YUWARAJA

YUWARAJA
Ibu Selir



"Jadi kapan tepatnya pertunangannya akan dilaksanakan?" Pertanyaan itu keluar dari wanita cantik dengan aura dewasa yang sanggup menggoda setiap pria. Sorot matanya yang tajam disertai pupil mata hitam yang akan memberikan kesan elegan, suara merdunya begitu enak terdengar, tapi dengan sedikit genit yang memberikan kesan wanita dewasa serta menggoda.


Gaun berwarna ungu yang menampilakan lekuk tubuh dan kulit indah seperti batu giok, dengan beberapa area yang tidak tertutupi kain, seperti bahu dan sedikit di area pinggang. Bahkan Siska yang sesama wanita pun harus mengakui bahwa dia sangat menggoda.


"Dua hari dari sekarang. Aku berharap Ibu Selir akan dapat hadir!" Candra menjawab tanpa terlihat senang maupun sedih. Seperti orang yang tidak merasakan apapun dan memang begitulah perasaannya saat ini.


Candra tidak meresa senang maupun sedih akan pertunangannya ini. Dia merasa hanya akan ada tambahan orang yang tinggal bersamanya, tinggal bersama tidak selalu harus saling menyayangi, layaknya Keluarga. Candra bahkan merasa sedikit ambigu dan hanya tahu definisi kasarnya saja dari arti keluarga itu sebenarnya. Bila tidak ada Pamannya, Anna, dan Ibu Selir, Candra pasti akan benar-benar buta akan konsep Keluarga.


"Pasti, kondisiku juga sudah membaik sekarang," ujar Ibu Selir dengan senang hati.


"Namamu Siska bukan? Kau dapat memanggilku Ibu mulai sekarang, oh ... ya, ngomong-ngomong kau gadis yang sangat Cantik." Ibu Selir menampilkan senyum tulus, tapi penuh arti saat memuji Siska.


"Salam Ibu Selir! Kau terlalu memujiku, di depanmu aku tidak lebih dari anak kecil." Siska merasa bahwa wanita di hadapannya ini mempunyai aura memikat. Tubuhnya yang sangat berisi, tapi di area yang tepat menjadikan dia sangat feminim.


Tanpa disadari mereka sekarang sudah berada di kediaman Ibu Selir, tepatnya di ruang tamu. Hanya ada mereka bertiga di ruangan itu dikarena Anna sekarang sedang menunggu di Halaman depan. Kediaman Selir pastinya cukup besar untuk menampung ratusan orang. Bagaimanapun setatusnya cukup berpengaruh di Nataprawira, bahkan di atas para Bangsawan, meskipun hanya dalam artian nama saja.


"Baiklah, kita bahas itu lain kali. Sampaikan maafku pada Raja dan Ratu karena tidak sempat menyambut mereka," kata Ibu Selir sedikit merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Aku berdoa supaya Ibu Selir lekas sembuh." Siska tahu bahwa Ibu Selir mengalami demam beberapa hari terakhir. Hari ini pun dia bisa bertemu dengannya dikarenakan kondisi Ibu Selir sudah membaik.


"Kau gadis yang baik!" Ibu Selir melirik Candra sebelum melihat ke arah Siska dengan senyuman di raut wajahnya. Siska merasa bingung akan perkataan Ibu Selir barusan apa itu Pujian atau hanya kata-kata sopan belaka? Siska tidak dapat memahaminya. Awalnya Siska mengira bahwa Ibu Selir ini adalah sosok wanita baik hati dan hanya itu saja, tapi sepertinya sekarang dia harus merevisi pemikiran naifnya itu. Setelah bertemu dengannya secara langsung, Siska dapat merasakan aura dewasa yang bukan hanya sekedar aura menggoda, tapi terdapat aura penguasa dan superioritas. Perilakunya yang percaya diri, kata-kata sopan tanpa celah, gerak tubuh alami yang mengalir seperti air, perasaan nyaman didekatnya membuat Siska sedikit takut.


Bukan dikarena dia orang jahat, tapi Siska tidak merasa waspada sedikit pun saat bersamanya. Ketika kulit tergores oleh pakian sendiri yang tidak akan pernah kita sadari sebelum ia mengeluarkan darah, seperti itulah perasaan nyaman yang Siska rasakan saat ini, dan Siska tidak suka itu, tapi bukan berarti Siska membenci wanita di hadapannya ini, justru ia merasa bahwa Ibu Selir akan menjadi sosok yang mendukungnya di Nataprawira ini, Negeri di mana yang kuat berkuasa.


Senyuman Ibu Selir terlihat murni dan mempesona, tapi Siska dapat melihat sedikit kelicikan di sana. Hanya saja, Siska yakin bahwa orang ini tidak mempunyai niat buruk terhadapnya, bagaimanapun Siska sangat peka terhadap karakter seseorang. Hal ini membuat Siska bertanya-tanya, apakah tidak ada orang normal di Keluarga Kerajaan ini?


"Ibu selir, tolong terimalah, meskipun tidak terlalu berharga, tapi aku berharap Anda akan menyukainya!" Siska menyerahkan kotak yang berisi berbagai perhiasan di dalamnya. Harsana terkenal akan pengrajinnya yang sangat handal. Berbagai barang di sana mempunyai nilai artistik tinggi, meskipun Harsana tertinggal jauh dalam bidang teknologi dari Nataprawira, tapi mereka masih unggul di bidang-bidang yang lain.


