YUWARAJA

YUWARAJA
Menjelang Hari Pertunangan III



Keesokan harinya, setelah Candra bertemu dengan Ibu Selir, dia tidak memiliki jadwal khusus apa pun hari ini. Sampai matahari tepat di atas kepala, Candra tetap berdiam diri di dalam kamarnya menyaksikan pemandangan kota yang begitu hidup.


Tak terasa tinggal dua hari lagi menjelang hari pertunangan Candra dan Siska. Semua orang di Istana terlihat sibuk mempersiapkan segala macam hal, surat undangan pun sudah disebarkan ke setiap Bangsawan dan para pedagang besar. Pertunangan Candra bisa dibilang merupakan acara tertutup hanya beberapa kerabat, Bangsawan, dan pedagang besar yang diundang. Jadi tiga hari persiapan pun masih memungkinkan.


Untuk saat ini Candra menganggap kunjungannya ke tempat itu masih lebih penting bila dibandingkan dengan mempersiapkan Hari Pertunangannya.


Candra melihat jauh ke depan, ke arah paling barat dari Kerajaan. Orang-orang terabaikan yang sudah tak memiliki apa pun yang telah kehilangan tujuan hidup dan orang-orang yang menunggu ajal menjemput, semua jenis orang itu dapat kita jumpai di Distrik Kumuh. Bila harus dijelaskan dengan singkat. Distrik kumuh merupakan tempat bagi orang-orang terbuang dan berputus asa akan kehidupan.


Tapi tetap saja, ditempat sampah sekali pun kita dapat menemukan satu atau dua hal yang masih berguna. Apalagi bila menyangkut manusia, Candra percaya akan selalu ada pengecualian. Oleh sebab itulah Candra saat ini berencana untuk mencari orang seperti itu yang masih tinggal di Distrik Kumuh.


Ia berencana untuk berangkat pada sore hari nanti. Sebenarnya Candra sudah dari lama ingin pergi ke sana, hanya saja dia disibukan oleh perang dan kunjungannya ke Harsana beberapa waktu lalu. Beruntung hari ini ia tidak ada kegiatan apa pun, sehingga hari ini merupakan waktu terbaik untuk pergi ke sana.


"Pangeran, persiapannya sudah selesai. Kita dapat berangkat sekarang juga!" Layar besar yang berada di dalam kamar Candra menyala, menampilkan sosok Anna yang memberitahukan bahwa sudah waktunya berangkat ke Distrik kumuh.


Anna sekarang tidak mengenakan pakaian pelayannya, ia memakai pakaian rakyat biasa yang dapat kita jumpai dengan mudah di setiap pinggir jalan. Distrik Kumuh merupakan area tak terurus, penduduk di sana beranggapan bahwa Kerajaan sudah tidak peduli kepada mereka, sehingga penduduk di Distrik kumuh biasanya tidak ramah terhadap Bangsawan.


Bila tidak ada lapangan pekerjaan yang hanya cukup untuk makan sehari-hari dan jaminan keamanan dari serangan monster serta para bandit pasti, penduduk di sana sudah lama meninggalkan tempat Kumuh itu.


"Baiklah, aku akan ke sana dalam sepuluh menit lagi. Ah, benar. Bagaimana reaksi orang itu?"


Mustahil orang seperti dia tidak menyadari tindakan Candra ini. Mengingat jaringan informasinya yang begitu luas, jadi daripada berusaha bersembunyi Candra lebih baik berterus terang kepadanya.


Hanya saja, masih ada satu masalah. Putri Siska, Candra enggan mengajaknya pergi, tapi mengingat bagaimana dia begitu keras kepala ingin ikut, dia bilang ingin melihat Distrik Kumuh secara langsung oleh mata kepalanya sendiri. Candra bingung, ia tidak pandai berdebat dengan seorang wanita apalagi bila menyangkut seorang Putri. Apakah setiap Putri itu begitu keras kepala? Candra tidak bisa tidak bertanya-tanya.


Candra dan Putri Siska segera meminta izin kepada orang itu. Candra berharap bahwa orang itu akan menolak partisipasi dari Putri Siska, tapi siapa sangka jawaban yang Candra dapat sungguh tak terduga.


Orang itu duduk di Singgasananya berbicara sambil melambaikan tangan kepada mereka berdua, "Tidak apa-apa, pergilah. Kau hanya harus menjaganya dengan baik."


Orang itu yang dimaksud Candra adalah Ayahnya sendiri, Raja dari Kerajaan Nataprawira. Bila tahu akan jadi seperti ini Candra tidak akan memberitahu Putri Siska akan rencana kunjungannya ke Distrik Kumuh. Yah ... pada awalnya pun Candra tidak berniat untuk memberitahunya juga, tapi kebetulan saja saat Candra dan Anna berbicara Putri Siska hadir saat itu.


Di sisi lain, Putri Siska menampilkan wajah kemenangan dan dengan ekspresi gadis ceria layaknya gadis biasa, dia berkata dengan sedikit sombong, "Lihat! aku akan tetap ikut jadi tolong jaga aku dengan baik, Pangeran!"


Untuk pertama kalinya Candra melihat ia bertingkah layaknya gadis seusianya. Mungkin tidak buruk juga untuk mengajaknya pergi ke sana. Meskipun tidak ada rasa cinta diantara mereka, tapi Candra merasa dia dan gadis itu memiliki rasa senasib dan sepenanggungan. Sama-sama anak Raja yang cukup tak berdaya untuk seukuran setatus mereka yang tinggi.


