
Tepat jam sembilan malam adalah jadwal makan malam di Istana akan dilaksanakan. Sekarang di atas meja sudah terisi penuh oleh berbagai makanan, mulai dari daging, buah, dan sayuran dengan tampilan elegan yang pastinya akan menggugah selera.
Pada dasarnya Manusia adalah makhluk yang memiliki ***** tinggi dan kadang cenderung lebih rakus daripada hewan liar. Saat dihadapkan pada kekayaan, kekuasaan, dan wanita. Barulah sifat serta naluri bawaan mereka akan keluar, tidak jauh berbeda juga dengan makanan lezat yang terkadang akan mengundang konflik. Tapi semua orang yang berada di ruangan ini merupakan Bangsawan, yang sudah dididik sedari kecil sehingga mereka semua makan dengan sangat sopan dan elegan, tanpa ada sedikitpun suara terdengar. Mungkin sebagian orang awan akan menganggap mereka sedang melakukan pertunjukan seni karena saking anggunnya mereka bergerak. Barulah setelah tiga puluh menit berselang mereka selesai makan.
Setelah selesai makan malam, anggota keluarga Kerajaan tidak langsung meninggalkan meja makan. Baik dari pihak Nataprawira maupun Harsana, mereka tetap duduk di kursinya sambil menunggu Dierja angkat bicara. Sebagai Tuan Rumah tidak ada yang berani mengambil inisiatif untuk memulai percakapan sebelum Dierja berbicara terlebih dahulu.
Siska mengamati Dierja kemudia dia melirik Candra yang duduk di hadapannya. Setelah dua hari Siska tinggal di Nataprawira, dia jarang melihat Ayah dan Anak ini berinteraksi. Mereka Seperti tidak peduli, serta cenderung menghindari satu sama lain. Buakankah perilaku seperti ini terlalu dingin untuk disebut sebgaai Keluarga? Mereka seperti orang asing daripada orang tua dan anak.
Meskipun tidak ada rasa khawatir ataupun kasian terhadap apa yang terjadi kepada Candra dan keluarganya, tapi Siska masih harus tahu situasi tempat di mana dia akan tinggal.
Dua hari ini Siska sibuk mencari informasi tentang keadaan di dalam Istana dan situasi di Kerajaan. Dia bertanya kepada beberapa pelayan dan prajurit, Siska bahkan memberanikan diri untuk bertanya kepada Anna, kepala pelayan yang langsung melayani Candra.
Dari bagaimana Anna bisa begitu santai berbicara dengan beberapa Bangsawan. Dia juga begitu dihormati oleh semua Pelayan dan prajurit, bahkan Siska pernah melihat seorang Bangsawan membungkuk memberi hormat kepadanya. Siska mulai bertanya-tanya, apakah mungkin Anna adalah Bangsawan yang sedang menyamar?
Anna mempunyai sifat yang baik hati, mudah diajak bicara, dan memiliki sifat keibuaan yang lekat sehingga Siska bisa mudah akrab dengannya. Siska dengan berani bertanya tentang Bagaimana kedaan di dalam Istana? Bagaimana Hubungan Para Bangsawan? Bagaimana keadaan ekonomi di sini? Bahkan sampai hal-hal sepele, seperti hewan ternak, hari libur, dan pakaian yang sering digunakan orang-orang Nataprawira. Tanpa diduga, Anna menjawab semua pertanyaan Siska dengan senyum lembut di wajahnya. Barulah setelah Siska bertanya apakah hubungan Candra dan Dierja baik-baik saja? Senyuman yang selama ini terpang-pang langsung menghilang dari bibirnya. Denga nada tertekan Anna hanya mengatakan, "Ini belum saatnya."
Setelah melihat ekspresi tertekan Anna, Siska tidak menggali lebih jauh dan hanya mengatakan, "Maaf!" kepadanya.
"Siska, sebentar lagi orang tuamu akan tiba. Apa itu benar?" Dierja bertanya sambil meletakan gelas yang digenggamnya.
"Ya, mereka bilang besok pagi baru akan tiba," jawab Siska dengan senyum tipis diwajahnya.
Pada hari itu, Siska hanya berangkat dengan beberapa Palayan dan Prajurit. Orang tua beserta keluarganya yang lain masih memiliki urusan di Harsana sehingga mereka baru akan tiba besok pagi. Apa boleh buat, dengan kasus pelarian para tahanan terakhir kali orang tuanya yang menjabat sebagai Raja dan Ratu pasti dibuat sibuk olehnya. Keterlambatan ini pun bisa dimaklumi pihak Nataprawira.
"Bagus, bagus. Kalau begitu aku akan menyiapkan segala hal untuk menyambut kedatangan mereka!"