"Oh, tentu aku menyukainya. Barang-barang di sana sangat berkualitas, tidak seperti di sini," ucap Ibu Selir sambil tersenyum, nada bicaranya seperti mengejek orang-orang yang tidak kompeten di sekitarnya.


"Baiklah, aku undur diri terlebih dahulu. Semoga Ibu selir selalu diberi kesehatan!" Siska membungkuk memberi hormat kepadanya.


"Bagus gadis kecil, terima kasih atas hadiahnya. Kau bisa memberitahuku bila ada yang menggangumu!" Ibu selir kembali tersenyum sambil melirik Candra yang masih tinggal bersamanya.


***


Setelah meminum teh hitam miliknya, Ibu Selir mengajukan petanyaan kepada Candra dengan nada bercanda, "Bagaimana, bukankah dia Gadis yang sangat cantik?"


"Tentu saja, dia cantik," jawab Candra dengan jujur. Bila wanita sepertinya tidak dikatakan cantik, maka orang-orang akan bingung dalam menentukan definisi cantik yang sesungguhnya.


"Ehhh ... apa kau menyukainya?" Ibu Selir mencoba menggoda Candra, sambil mengamati reaksinya. Jujur saja, dia cukup menyukai gadis itu.


"Menyukai dan mencintai seseorang adalah hal yang berbeda. Meskipun aku bilang menyukainya belum tentu aku kan jatuh cinta kepadanya."


"Hmmm, kau sudah bisa membedakan cinta sedemikian rupa. Bertemu dengan Putri dari Negeri api ternyata sangat bermanfaat, ya." Ibu selir berkata dengan tulus. Jelas sekarang dia merasa sangat senang. Gadis seperti apa yang dapat merubah sikap anaknya ini? Dia berharap agar dapat segera bertemu dengan sosok tersebut.


"Lupakan saja. Apa ada masalah akhir-akhir ini?" Candra segera mengganti topik pembicaraan. Selain merasa malu, dia juga merasakan sakit ketika mengingat kembali kejadian itu.


Melihat bahwa hal ini akan berakhir buruk, Ibu Selir segera memahami maksud Candra. Dia mulai berbicara tanpa merahasiakan apa pun, "Tidak ada masalah besar akhir-akhir ini, tapi kau tetap harus berhati-hati."


"Bagaimana keadaan Paman sekarang?" Candra sudah tidak melihatnya sejak pulang dari medan perang. Tentu, hal ini membuatnya sangat cemas.


"Dia sudah keluar dari penjara, tapi tetap harus mengasingkan diri untuk beberapa waktu. Kau tahu sendiri bahwa Ayahmu adalah orang yang tegas dan keras kepala." Ibu Selir sedikit mengecilkan suaranya. Mungkin dia takut orang lain akan mendengarnya, meskipun jelas-jelas hanya ada mereka berdua sekarang.


"Tegas? Dia hanya orang egois yang tidak peduli kepada siapa pun," ucap Canda. Dia merasa sangat kesal atas perintah yang telah dikeluarkan Dierja, di mana perintahnya itu adalah untuk menghukum Pamannya yang jelas-jelas tidak bersalah.


"Kau akan tahu saat waktunya tiba," ujar Ibu Selir sambil menatap ke kejauhan seperti sedang mengingat masa lalu yang begitu pilu.


"Aku tidak tahu kenapa Ibu selalu saja membelanya, tapi aku tidak akan pernah memaafkan dia."


"Lupakan saja. Sebaiknya kau pergi untuk menemui Lara, dia sangat mengkhawatirkan dirimu. Sudah sangat lama kau tidak mampir ke sanakan."


"Tentu, aku juga berniat untuk menemuinya nanti." Candra segera berdiri, setelah memberi hormat, dia langsung pergi dengan cepat. Saat melewati gerbang, Candra melihat dua orang Pria gemuk keluar dari dalam mobil, mereka mulai berjalan ke arahnya.


"Salam Pangeran! Apa Ibu Selir ada?" Salah satu dari Pria itu bertanya kepada Candra. Candra hanya mengangguk kepadanya. Dia tidak terlalu menyukai mereka. Meskipun mereka adalah Bangsawan, tapi dimata Candra mereka tidak berbeda dengan anjing yang menjilati sepatu orang lain.


Untuk apa mereka ke sini? Apapun itu, Candra tahu bahwa tidak akan ada hal baik ketika mereka datang. Candra menghela nafas, selagi masih ada Dierja, dia yakin tidak ada seorang pun di Kerajaan ini yang berani untuk menyakiti Ibu Selir. Meskipun dimata Candra Dierja merupakn orang yang tidak kompeten, nyatanya ketika menyangkut kekuatan dan kekuasaan Candra harus mengakui bahwa tidak ada orang sebaik dirinya, setidaknya untuk saat ini. Candra hanya bisa tersenyum mengejek diri sendiri akan ketidak mampuannya. Setelah berpisah dari mereka berdua, Candra bergegas pergi untuk menemui satu-satunya teman masa kecil yang ia miliki.