
"AH ... SIAL." Seorang Pria berteriak sambil menendang pohon yang berada di hadapannya. Prilak sederhananya itu sudah cukup untuk memicu munculnya angin kencang yang mengakibatkan beberapa pohon di sana ikut terbawa terbang.
"Tenanglah! Lebih baik sekarang kau cepat bantu aku." Seorang temannya yang terbaring lemah bermandikan darah meminta tolong kepada Pria itu. Teman besarnya ini ternyata telah kehilangan salah satu Tangan berharganya.
"Cih ...." Pria yang lebih mirip anak kecil itu hanya mendecakan lidah sebagai tanggapan. Dari tadi dia hanya bisa terus menahan rasa kesal dan marah.
"Hey. Cepatlah, sekarang giliranmu menolongku!"
"Aku tahu. Bersabarlah, jangan seperti anak kecil."
"Ya, ya. Lihatlah siapa diantara kita yang merupakan anak kecil?" Pria besar itu menunjuk ke arah tempat di mana terdapat lubang dan pepohonan tumbang.
Pria besar itu sebenarnya juga sangat kesal akan semua rencana mereka yang gagal. Mulai dari membebaskan para tahanan Harsana guna menimbulkan kepanikan penduduk yang berujung dengan hampir tertangkapnya kembali semua Tahanan. Dan bukan hanya itu saja, mereka juga tidak menyangka bahwa akan ada orang yang begitu kuat untuk dapat memotong tangan Pejuang hebat yang lebih kuat dari baja.
Hampir semua rencana mereka gagal. Ya ... meskipun penyergapan Eddi memang direncanakan untuk gagal. Itu hanya upaya mereka untuk membuat Eddi berada dipihaknya. Tidak akan ada yang menyangka bahwa Eddi begitu bodoh untuk mempercayai informasi mereka yang mengatakan Candra bukanlah bagian dari Ksatria Hebat.
"Siapa yang menyangka bahwa monster seperti itu akan muncul." Gerutu anak itu, tapi ia tahu bahwa semua kekesalannya tidak akan mengubah hasil yang ada. Hanya saja, mereka masih merasa bingung terhadap tindakan dari orang itu. Bukankah dia bisa saja memenggal kepalanya saat itu juga? Padahal terdapat banyak celah di sana.
Siapa sebenarnya orang itu?
"AA-dudu-duh. Hey, Kau ingin membunuhku, hah!" Pria besar itu berteriak kesakitan ketika lengannya dibalut kain putih guna menghentikan pendarahan. Sungguh disayangkan, diantara mereka berdua tidak ada yang bisa menggunakan sihir penyembuh. Sebenarnya mereka membawa seseorang yang bisa menggunakan sihir tersebut, tapi orang itu sekarang sedang bersama Eddi di tempat persembunyian.
Sebenarnya Pria besar itu juga merasa sangat penasaran akan identitas dari orang misterius ini, pasalnya orang itulah yang memotong salah satu tangannya tanpa ia bisa melawan balik. Seseorang yang berhasil masuk ke dalam pusaran angin yang dia buat, terlebih lagi tanpa suara dan tanpa sedikit pun hawa kehadiran, itu merupakan hal paling menakutkan darinya, tapi kenapa dia tidak membunuhnya saja waktu itu? Bukankah kesempatan itu sudah terbuka lebar?
Sepertinya rencana mereka berdua tidak digagalkan oleh Candra, Anna, ataupun Prajurit Harsana melainkan oleh orang misterius itu. Seakan orang itu tahu apa yang mereka rencanakan. Mulai dari waktu mereka bergerak, tempat tujuan mereka, dan juga target mereka yang di sini merupakan Eddi. Terlalu janggal untuk menyebut semua itu hanyalah kebetulan belaka. Pada akhirnya pertanyaan yang sama kembali terlempar dibenak mereka.
Siapa sebenarnya orang itu?
***
Di saat mereka sedang memikirkan identitas dari orang misterius. Kita kembali pada malam sebelum penyerangan terjadi yang akan membuka semua misteri.
Di dalam sebuah kamar, kamar yang diperuntukan untuk tamu Agung ini terlihat sangat mewah dan sangat luas untuk ditempati satu orang saja. Bila ada rakyat biasa yang masuk ke sana, maka mereka pasti tidak akan dapat memejamkan matanya sedikit pun. Begitulah luas dan mewahnya kamar ini, sampai-sampai rasa takut dan ketidak kenyamanan datang melanda.
Di sana terlihat seorang Laki-laki berusia 40-an sedang duduk di sopa, menikmati hangatnya segelas kopi. Kehadiran dan pancaran auranya yang begitu kuat dibalut dengan nuansa kesunyian malam menghadirkan rasa ngeri bagi sebagian orang, terlebih lagi bagi Pelayan yang sedang bekerja menyiapkan makanan untuknya.
Pelayan itu sudah merasa sangat tidak nyaman sejak memasuki kamar dikarenakan kehadiran dan wajah datar tanpa kata dari pria itu yang membuat dia ingin bergegas pergi setelah menyelesaikan tugasnya ini.
Pria yang sedari tadi menampilkan ekspresi dingin itu adalah Dierja. Dia sudah berada di Kerajaan Harsana selama dua hari lamanya. Tujuan utamanya datang kemari yaitu untuk membahas soal Pertunangan Candra. Tentu, bukan hanya itu saja tujuan sebenarnya dari Dierja.
Waktu sudah hampir menjelang pagi dan Dierja belum memejamkan matanya sedikit pun. Dia sedang menunggu kedatangan dari bawahannya yang entah karena alasan apa, ia belum datang melapor juga. Laporan rutin dari bawahan kepercayaannya ini selalu tepat waktu, tapi entah kenapa sekarang sudah lewat setengah jam dari waktu yang telah ditentukan.