"Tuan berpesan agar kita berhati-hati saat di sana," Layar besar itu sekarang telah kembali hitam diiringi menghilangnya sosok Anna dari pandangan.


Segera secara otomatis layar itu mulai tenggelam ke belakang tembok seperti menyatu dengan dinding agar dapat digunakan sebagai cermin. Inilah yang membedakan Nataprawira dengan Kerajaan lainnya, teknologi di Kerajaan ini telah jauh berkembang bila dibandingkan dengan Kerajaan lain yang berada di Benua Barat.


Candra akan berangkat ke Distrik kumuh bersama Anna, Siska, dan dua prajurit yang mengawal mereka. Kedua pengawal itu merupakan prajurit Harsana. Raja Abisatya yang mengetahui bahwa Putrinya akan pergi ke tempat tak terkendali itu langsung menyiapkan dua pengawal terbaiknya.


Sungguh, Ayah yang penuh perhatian.


Candra hanya merasa bingung, kenapa Ayah sebaik dia membiarkan Putrinya menikah dengan Pangeran dari Kerajaan yang penuh akan para Bangsawan Berengsek ini? Mungkin nanti dia kan tahu jawabannya sendiri.


***


Candra sampai di depan gerbang Distrik Pusat, memilih pinggiran kota yang sepi akan aktivitas supaya tidak terlalu mencolok ketika dia keluar dari dalam mobil Kerajaan. Setelah menemukan tempat yang cocok Candra segera keluar, dan berjalan menuju tempat pertemuan mereka. Anna dan Putri Siska sudah berada di tempat pertemuan.


Distrik Pusat ini merupakan tempat berkumpulnya berbagai jenis orang dengan setatus yang berbeda-beda pula. Banyak pedagang yang menjajakan produk mereka, mulai dari makanan sampai aksesoris. Meskipun ia lahir di Kerajaan ini, tapi tetap saja Candra masih tidak terbiasa dengan keramaian.


Di mana mereka?


Candra sudah sampai di tempat pertemuan, tapi Anna dan Putri Siska tak terlihat di mana pun. Dia sekarang berada di sebuah gang sempit yang hanya ada sedikit orang, dari sini kita hanya memerlukan empat jam berkendara untuk sampai ke Distrik Kumuh.


Candra hanya berdiam diri menunggu mereka datang, lima menit berlalu dan masih belum ada tanda-tanda kehadiran mereka. Bosan rasanya menunggu, biasanya sekelas Pangeran tidak akan menunggu seseorang, bila ada pun itu pasti malah sebaliknya.


Mungkin sebentar lagi mereka datang.


Candra mengisi pikirannya dengan kata-kata penghibur, manusia adalah makhluk yang menghibur dirinya sendiri walaupun tahu bahwa itu semua sia-sia. Setelah lima belas menit menunggu Candra mulai merasa kesal. Bila tidak jadi ingin ikut setidaknya Siska harus memberitahunya tadi, bukan malah membuat dirinya menyia-nyiakan lima belas menit berharga.


Dia menyesal sekarang tidak membawa alat komunikasi, sebenarnya Candra sering melupakan hal-hal kecil yang sudah dipersiapkannya sejak lama. Apa kata orang nanti bila Pangeran dari Nataprawira sebenarnya adalah pria yang sering lupa.


Sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Candra berinisiatif untuk mencari mereka sekarang juga. Ia mulai keluar dari Gang mengambil arah kiri terlebih dahulu berharap dapat segera bertemu dengan mereka.


Pertama-tama Candra mencari ke jalan-jalan yang dipenuhi kerumunan, meskipun sedang menyamar mudah untuk membedakan mereka apalagi Putri Siska dengan fitur wajah cantiknya, bila gadis itu tidak menutupi seluruh wajahnya mustahil Candra tidak dapat mengenali dia. Bahkan rasanya meskipun dia memakan topeng kulit Candra masih dapat mengenalinya.


Dikarenakan Candra tidak melihat Anna dan Siska di mana pun, maka ia mulai mencari di beberapa Toko. Mulai dari kios-kios makana, Toko busana, dan aksesoris, tapi tetap hasilnya nihil. Sekarang sudah hampir dua jam berlalu, ini tidak lagi mengikuti jadwal yang ditentukan. Candra sangat kesal sekarang, bagaimana pun ia adalah jenis orang yang tergila-gila dan menganggap bahwa mengikuti jadwal yang sudah ditentukan itu mutlak sama seperti urusan hidup dan mati. Ia akan tersiksa secara batin bila melanggar tradisi yang sudah ditentukan olehnya itu.


Sekarang tinggal Toko kue ini yang tersisa, kemarin dia belum bisa mengunjungi Lara dikarenakan teman masa kecilnya itu sedang dalam perjalanan bisnis, tapi sepertinya sekarang pun dia belum kembali.


Bila mereka tidak ada di sini, Candra akan menyerah dan memilih untuk menunggu di Gang tadi atau pergi ke Istana sebagai opsi terakhir.


Candra mulai melangkahkan kakinya di Toko Kue terbesar di Nataprwaira tempat yang sudah lama tak ia kunjungi. Begitu sampai di depan pintu, pelayan wanita langsung mempersilahkannya masuk,. Aroma khas langsung menghampiri penciumannya, aroma yang membuatnya merasa nostalgia dan mengingat bagaimana kisah kesehariannya dikala ia masih kecil.