit itu datang untuk menjebloskan Eddi ke dalam penjara atas perintah dari Raja Abisatya.