Apakah dia mengalami sebuah masalah? Atau bertemu lawan yang merepotkan? Apapun itu, Dierja percaya bahwa bawahannya akan dapat mengatasi segala masalah, tapi ceritanya akan sedikit berbeda bila lawan yang ia hadapi sama kuatnya dengan Dierja, tapi orang sekuat itu hanya ada beberapa saja di Benua ini, termasuk Dierja, jumlah orang sekuat dia tidak lebih dari enam orang saja. Ya, jumlah yang sangat sedikit, bahkan bila di bandingkan dengan jumlah jari tangan seorang bayi yang baru bisa merangkak.
Di saat Dierja sedang berpikir tentang keadaan bawahannya itu, tiba-tiba saja muncul seseorang berpakaian serba hitam yang datang entah dari mana. Orang itu langsung membungkuk memberi hormat kepada Dierja. Sambil terus menundukan kepala dia berkata, "Tuan, maafkan atas keterlambatanku."
"Terima kasih, Tuan. Ada beberapa hal penting yang aku temukan. Terlihat dua orang yang sepertinya berasal dari Kerajaan Gandana berkeliaran di sekitar Pelabuhan."
"Gandana? Bukan Askara?"
Orang itu hanya mengangguk sebagai tanggapan dari pertanyaan Dierja yang terlihat sedikit terkejut. Kerajaan Gandana, Ini terasa sangat aneh. Askara, dan Gandana memang menjalin kerja sama dari dulu, tapi tetap saja, Dierja kira orang yang datang akan berasal dari Kerajaan Askara langsung. Hubungan kerja sama kedua Kerajaan ini juga tidak terlalu baik pada awalnya.
Yah ... sebenarnya Dierja hampir bisa menebak keseluruhan dari rencana mereka, selain dari menggagalkan Pertunangan Candra. Ada satu hal lagi yang terpikirkan olehnya.
Menarik.
Dua orang yang diperkirakan berasal dari Kerajaan Gandana ini sepertinya bertujuan untuk membebaskan Eddi. Entah ada hubungan apa antara Eddi dan mereka? Hal seperti itu tidak terlalu penting juga untuknya. Hanya saja, ya ... Bukan hanya melakukan penyergapan ternyata Eddi juga berhubungan dengan Kerajaan musuh. Sejak awal Dierja sudah merasa bahwa semua ini terasa ada yang janggal. Begitu, ternyata Askara, ya.
"Apa sebaiknya kita singkirkan saja mereka sekarang juga?" Orang berpakaian hitam itu bertanya dengan percaya diri sekan dia tidak akan pernah gagal melaksanakan tugasnya.
"Tidak perlu, aku mempunyai tujuan lain yang pastinya akan lebih menarik terlebih lagi untuk mereka." Dierja menjawab dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Baiklah!" jawab orang itu segera. kemudian dia langsung menghilang tanpa jejak, hanya menyisakan kata-kata yang masih dapat didengar telinga.
Bawahan kepercayaaan Dierja ini begitu misterius, tidak banyak orang yang tahu tentang dirinya. Identitasnya tidak diketahui, baik jenis kelamin, usia, dan bahkah kekuatannya pun masih terasa begitu abu-abu. Hanya Dierjalah yang tahu persis siapa sebenarnya orang ini. Orang lain menyebut dia bayangan Nataprawira dikerenaka begitu misterius dan kehadirannya yang tak terasa.
***
Di penjara yang teretak di sebelah barat dari Istana. Tempat yang selalu dijaga dengan ketat, wajah lesu para prajurit mulai berganti dengan wajah-wajah baru penuh energi. Dikarenakan hari sudah menjelang pagi, setiap penjaga mulai berganti melaksanakan tugas sepenuh hati.
Di salah satu ruangan terdapat dua orang yang sedang melakukan percakapan, daripada percakapan, itu lebih merupakan perintah satu sisi.
Seorang prajurit sedang bersimpuh di hadapan seseorang yang memakai pakaian serba hitam. Baik wajah dan jenis kelaminnya tidak dikenali. Apalagi orang ini selalu menggunakan sihir pengubah suara, sehingga dia tidak bisa menebak siapa identitas aslinya. Hanya saja, prajurit itu tahu bahwa orang ini merupakan bawahan kepercayaan dari majikannya.
Orang berpakaian hitam itu memberikan botol berukuran sekepal tangan kepadanya. Prajurit itu menerima botol berwarna merah muda yang entah apa fungsinya dengan penuh rasa hormat.
"Sebarkanlah serbuk ini setelah ada orang yang masuk ke dalam Sel!" ucap orang itu memberi perintah.
"Baik!" Balas prajurit itu dengan patuh.
Sebelum orang ini datang, prajurit itu sudah mendapat kabar bahwa seorang penyusup dari Kerajaan Gandana akan datang dengan tujuan untuk membebaskan Eddi Putra Penasihat Istana.
Dia selalu merasa kagum akan kemampuan majikannya dalam hal mengumpulkan informasi. Dia sudah bekerja di Kerajaan Harsana selama dua tahun lebih. Dia berlari ke Kerajaan ini hanya untuk melaksanakan printah dari Dierja yaitu bekerja sebagai mata-mata.
"Bagus, jangan sampai kita mengecewakan Raja." Orang itu segera menghilang bak ditelan udara.
Jujur saja, prajurit itu semakin kagum akan setiap rencana dari Rajanya ini, meskipun sudah dua tahun bekerja di bawah perintahnya, tapi ia masih tetap tidak dapat menebak pemikiran dari majikannya itu. Dengan penuh semangat, Prajurit itu pergi melaksanakan perintah dengan persiapan matang, tanpa sedikik pun merasa takut gagal.