"Terima kasih atas kebaikannya, Yang Mulia!"
"Baiklah, aku undur diri terlebih dahulu. Candra, antarkanlah Putri Siska ke kamarnya!" Dierja berdiri dan segera pergi dengan cepat.
Siska juga berdiri dan kembali melirik Pria yang berada di hadapannya ini. Dia menunggu Candra untuk berbicara terlebih dahulu.
"Baiklah, Putri. Aku akan mengantarmu ke kamar!"
Sulit untuk mengetahui apa yang terjadi terhadap sang Ratu terdahulu dikarena tidak ada yang membicarakannya. Dia hanya tahu bahwa Ratu sudah meninggal sejak melahirkan bayinya.
Siska kembali menatap Candra yang masih ada di depannya. Dia mulai berpikir bahwa Pria ini besar tanpa merasakan kasih sayang seorang Ibu dan hubungan dengan Ayahnya pun terlihat kurang baik. Dalam kasus ini Siska masih lebih baik darinya, meskipun Ibu kandungnya sudah meninggal, tapi setidaknya dia tahu wajah dan pernah merasakan belaian penuh kasih dari seorang Ibu. Sekarang pun, Ibu tirinya tidak memperlakukan dia dengan buruk, bahkan Ibu tirinya memperlakukan Siska dengan sangat baik layaknya anak sendiri. Saat Siska akan bertanya bagaimana keadaan Selir sekarang, tiba-tiba Candra berhenti di depan sebuah pintu, ini adalah kamar tempat dia tinggal.
"Baiklah Putri, selamat malam!" ucap Candra sambil sedikit membungkuk sebagai formalitas terhadap pasangan.
"Tunggu!" Suara Siska agak terlalu keras, berharap agar Candra dapat mendengarnya.
"Ada apa?" tanya Candra sambil menatapnya.
"Bagaiman keadaan Ibu Selir sekarang?" Dari kemarin Siska tidak pernah melihatnya. Dierja berkata bahwa dia sedang demam dan akan pulih setelah beberapa hari atau minggu. Bagaimana pun juga Siska sangat ingin bertemu dengan beliau. Banyak orang yang memuji akan kecantikan dan kebaikan hatinya.
"Ibu sudah membaik hari ini. Jangan Khawatir, beliau akan sembuh dengan cepat!" Untuk sesaat Siska merasa terkejut, baru kali ini Siska melihat Candra tersenyum. Ternyata benar, cepat atau lambat dia harus bertemu dengan Ibu Selir ini.
"Baiklah, tolong sampaikan salamku padanya! Selamat malam!" Tanpa menunggu jawaban, Siska sudah memasuki kamarnya, sedangkan Candra masih menatap pintu yang sekarang sudah tertutup rapat.
*****
Di sebuah bangunan mewah yang memiliki tiga lantai, di lantai tertatas di salah satu kamar. Terdapat tiga orang Pria yang berusia awal 30 sampai 40-an. Ditemani dengan beberapa wanita cantik dan seksi. Para Wanita itu mengenakan gaun indah dengan berbagai warna cerah, tapi begitu tipis sampai-sampai di mana kain yang menutupi tubuh mereka tidak pantas untuk disebut pakaian.
Seorang Pria yang sepertinya merupakan pemimpin dari orang-orang itu sedang duduk di kursi mewah dan paling tinggi. Terdapat satu Wanita di setiap sisinya yang memeluknya dengan erat, kedua Wanita itu hanya mengenakan pakaian dalam dan Wajah mereka begitu merah, entah karena malu atau efek dari alkohol yang diminumnya.
"Tuan, bagimana ini? Kalau Pertunangannya sampai terjadi kita akan sangat dirugikan nantinya," Seorang Pria bertanya dengan gelisan. Pria ini merupakan yang paling tua diantara mereka bertiga.
"Aku tahu itu, bagaimanapun juga bisnis kita bersumber dari sana, kalau kedua Kerajaan bersatu, kita pastinya akan bangkrut," Pria di kursi menjawab dengan tenang.
"Benar, kakak. Aku sudah muak dengan Raja dan Pangeran itu. Aku berharap bisa segera membunuh mereka!" Seorang Pria yang sepertinya paling muda diantara mereka menunjukan kebencian yang jelas.
"Tenanglah, cepat atau lambat kita pasti membunuh mereka. Oh dan kelihatannya Putri Harsana itu begitu Cantik. Kita harus bermain bersamanya nanti! Hahaha ...." Pria di kursi tertawa dengan gembira sambil meremas kedua payudara Wanita yang berada di sisinya, yang mengakibatkan erangan kecil keluar dari mulut kedua Wanita itu.