YUWARAJA

YUWARAJA
Negeri Para Diktator II



Seorang Gadis keluar dari dalam mobil. Dia mulai melangkah menghampiri Wanita yang masih bersimpuh di bawah kaki salah seorang Prajurit. Begitu dia berjalan, semua mata mulai tertuju kepadanya, para lelaki yang ada di sana hampir meneteskan air liur mereka begitu melihat wajah Gadis itu. Dengan rambut panjang hijaunya, tubuh khas seorang Wanita yang tak perlu diragukan lagi, lekuk tubuh peminim yang dibungkus dengan aura dewasa yang pastinya akan membangkitkan hasrat para Pria.


Mata indah, tapi dengan tatapan tajam dan ekspresi marah terlihat jelas padanya. Langkah kakinya yang anggun mengandung Martabat dari Seorang Bangsawan dan Penguasa. Gelar seorang Putri yang akan menjadi Ratu Masa depan dari Nataprawira memang haruslah seperti ini. Begitulah apa yang ada dipikiran semua orang.


Tak berselang lama Gadis itu sudah berada di hadapan Wanita yang masih bersimpuh lemah di tanah. Prajurit yang masih menyeret wanita tersebut langsung berhenti dan segera membungkuk memberi hormat lalu mulai melangkah mundur.


"Angkat Kepalamu!" ucap Gadis itu kepada Wanita yang berada di hadapannya kini.


Wanita itu mulai mengangkat kepalanya setelah mendengar suara yang dianggapnya indah. Seperti robot yang telah kehilangan salah satu bautnya, Wanita itu melihat sosok indah serta menawan yang berada tepat di hadapannya dengan cukup bodoh.


Begitu mata mereka bertemu, untuk sekejap Wanita itu terlihat linglung, pasalnya, Gadis yang berada di hadapannya ini begitu cantik hingga kata cantik tidak akan cukup untuk menggambarkan keindahan dirinya. Mata hijaunya yang begitu indah dan jernih, serta berkilauan bagaikan permata yang tak tersentuh, tapi begitu terawat. Barulah setelah beberapa saat, Wanita itu tersadar dan segera kembali menundukan kepalanya lebih dalam daripada sebelumnya.


"Angkat Kepalamu!" Kembali kata-kata yang sama keluar dari mulut Gadis itu. Hanya saja, sekarang lebih dengan penekanan dan perintah.


Wanita itu segera mengangkat kepalanya, dia tidak begitu bodoh sehingga dia akan mengabaikan perkataan Gadis di hadapannya ini. Dari penampilannya saja dia bisa menyimpulkan bahwa Gadis ini adalah seorang Bangsawan. Terlebih lagi Prajurit tadi memanggilnya, "Putri." dapat dipastikan bahwa Gadis ini pastilah seorang Putri sekaligus calon Ratu masa depan Nataprawira.


"Ampun, Yang Mulia! Hamba tidak sengaja!" kata Wanita itu dengan suara parau. Melihat penampilannya kini, sepertinya air mata dapat keluar kapan saja.


Sang Putri atau Siska sedikit terkejut ketika melihat Wanita yang berada di hadapannya ini. Meskipun tubuhnya kurus dengan mata sayu dan kulitnya yang pucat, tapi kecantikannya masih bisa membuat seorang Pria tergoda. Melihat dari penampilannya sepertinya Wanita ini seperti baru memasuki usia 30-an.


Meskipun keadaan fisiknya terlihat tidak terlalu baik, tapi matanya menyiratkan akan tekad kuat untuk dapat bertahan hidup bahkan dalam keadaan sesulit apapun. Mungkin alasan utama wanita itu tidak menyerah akan kehidupan adalah karena janin yang sedang dikandungnya.


Seperti kata pepatah, kasih Ibu tak terhingga sepanjang masa dan itu bukan hanya sekedar perkataan fiksi belaka. Sudah banyak bukti semua itu terjadi, dari ribuaan tahun di masa lalu dan bahkan jutaan tahun di masa yang akan datang. Ibu akan tetap sama, kasih dan cintanya tidak pernah surut dan Wanita di hadapannya ini akan menjadi salah satu dari orang-orang mulia itu.


"Siapa namamu?" tanya Siska memecah keheningan yang ada.


"Luna, Yang Mulia Putri," jawabnya tanpa penundaan sedikit pun.


"Sudah kubilang angkat kepalamu." Siska mulai merasa bosan dengan perkataannya ini yang terus-menerus dia ulang.


"Maaf, Yang Mulia!" Wanita itu dengan enggan kembali mengangkat kepalanya dan menatap mata Sang Putri.


Biasanya menatap secara langsung ke arah mata seorang Bangsawan seperti ini tidak akan dapat pernah diizinkan, tapi dikarenakan dia sudah mendapat perintah langsung dari orang yang bersangkutan sehingga dia dengan ragu berani menatap mata Siska. Begitu mata mereka bertemu, Wanita itu kembali terkagum-kagum akan sosok yang bisa dianggapnya sebagai Dewi ini. Kalau dia tidak melihat kaki Siska yang menyentuh tanah, Wanita itu sudah pasti mengira bahwa sosok yang kini berada di hadapannya merupakan jelmaan seorang Dewi.


"Luna, ya ... apa pekerjaan mu sekarang?" Setelah berpikir untuk beberapa saat, Siska kembali mengajukan pertanyaan kepada Wanita itu.


"Hamba hanya seorang pembersih jalanan, Yang Mulia!" jawabnya pelan, bukan karena malu, tapi dia hanya terlalu gugup.


Siska merasa sedikit terkejut ketika mendengarnya. Meskipun itu masih lebih baik daripada menjadi seorang budak, tapi pekerjaan ini merupakan pekerjaan dengan upah paling sedikit dan dipandang sebagai pekerjaan kelas paling rendah dikalangan Masyarakat.


"Dengan penampilanmu, seharusnya akan mudah untuk menjadi setidaknya seorang pelayan. Kenapa kau harus merendahkan dirimu untuk pekerjaan seperti ini?" Dengan fitur wajahnya, Siska dapat yakin bila dia melamar untuk menjadi seorang Pelayan, tanpa ragu ia akan langsung diterima. Meskipun keahlian itu penting, tapi kebayakan tempat sekarang lebih mementingkan penampilan, seperti restoran-restoran mewah dan penginapan-penginapan mahal.


Dulu sebelum suaminya meninggal dia masih mempunyai rumah, tapi setelah perang usai, rumahnya disita oleh Perusahaan untuk melunasi hutang suaminya. Sungguh ironis, setiap kali Suaminya pulang, dia akan selalu membawa makanan dan pakaian baru untuknya, tapi siapa sangkah bahwa semua itu hasil dari pinjaman. Sekarang dia tidak mempunyai apapun, baik Rumah, Keluarga, Uang, dan bahkan teman sekalipun.


"Pelayan ... begitu, ya." Siska terlihat berpikir dengan cukup keras, kemudian dia berbalik dan berbisik kepada Pemuda yang sedari tadi terus berada di belakangnya. Pemuda itu tidak lain adalah Candra. Setelah mendengarkan permintaan dari Siska, Candra mengangguk dengan tenang.


"Baiklah, terima kasih!" Siska berterima kasih kepada Candra, Kemdudian ia kembali menatap Wanita malang tadi.


"Kau ikutlah dulu denganku ke Istana!" ucap Siska dengan lantang, sedikit senyuman dapat terlihat di bibirnya yang menggoda itu.


"Prajurit, bawa dia ke kediamanku dan perlakukan dia dengan layak!" kata Siska kepada salah seorang Prajurit.


"T-Tunggu, Tuan Putri. Dia dengan lancang melemparkan sampah pada mobil yang digunakan Keluarga Kerajaan. Akan lebih pantas bila dia dihukum terlebih dahulu." Seorang Prajurit yang tadi menyeret wanita itu tiba-tiba berbicara, nada suranya menyiratkan ketidakpuasan akan keputusan yang Siska ambil.


Siska memandang Prajurit itu dengan tidak senang. Dia merasa jijik padanya. Siska tahu bahwa prajurit itu mempunyai niatan buruk terhadap Wanita bernama Luna ini. Pandangannya yang cabul, tubuhnya yang sedikit gemuk, dan cara bicaranya yang kasar. Prajurit ini hampir memiliki semua sifat-sifat yang dibenci oleh Siska.


"Kau berani mempertanyakan keputusanku?" tanya Siska dengan kesal.


"T-tentu saja tidak, tapi kita harus memperlakukan penjahat sebagaimana mestinya," jawab Prajurit itu sedikit terbata-bata mengingat dia menentang keputusan seorang Putri.


Prajurit itu sudah dililit oleh ***** sehingga ia berani mempertanyakan keputusan Siska. Dia terus membayangkan bagaimana Wanita itu terlentang di ranjangnya dengan air mata mengalir dan suara rintihan merdu. Memikirkanya saja sudah membuat dia merasa *******.


Siska memandang Prajurit itu dengan jijik. Bagaimana bisa orang seperti dia menjadi pemimpin disalah satu pasukan pengawal Kerajaan? Memikirkan bagaimana orang seperti dia akan sering Siska jumpai, Siska serasa ingin muntah karena jijik.


"Cukup, Prajurit cepat bawa wanita itu dan perlakukan dia seperti kata Putri!" Candra yang sedari tadi diam sudah tidak bisa membiarkan hal ini berlarut-larut.


"B-baik Pangeran!" jawab salah seorang prajurit dengan gugup.


"Dan untukmu yang berani menentang Printah Putri, posisimu sebagai pemimpin dari pasukan ke-9 akan di cabut. Cepat bawa dia dan penjarakan selama tiga bulan! Setelah tiga bulan kau akan menjadi prajurit tanpa pangkat." Candra memberi perintah dengan penekanan kuat dalam kata-katanya.


Keputusan Candra ini sontak membuat semua orang terkejut. Siska melihat Candra dengan sedikit lebih positif sekarang, siapa sangka dia akan mendukungnya hingga seperti ini. Meskipun Siska tahu itu semua hanya untuk meyakinkan orang luar bahwa hubungan mereka berdua rukun, tapi tetap saja, Siska mulai memandang Candra dengan berbeda.


"Terima Kasih Pangeran dan Tuan Putri!" Wanita itu segera dibawa pergi oleh beberapa Prajurit dan untuk memastikan keamanannya, Candra memerintahkan Anna untuk ikut dengan mereka.


"P-pangeran kau tidak bisa berbuat seperti ini padaku!" teriak Prajurit yang sekarang sedang berjuang melawan para penjaga yang ingin membawanya ke dalam penjara.


"Brengsek!"


Candra dan Siska tidak menghiraukan teriakan-teriakan kasar di belakang punggungnya. Mereka segera masuk ke dalam mobil untuk kembali ke Istana, sudah waktunya untuk makan malam. Suara butiran salju berjatuhan yang membawa ketenangan ditemani pemandangan indah dari lampu-lampu redup mengantar perjalanan mereka kembali.